METRO SUMBAR

Keberadaan Benda Peninggalan Sejarah PDRI Tidak Jelas, Bupati Limapuluh Kota Bentuk Tim Cagar Budaya

0
×

Keberadaan Benda Peninggalan Sejarah PDRI Tidak Jelas, Bupati Limapuluh Kota Bentuk Tim Cagar Budaya

Sebarkan artikel ini
DILEPAS— Pelepasan peserta Tour de PDRI mengikuti Etape 6 yang dilepas Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo Nagari Limbanang Kacamatan Suliki, menuju Nagari Koto Tinggi, Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sabtu (18/12).

LIMAPULUHKOTA, METRO–Hari Bela Negara yang diperingati Minggu (19/12), berkaitan dengan peristiwa sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)­ di Kota Bukittinggi dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat (Sum­­bar). Peristiwa tersebut me­ninggalkan berbagai ben­da peninggalan sejarah. Namun sayangnya, peninggalan sejarah tersebut belum diketahui pasti kebera­daannya dan belum masuk dalam daftar cagar budaya yang harus dilindungi. Hal tersebut diakui oleh Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Dt Bandaro Rajo. Menurutnya, ada begitu banyak pening­galan dari peristiwa PDRI. Pasalnya, Syafruddin Prawiranegara yang tersebar tidak hanya di Limapuluh Kota. Tapin juga kabupaten lainnya.

Hal ini dikarenakan sa­at menerima mandat PDRI waktu itu, Safaruddin berjalan mobile dari Kota Bukittinggi ke Halaban, Koto Kaciak, Koto Tinggi bahkan sampai ke Bidar Alam Kabupaten Solok Selatan.  Safaruddin mengakui belum menghitung pasti peninggalan sejarah dari perjalanan Syafruddin Prawiranegara. Yang pasti menurutnya, peninggalan sejarah tersebut ada di Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan (Solsel), Halaban, Koto Kaciak dan Koto Tinggi di Kabupaten Lima­puluh Kota.

Peninggalan sejarah itu ada berupa gedung, rumah dan tugu. “Kendalanya selama ini belum diketahui pasti. Bahkan, belum ada tim pembentukan cagar budaya. Saya juga kaget tim cagar budaya di Lima­puluh Kota belum dibentuk,” terang Safaruddin, saat melepas peserta Tour de PDRI, di Nagari Limbanang Kacamatan Suliki, menuju Nagari Koto Tinggi, Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sab­tu (18/12).    “Untuk menentukan cagar budaya tidak dibentuk pemerintah tapi ada tim yang dibentuk. Tim inilah yang akan menelusuri apa-apa yang dijadikan Cagar Budaya. Ta­hun 2022 nantinya, tim ini akan dibentuk dan mulai bekerja,” ucapnya.

Baca Juga  Usai Pilkada Serentak 2020, Kader PAN Rapatkan Barisan

Selain menelusuri peninggalan sejarah PDRI, Pemkab Limapuluh Kota menurutnya, juga akan menanamkan nilai-nilai sejarah ini kepada generasi muda di Kabupaten Lima­puluh Kota mulai tingkat SD nantinya. Termasuk juga ikut mendukung Pemprov Sumbar dan pemerintah menuntaskan pembangu­nan Monumen dan Museum PDRI yang saat ini masih terbengkalai.

Terpisah, Syafri (57), keturunan dari salah seorang Veteran PDRI, Sanusi mengungkapkan, peninggalan sejarah PDRI yang tidak diketahui kebera­daan­nya memang cukup banyak. Seperti di Mudiak Dadok, Koto Tinggi. Saat tahun 1986 silam, M Yakub Lubis, tokoh pelaku sejarah PDRI di Mudiak Dadok itu tidak menemukan lagi kursi tempat duduknya saat kembali ke Mudiak Dadok. Bahkan, M Yakub Luibis marah saat mengetahui kursinya tidak ditemukan.

Selain itu, sender pemancar yang menginformasikan peristiwa PDRI ke dunia, setelah penyerahan mandat PDRI dari Safruddin Prawiranegara kepada Soe­karno Hatta yang berada di Koto Tinggi juga tidak jelas keberadaannya, setelah ditinggal begitu saja.  Padahal, M Yakub Lubis, seorang pelaku sejarah yang ikut mengangkat sen­der pemancar yang beratnya 3 ton itu bersama ratusan pejuang lain­nya, agar tidak diketahui Belanda yang mengintai dari pesawat tempur dan darat waktu itu.

Baca Juga  Tingkatkan Ekonomi dengan Bintek Kube 2019

Tour de PDRI merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Bela Negara, Minggu (19/12). Tour yang diikuti komunitas pesepeda, unsur TNI dan Polri ini telah berlangsung selama enam hari yang dimulai dari Gedung Joeang 45 Kota Pa­dang, Kabupaten Solsel, Dharmasraya, Sijunjung, Tanah Datar, Bukittinggi dan berakhir di Koto Tinggi Ka­bupaten Limapuluh Kota.

Selain Tour de Singkarak, juga ada kegiatan Napak Tilas dari Bonjol Kabupaten Pasaman menuju Koto Tinggi Kabupaten Li­ma­­puluh Kota yang me­nem­puh perjalanan sekitar 20 kilometer. Pada Sabtu malam juga dilaksanakan pertunjukan budaya dan kesenian Kabupaten Lima­pu­luh Kota. Seperti, per­mai­nan anak nagari, pertunjukan seni dan malam bagurau.

Juga ada kegiatan Sosialisasi Kesadaran Bela Negara, yang dihadiri oleh Gubernur Sumbar, Mah­yeldi Ansharullah, Dirjend Pothan Kementerian Pertahanan (Kemenhan), May­­­jend TNI Dadang Hen­dra­yudha, di GOR M Ya­min, Kota Payakumbuh. Peringatan puncak Hari Bela Negara ditandai dengan upacara di Museum PDRI di Koto Tinggi, yang dihadiri Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, Dir­jend Pothan Kemenhan, Mayjen TNI Dadanf Hendrayudha, Forkopimda, bupati dan wali kota, OPD Pemprov Sumbar, OPD Pem­­kab Limapuluh Kota, ko­­munitas sepeda, tim napak tilas dan tokoh masya­ra­kat, veteran PDRI dan un­dangan lainnya.(fan)