Upaya membangun budaya literasi di tingkat pelajar Kota Padanganjang, Bunda Literasi Kota Padangpanjang, dr. Dian Puspita Fadly Amran Sp JP memberikan pembekalan melalui podcast di studio Spenfive TV milik SMPN 5, Rabu (13/10). Dikatakan Dian, literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis. Literasi saat ini telah menjadi isu hangat yang selalu diperbincangkan. Mulai dari yang bergelut dalam bidang literasi, sampai yang secara konsep kurang paham literasi. Keyakinan bahwa masa depan bangsa dititipkan lewat kemampuan literasi anak negeri, membuat dunia pendidikan berkomitmen mengembangkan kegiatan literasi.
Dian menjelaskan, dalam perkembangannya, definisi literasi berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, saat ini istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas.
Dikatakan Dian, saat ini pemerintah sudah menerapkan gerakan literasi dalam proses pembelajaran di sekolah. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dikembangkan berdasarkan Permendikbud No.21/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
GLS, katanya lagi, bertujuan untuk membiasakan siswa untuk membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Dalam jangka panjang, diharapkan dapat menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan literasi tinggi. Yaitu mampu mengakses, memahami, dan menggunakan informasi dengan cerdas.
“Kegiatan literasi memang merujuk pada kemampuan dasar seseorang dalam membaca dan menulis. Sehingga saat ini, berbagai strategi tengah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Salah satunya GLS untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis,” katanya.
Dengan demikian, terangnya lagi, diharapkan kegiatan literasi tidak hanya dalam aktivitas belajar mengajar di kelas saja. Namun, juga terlihat di perpustakaan, di setiap pojok baca kelas, dan di lingkungan sekolah.
Ditambahkan Dian, literasi juga memiliki beberapa jenis, salah satunya literasi teknologi dan literasi visual. Literasi digital, menuntut siswa untuk mengerti cara menggunakan internet serta memahami etika dalam menggunakan teknologi. Sedangkan literasi visual hadir dari pemikiran bahwa gambar bisa dibaca.
Dian mengungkapkan, literasi visual merupakan kegiatan yang lebih menarik untuk dikedepankan selain mengejar kemampuan literasi dasar. Karena dengan memulai literasi visual terlebih dahulu, diharapkan siswa mampu membaca sekecil apapun yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan literasi visual, siswa juga dilatih untuk menanggapi gambar, video, atau tulisan pendek dengan cermat.
“Seluruh komponen literasi sudah begitu luar biasa sebagai penyokong penumbuhan budaya karakter di sekolah. Dengan berbagai kegiatan positif dalam berliterasi, tidak hanya sekadar membaca atau membiasakan baca tulis saja. Mari membekali anak dengan kemampuan berliterasi,” ajaknya. (rmd)






