PARIWARA

Dr Emeraldy Chatra, M.I.Kom (Akademisi), Tradisi Bacarito Membentuk Karakter Masyarakat Minangkabau

2
×

Dr Emeraldy Chatra, M.I.Kom (Akademisi), Tradisi Bacarito Membentuk Karakter Masyarakat Minangkabau

Sebarkan artikel ini
Dr Emeraldy Chatra, M.I.Kom (Akademisi).

Tradisi bacarito (ber­cerita) dapat ditemukan dalam kegiatan, bakaba dan maota. Bakaba, yakni bercerita satu arah, pakai musik, formal, mem­butuhkan keahlian khusus. Oleh karena itu tradisi ini akan hilang sejalan dengan berkurangnya orang yang ahli da­lam bakaba.

Sementara, maota, ber­cerita dua arah/dialogis/interaktif, tidak pakai musik, informal, tidak mem­butuhkan keahlian khu­sus. Maota itu ibarat menanam biji pepohonan. Pesan yang diucapkan dalam matoa ibarat biji itu sendiri. Ada yang tumbuh ada yang tidak.

Yang tumbuh ada yang bisa besar, ada yang mati muda. Kualitas biji (maota dan ota) menentukan ha­sil­nya di kemudian hari. Kalau bijinya baik, orang yang aktif maota akan jadi komunikator ulung di segala bidang.

Dunia ini sebenarnya diatur oleh tukang ota da­lam arti se­be­nar­­nya (pia­wai dalam komunikasi persuasif yang da­pat mengu­bah dan mengendalikan pi­ki­ran orang lain­/warga dunia). Di dunia Ba­rat maota itu kegiatan yang rutin ko­mu­­nitas sampai sekarang.

Baca Juga  Ketua DPRD Pimpin Sidang Paripurna HJK Solok ke-53, Kota Solok Tunjukkan Kemajuan di Segala Bidang

Kemampuan berkomunikasi juga di­bangun dan ditingkatkan me­lalui berbagai pelatihan. Tapi mereka menciptakan peralatan yang mem­buat masyarakat se­perti kita mengalami kritis maota.

Ada beberapa jenis maota. Yakni, maota lapeh, dengan to­pik tidak fokus, dengan atau tan­pa kopi dan teh. Maota kariang, yakni dengan waktu sing­kat, tanpa kopi dan the. Maota lamak, yakni de­ngan waktu panjang dan fokus, dengan kopi dan the.

Juga ada beberapa jenis ota. Yakni, ota nan sa­bana ota, yang mendekati diskusi serius.Ota ruok-ruok, yakni ota yang diselingi canda, gunjing, dan asal-asalan. Ota ga­dang, yakni ota yang banyak me­ngan­dung unsur fantasi, orangnya disebut gadang ota.

Baca Juga  "The Power of Hijrah" Mati Tidak Menunggu Tobatmu

Sementara fungsi mao­­ta, sebagai pengawasan lingkungan, penyebaran informasi pewa­ri­san nilai-nilai dan kearifan lokal. Fungsi berikutnya, latihan berkomunikasi secara benar, membentuk karakter sebagai komunikator yang beretika dan cerdas dan taktis. Kemudian juga ada fungsi silaturahmi.

Kritis maota saat ini terjadi disebabkan karena beberapa faktor. Yakni, kehadiran televisi dan internet. Lapau jadi tempat bermain koa dan domino.

Terjadinya Gap antar generasi (generation gap syndrome). Penyebab lain­nya, stigma/penilaian buruk terhadap maota, tokoh masyarakat enggan maota di lapau. Terakhir juga disebabkan karena ketakutan.

Mengembalikan fungsi maota dapat dilakukan dengan mengevaluasi ke­le­mahan maota, menghi­dupkan kembali tradisi maota, membuat tempat khusus dan mengajak ge­nerasi muda.(**)