SOLOK/SOLSEL

Benahi Kesehatan, TP-PKK Kabupaten Solok Luncurkan Pos Gizi

0
×

Benahi Kesehatan, TP-PKK Kabupaten Solok Luncurkan Pos Gizi

Sebarkan artikel ini
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Solok, terus berupaya membenahi kesehatan di daerah setempat dengan cara meluncurkan pos gizi kasih ibu di tingkat nagari. Ketua TP-PKK Kabupaten Solok melalui Ketua Pokja 4, Rima Solly Syahrial di Solok, Jumat (26/11)

SOLOK, METRO–Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejah­teraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Solok, terus berupaya membenahi ke­sehatan di daerah setempat dengan cara meluncurkan pos gizi kasih ibu di tingkat nagari.  Ketua TP-PKK Kabupaten Solok me­lalui Ketua Pokja 4, Rima Solly Syahrial di Solok, Jumat (26/11) mengatakan pos gizi merupakan salah satu program intervensi pencegahan dan penurunan stunting pada balita yang perlu diberdayakan di dalam kelompok masya­rakat.

Disebutkan, pada pos gizi kasih ibu akan diberikan berupa contoh makanan yang baik dan bergizi serta di pos itu nantinya juga akan diajarkan ke ibu-ibu untuk menerapkan po­la hidup bersih dan sehat.

”Selain itu, juga diberikan pembelajaran me­nge­nai cara pemberian makanan yang baik bagi bayi dan anak pada ibu balita,” ujar dia saat meluncurkan pos gizi kasih ibu di Nagari Talang.

Untuk itu ia berharap kepada semua lintas sektor dan lintas program yang ada dapat berkolaborasi dalam pemberdayaan pos gizi.

”Peran serta seluruh masyarakat sangat diperlukan guna keberlangsu­ngan keberadaan pos gizi ini, sehingga balita yang bermasalah gizinya dapat diberikan perbaikan gizi di pos gizi,” sebutnya.

Selain itu, Rima menambahkan Kabupaten So­lok telah ditetapkan sebagai salah satu Kabupa­ten Lokus Stunting pada tahun 2019 dari 160 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Ia menyebutkan berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 lalu angka stun­ting balita di kabupaten Solok sebesar 39,6 persen. Artinya, diantara 100 balita terdapat balita stunting sebanyak empat orang.

Stunting merupakan salah satu indikator status gizi pada balita berdasarkan tinggi badan menurut umur. Di mana secara fisik balita stunting tampak lebih pendek dibandingkan dengan balita seusianya.

Stunting yang disebabkan kekurangan gizi dalam jangka panjang atau bersifat kronis yang karena kurangnya asupan makanan yang bergizi sehingga menimbulkan penyakit infeksi dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh faktor kesehatan lingku­ngan.

Selain itu, ia mengatakan stunting dapat dicegah sejak dari dalam kandu­ngan sampai balita berusia dua tahun atau dalam ma­sa 1.000 HPK. Asupan makanan yang bergizi pada masa kehamilan sangat menentukan keadaan bayi yang akan dilahirkan.

Ibu hamil yang ke­ku­rangan gizi semasa hamil akan melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau BBLR. Apabila bayi lahir BBLR dengan panjang badan di bawah 48 centimeter berarti telah lahir satu balita stunting.

Untuk itu stunting perlu dicegah sejak dini, mulai dari masa kehamilan dan bahkan bisa dicegah dari masa remaja atau masa pra nikah. (vko)