PADANGPARIAMAN, METRO–Bupati Padangpariaman Suhatri Bur kemarin, launching aksi perubahan sekolah siaga kependudukan melalui inovasi asam durian.
Bupati Padangpariaman melalui Asisten Administrasi Umum Fakhriati launching aksi perubahan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) melalui Inovasi Aksi Siaga Kependudukan untuk Remaja Kekinian (Asam Durian).
Kegiatan tersebut digagas oleh Yusra Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Padangpariaman ini, juga dihadiri oleh Bunda GenRe Kabupaten Padangpariaman Yusrita Suhatri Bur, Kepala DPPKB dr. Aspinudin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Anwar, Koordinator Bidang Pengendalian Penduduk (Daduk) BKKBN Provinsi Sumatera Barat Marda Yendri dan anggota Forkopimca Enam Lingkung.
Fakhriati mengatakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki amanah untuk memberikan literasi tentang kependudukan. Agar masyarakat sadar akan pentingnya manfaat yang harus disiapkan dan digunakan, serta permasalahan- permasalahan yang harus dihindari dari dampak kependudukan. Salah satu upayanya adalah melalui Sekolah Siaga Kependudukan.
“Konsep Sekolah Siaga Kependudukan melalui Inovasi Asam Durian ini, adalah materi Kependudukan diintegrasikan dengan mata pelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan, sehingga bukan mata pelajaran baru. Tidak menambah jam pelajaran dan tidak juga mengganggu kegiatan belajar mengajar. Namun, justru mempertajam materi yang dibahas,” ujarnya.
Ia harapkan, program ini mampu menjadi wadah bagi program- program yang digulirkan BKKBN. Seperti PIK-Remaja, GenRe Goes To School, dan lain- lain. Sehingga program ini dapat berjalan berdampingan dan simultan.
Dia menambahkan, sekolah siaga kependudukan yang didukung dengan pojok kependudukan (Population Corner), diharapkan mampu menjadi salah satu sumber dan bacaan belajar peserta didik. Sebagai upaya pembentukan karakter generasi berenacana. Agar Program ini dapat berjalan dengan baik dan sukses, tentu diperlukan sinergitas dari berbagai pihak. Terutama dari guru dan murid yang menjadi subjek utama dalam program ini,” terangnya.
Sementara itu, Yusra Zein selaku reformer peserta PKA angkatan VII Regional Makasar tahun 2021 mengatakan. Kegiatan ini dilaksanakan, karena mengingat banyaknya kasus pernikahan usia muda dan kasus kenakalan usia muda juga meningkat. Oleh karenanya, perlu penanganan khusus dalam meminimalisir kasus tersebut.
“Kami mengajak seluruh generasi muda, agar menyiapkan diri dalam menghadapi era demografi. Karena tantangannya lebih berat, dimana kita harus berpacu dengan teknologi. Yang butuh kecepatan, kecermatan dan kepintaran dalam memanfaatkan teknologi,” tuturnya. (efa)






