SOLOK, METRO–Perbaikan gizi masyarakat lebih diprioritaskan guna percepatan mengatasi kasus stunting di Kota Solok. Untuk mencapai target penurunan prevalensi stunting, Pemko Solok mengacu pada Indikator Kinerja Program (IKP) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) yang dipersiapkan.
Menurut Wakil Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra, untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan kegiatan perbaikan gizi masyarakat. Diharapkan dinas terkait terus melakukan kegitan memonitor dan mengevaluasi secara berkala melalui surveilans gizi. Termasuk meliputi indikator masalah gizi dan indikator kinerja program gizi.
Untuk kasus stunting Pemerintah Kota Solok menargetkan penurunan angka stunting menjadi 14 persen dan kekurangan gizi akut (wasting) menjadi 7 persen. Angka itu merupakan target nasional untuk tahun 2024 mendatang.
Terkait upaya perbaikan gizi masyarakat juga disebutkan dalam undang-undang tentang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat. Langkah ini melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi serta kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu teknologi.
Ia mengharapkan komitmen dan kerjasama antar OPD, baik sektor kesehatan maupun nonkesehatan, serta swasta dalam pembangunan pangan dan gizi. “Perlu langkah-langkah yang cepat dan tepat dalam upaya penurunan jumlah penderita stunting di Kota Solok,” tambah Ramadhani.
Dikatakan, saat ini ada lima strategi yang harus dicapai oleh masyarakat pertama, yakni meningkatkan kesehatan ibu, anak, KB dan kesehatan reproduksi. Kemudian, percepatan perbaikan gizi masyarakat, meningkatkan pengendalian penyakit. Lalu, pemberdayaan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), serta penguatan sistem kesehatan pengawasan obat dan makanan. (vko)






