AIAPACAH, METRO–Belum maksimalnya pembelajaran tatap muka di sekolah menuntut pelajar untuk memakai akses internet dan hp untuk belajar. Namun kondisi ini sangat rentan dengan dampak negatifnya yang besar. Para pelajar itu sangat rentan terpapar berita hoaks serta konten pornografi yang merusak mental.
Kepala Diskominfo Padang, Rudy Rinaldy mengatakan masyarakat khususnya pelajar harus terus diedukasi terus agar mampu menggunakan internet untuk yang bermanfaat. Sehingga ketika mereka melihat berita hoaks atau tayangan berbau pornografi di HP, mereka tak terpengaruh.
“Dinas Kominfo Padang hanya mengedukasi warga netizen agar tidak termakan berita hoaks,” ucap Rudy.
Kebijakan belajar dari rumah yang harus dijalani anak-anak membuat mereka mengakses internet/gawai lebih lama. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan masalah pada anak, baik dari sisi kesehatan, maupun sosial. Anak juga rentan terpapar konten pornografi dan terancam menjadi korban eksploitasi di ranah daring.

Disebutkannya, pengguna internet di Padang relatif menggunakan media sosial sebagai wadah untuk berinteraksi dan menyebarkan informasi. Dari sekian banyak pengguna, media sosial tidak saja digunakan untuk hal positif. Akan tetapi juga ada yang menggunakannya untuk hal yang negatif.
“Terutama penyebaran informasi yang belum diketahui kebenarannya, belum diketahui benar atau tidak sudah disebarkan, harusnya diketahui dulu kebenarannya baru kemudian dishare,” sebut Rudy Rinaldy.
Padahal, internet seharusnya digunakan untuk hal yang positif, seperti komunikasi, rekreasi, mencari informasi, referensi, transaksi, dan edukasi. Sebetulnya, dengan digital terbuka lapangan kerja yang dulu tidak ada.
“Khusus untuk anak atau pelajar, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi saat menggunakan internet untuk belajar. Hal ini untuk menghindari risiko anak agar tidak terpapar berita hoaks serta konten pornografi tersebut,” ulas Rudy.
Untuk diketahui, kejahatan seksual online pada anak, Indonesia ternyata pengakses pornografi Nomor 2 di dunia. Ini sangat memprihatinkan. Terjadi ledakan kasus seksual online. Dari unit cyber Polda, banyak membongkar kejahatan seksual online pada anak-anak. Di Jakarta juga banyak korban yang jatuh, menjadi pelacur. Modusnya, melalui media sosial.
Eksploitasi seksual pada anak secara online adalah masalah global yang berkembang dengan cepat, membutuhkan respon yang komprehensif. Pelaku dan modus operandinya termotivasi, ketertarikan seksual mereka pada anak-anak atau keuntungan sosial, pelaku bisa bekerja sendiri. Dalam cerita tadi, seorang anak dibantu oleh mucikari yang mencarikan order melalui media online. Pelaku menggunakan platoform online yang lebih tersembunyi agar tidak terdeteksi. (tin)






