BALAIBARU, METRO–Sejak cuaca ekstrem beberapa waktu belakangan menyebabkan sejumlah pohon pelindung di Kota Padang tumbang. Pengamat Lingkungan dari Univeristas Andalas Padang, Prof Isril Berd mengungkapkan, musibah itu tak hanya disebabkan karena angin kencang, tapi juga jenis tanaman pelindung yang ditanam pemerintah kota di berbagai titik Kota Padang kurang tepat.
“Pohon pelindung yang ada sekarang sebagian besar adalah berjenis akasia. Jadi rentan tumbang,” ungkap Isril Berd, Jumat (20/8).
Fenomena ini, menurutnya perlu diwaspadai oleh masyarakat, terutama yang lewat atau berada di lingkungan yang banyak pohon pelindungnya. Apalagi pada saat cuaca sedang ekstrem dan disertai angin kencang, bisa mengundang bahaya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Mairizon, saat ini pihaknya tak lagi menanam pohon akasia dan mahoni. Karena pohonnya terlalu besar dan rimbun. Penggantian dilakukan dengan cara penyisipan pada pohon-pohon yang tumbang dengan tanaman jenis tabebuya.
Kelebihan tanaman tabebuya ini menurut Mairizon adalah batangnya tidak terlalu tinggi. Selain itu akarnya juga tidak merusak trotoar. Ia juga membetikan kesan indah karena berbunga putih dan ungu. “Semua penyisipan kita lakukan dengan tabebuya. Jadi kita jadikan satu jenis saja,” kata Mairizon.
Namun semua itu menurutnya butuh waktu panjang. Karena jumlah pohon pelindung yang ada sangat banyak. Pengadaan pohon tabebuya itu biasany melalui APBD. Namun ada juga dari masyarakat yang dikenai sanksi karena menebang pohon pelindung yang telah ada.
“Jadi ada masyarakat yang kita izinkan menebang pohon pelindung apabila memang membahayakan aset mereka. Namun mereka kita kenai kewajiban mengganti kembali dengan pohon tabebuya. Jumlahnya untuk satu batang pohon berdiameter maksimal 40 cm yang ditebang dikenai sanksi untuk menyumbangkan tabebuya sebanyak 20 batang,” ujar Mairizon. (tin)






