PARIWARA

Yus Dt Parpatiah (Tokoh Adat), Pertahankan Seni Pasambahan Agar Tidak Punah

1
×

Yus Dt Parpatiah (Tokoh Adat), Pertahankan Seni Pasambahan Agar Tidak Punah

Sebarkan artikel ini
Yus Dt Parpatiah (Tokoh Adat).

Di era modoren ini, banyak tradisi kebu­da­yaan yang mulai tergerus perkembangan zaman. Padahal tatanan itu me­muat kearifan lokal. Ge­nerasi muda mulai lupa, bahkan mulai larut dengan budaya asing.

Tidak dipungkiri, kon­disi ini telah terjadi di Ra­nah Minang. Ada sejum­lah tradisi kebudayaan yang mulai dilupakan. Pelestarinya kini malah hanya generasi uzur.

Salah satu budaya yang mulai jarang ditemui terutama di perkotaan di Ranah Minang adalah, tradisi pasambahan atau panitahan. Seni tradisi ini jangan sampai punah.

Pidato pasambahan adalah semacam komunikasi tradisional Minang antara dua pihak yang menjadi juru bicara yang mewakili tamu dalam alek dan mewakili tuan rumah (pangka).

Pidato merupakan se­ni berkomunikasi, berdialog antara dua pihak yang mewa­kili kubu ma­sing-masing. Karena itu ada­lah seni, maka di da­lam­nya terajut pemahaman tentang istilah adat  yang terhimpun dalam di­alog.

Baca Juga  Turun Peringkat jadi Menuju Informatif, KI Provinsi Jabar Kritisi Instrument Penilaian Monev Badan Publik  

Pasamba­han atau pa­nitahan menjadi sebuah cara untuk saling menghormati.

Manitah layaknya dari rajo kepada rakyat, sementara sambah adalah dari hamba kepada raja. Jadi dalam dialog itu ada rasa saling menghormati seolah-olah lawan bicara adalah raja dan diri sendiri adalah rakyat, demikian yang terjadi ber­gantian an­tara juru bicara tamu dan tuan rumah.

Akan tetapi dalam dialog itu kadang ditemui terjadi “ajuak ma ajuak”, pantun ma mantun. Bah­­kan seakan akan ada se­­macam ber­debat. Pa­da­hal tidak ka­rena ni­lai yang diba­wakan dalam pasambahan adalah rasa saling menghormati dan menghargai.

Baca Juga  Rapat Paripurna DPRD Kota Padang, Wali Kota Padang Sampaikan 3 Ranperda

Mempersilahkan makan itu dengan sopan santun (pasambahan). Tamu pun tidak langsung makan, harus mufakat dahulu antara sesamanya. Kalau sepakat maka diterima, tetapi dengan basa basi, juga mengajak tuan rumah makan serta.

Sekarang makan bajamba mulai kurang bahkan tidak ada. Sudah prasmanan. Tidak ada ruang untuk pa­sambahan karena pa­sam­­bahan itu dilakukan di­h­adapan jamba, hi­dangan sepanjang rumah antara tuan rumah dan tamu.

Kini berbagai kebudayaan itu sudah mulai jarang. Bahkan ditakutkan punah seiring pesatnya perkembangan zaman. Untuk itu perlu peran bersama agar nilai-nilai budaya tersebut tidak benar-benar punah tergerus, dibutuhkan upaya bersama untuk menggali, melestarikan dan mengimplementasikan kembali dalam keseharian.(**)