METRO PADANG

Stop ! Marahi dan Usir Anak-anak dari Masjid di Kota Padang

0
×

Stop ! Marahi dan Usir Anak-anak dari Masjid di Kota Padang

Sebarkan artikel ini
Fenomena pengurus pengurus masjid yang kerap memarahi anak-anak yang meribut di masjid harus segera disikapi.

KHATIB SULAIMAN, METRO–Fenomena pengurus pengurus mas­jid yang kerap memarahi anak-anak yang meribut di masjid harus segera disikapi. Para pengurus tersebut diha­rapkan mengubah perilaku itu menjadi lebih ramah pada anak. Masjid di Kota Padang harus dikembalikan  lagi fungsi­nya srbagai tempat mendidik anak-anak, bukan malah mengusir.

Kepala Dinas Pem­ber­dayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pe­ngendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang, Editiawarman menye­but­kan, imbauan ini sejalan dengan program Pemko Padang yang bakal men­jadikan masjid sebagai  tempat yang nyaman bagi anak. Apabila seluruh mas­jid di Padang sudah ramah bagi anak, Kota Padang akan paripurna sebagai Kota Layak Anak.

“Kita telah melakukan rapat koordinasi (rakor) dengan Tim Gugus Tugas Kota Layak Anak dalam rangka mewujudkan masjid ramah anak di Padang,” ungkap Kepala DP3AP2KB Kota Padang, Editia­war­man.

Ada puluhan pengurus masjid yang telah diundang untuk ikut berpartisipasi dalam program tersebut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan wawasan pengurus dan ketua re­maja masjid dalam upaya mewujudkan masjid ramah anak di lingkungannya ma­sing-masing. Serta juga menumbuhkan dan me­ningkatkan inovasi dan kreativitas dari semua pe­ngurus dan remaja masjid yang terkait sehingga upa­ya menyosialisasikan ter­ben­tuknya masjid ramah anak semakin banyak.

Dijelaskan, sungguh hal yang sangat disayangkan apabila saat ini masih ba­nyak diantara jamaah atau pengurus masjid yang ti­dak sabar dalam mengha­dapi anak-anak. Alasan­nya, pengurus atau jamaah takut kebiasaan ribut anak-anak mengganggu kekhu­syukan orang yang sedang beribadah di masjid. Se­hingga tidak jarang anak-anak ini dimarahi atau diusir untuk keluar.

Padahal, Islam me­l­a­rang memarahi anak-anak di masjid. Ada banyak dampak buruk yang akan dialami anak ketika orang dewasa melakukan ini. Tidak hanya saat masih kecil saja namun efeknya akan dirasakan hingga mereka telah dewasa

“Selama ini kebera­da­an anak-anak di masjid se­ring dianggap menggang­gu orang-orang yang beri­badah. Harusnya tidak se­per­ti itu. Masjid harus mem­berikan kenyamanan bagi anak-anak,” ujar Edi­tiawarman.

Karena dengan kondisi saat ini, lebih baik anak-anak ra­mai saat di masjid, diban­dingkan di jalan bah­kan di tem­pat-tempat mak­siat. Lam­bat laun, dengan penjelasan dari orang tua, anak akan lebih mengerti bahwa masjid se­bagai tem­pat ibadah, ­bukan tem­pat bermain.

Menurut Editiawarman, masjid selain sebagai tem­pat beribadah dan belajar agama namun juga bisa sebagai sarana berdiskusi tentang berbagai hal. Ter­masuk tempat belajar, se­perti dengan dibangunnya pustaka dan sebagainya.

“Normatifnya, anak-anak bisa beribadah, bela­jar dan bermain di situ, orang dewasanya ramah-ramah. Sehingga anak-anak terlindungi. Jadi se­mua orang, pengurus, guru dan lainnya memberikan perlindungan bukan malah mengancam keselamatan anak,” ucap Editiawarman.

Salah satu wujud pene­rapannya, a da beberapa masjid percontohan nan­tinya bisa menyediakan perpustakaan untuk anak, wifi gratis beserta peman­dunya serta kegiatan po­sitif lainnya. Sehingga anak-anak senang berada di masjid. (tin)