BALI, METRO–Puluhan peserta study tiru Dinas Pariwisata (Dispar) Sumbar menyasar ke tempat produksi Yande Batok di Negari, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu (27/11). Rombongan yang terdiri dari kaum hawa tersebut mengaku salut dengan ketekunan belasan karyawan Yande Batok, dengan memanfaatkan semua potensi kelapa.
Study yang dikomandoi Kabid Peng Sumber Daya Pariwisata dan Ekraf Dispar Sumbar Drs A Mulyadi Yanis dan Kasi Peng Sumber Daya Ekraf Ricky Suryadi MPar selain menyasar Ekraf sekaligus desa wisata desa adat di Bali.
Usaha ekonomi kreatif (Ekraf) yang ditekuni Yande di Kabupaten Klungkung ini dimulai sejak tahun 1997, dengan memanfaatkan bahan baku khusus dari kepala. Mulai, dari isinya, airnya, batoknya dan sabutnya, yang diolahnya menjadi barang barang souvenir.
Sejak, negeri ini dilanda wabah virus Covid-19, usaha Yande cukup terpuruk. Sehingga belasan karyawan terpaksa dirumahkan, namun mereka tetap bekerja. Tapi mereka tidak harus datang ke lokasi produksi.
Tapi, belakangan usaha Yande sudah mulai menggeliat kembali. Tapatnya, sejak medio tahun 2021 ini. Bahkan, Yande sejak September 2021 sudah mulai kembali ada permintaan luar, dengan mengirim ke luar negeri Kolumbia.
Di sela sela study tiru tersebut, adakah Beny R mengaku berminat mengembangkan di Kota Padang, karena Kota Padang juga memiliki potensi bahan baku kelapa yang banyak. Namun, selama ini pelaku usaha kerajinan Ekraf ini sering dihadapkan dengan kendala pemasaran.
Selintas Yande Batok
Potensi alam yang melimpah menyulut ide-ide kreatif. Inilah yang memicu berdirinya Yande Batok, yang mengubah batok kelapa menjadi produk-produk Ekraf, yang disukai pembeli luar negeri.
Yande Batok adalah salah satu IKM penghasil kerajinan dan barang-barang seni dari batok kelapa. Didirikan sejak tahun 1997 oleh Gede Suryawan (Yande) bersama adiknya Kadek Darma Sugita. Mereka melihat potensi kelapa yang banyak tumbuh di sekitar desa mereka. “Kami juga ingin menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat”, tutur Ni Luh Gede Juliarti, istri Gede Suryawan sang pemilik IKM. Yande Batok itu sendiri berasal dari nama panggilan sang pendiri, Yande, yang merupakan anak pertama.
Melihat potensi sumber daya alam yang melimpah, akhirnya muncullah ide kreatif mereka membuat beragam barang kerajinan hand made yang semuanya berasal dari bahan baku kelapa. Diawali dengan tangan-tangan terampil sang adik, Kadek Darma Sugita yang seorang seniman dan kemampuan manajemen dan pemasaran sang kakak, akhirnya Yande Batok berhasil sukses memasarkan barang- barang produksi mereka hingga ke mancanegara dan menyerap sekitar 15 orang tenaga kerja.
Sebelum pandemi, karena tingginya permintaan, mereka tidak hanya memperoleh bahan baku dari daerah sekitar saja, tetapi juga sampai ke daerah Dawan, Klungkung. Daerah itu sudah terkenal dengan produksi kelapa Bali yang berkualitas tinggi. “Bahkan para pengepul dari Jawa juga mencari kelapa di daerah itu,” jelas Ni Luh Gede Juliarti. (boy)






