Laga duo raksasa Eropa akan tersaji di babak semifinal Euro 2020. Timnas Italia akan berhadapan dengan Timnas Spanyol, Rabu (7/7) dinihari 02:00 WIB. Pertandingan ini akan digelar di Wembley Stadium, London. Pemenangnya akan melawan Inggris atau Denmark di final.
Dalam laga nanti kemungkinan akan tersaji permainan: Tikitalia bakal Beradu Tiki-taka Matador. Tiki-taka ala kedua tim akan beradu akting.
Pasalnya, permainan memukau Italia di Euro 2020 digerakkan oleh pemain-pemain bertubuh pendek. Para ‘kurcaci” Italia siap kembali menantang raksasa.
Italia tampil memesona di Piala Eropa 2020 via permainan menyerang berbasis operan-operan pendek.
Sekilas, gaya Italia mirip dengan filosofi tiki-taka yang mengantar Spanyol menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012.
Sejumlah media Italia pun melabeli paradigma bermain anak asuh Roberto Mancini dengan sebutan tikitalia alias tiki-taka ala Italia.
Layaknya Spanyol di masa silam yang bertumpu kepada pemain lincah bertubuh kecil semodel Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan David Villa, Italia kini juga menyandarkan asa ke pundak barisan “kurcaci”.
Marco Verratti (165 cm), Nicolo Barella (172 cm), dan Lorenzo Insigne (163 cm) menjadi elemen kunci dari mesin tikitalia Gli Azzurri.
“Mancini mengikuti jalan yang mengantar Spanyol memenangi segalanya dan mereka sekarang lebih besar dari kita,” tulis jurnalis senior Italia, Luigi Garlando, dalam kolomnya di La Gazzetta dello Sport.
Besar yang dimaksud Luigi Garlando adalah soal postur badan. Rata-rata tinggi badan starter Spanyol yang menghadapi Swiss pada perempat final Euro 2020 adalah 182 cm.
Sementara, rata-rata postur tubuh penghuni sebelas awal Italia saat bersua Belgia di perempat final memang lebih pendek, yakni 180,6 cm.
Saat mentas di babak 8 besar Euro 2020 alias perempat final, Italia seperti menantang raksasa lantaran Belgia dijejali oleh pemain-pemain bertubuh besar di setiap lini.
Lini belakang Belgia digalang oleh trio menjulang, Toby Alderweireld (187 cm), Thomas Vermaelen (183 cm), dan Jan Vertonghen (189 cm).
Di tengah, mereka punya Axel Witsel yang berpostur 188 cm. Romelu Lukaku (191 cm) ibarat menara kokoh di sektor ofensif Belgia.
Namun, kurcaci Azzurri bisa bersinar di tengah kepungan raksasa. Verratti menjadi kreator dari gol pembuka kemenangan Italia yang dicetak Nicolo Barella.
Gol sepakan lengkung cantik Insigne pada akhirnya krusial dalam mengantar Italia menang 2-1 atas Belgia di perempat final Euro 2020.
Kesuksesan di perempat final menggambarkan bahwa postur tubuh kecil tak jadi faktor penghambat bagi Italia.
Marca menyorot kemampuan Marco Verratti mengkreasi peluang saat jumpa Belgia tiga hari lalu. Soal penciptaan kans mencetak gol, gelandang Paris Saint-Germain itu merupakan salah satu yang terunggul di Euro 2020.
Verratti tercatat telah menciptakan 12 peluang mencetak gol untuk koleganya. Jumlah itu hanya kalah dari pemain kreatif Belgia, Kevin De Bruyne (13 kreasi peluang).
Makanya, pada pertandingan Italia jumpa Spanyol nanti juga akan tersaji dan diprediksi “perang lini tengah”.
Di kubu Italia ada trio gelandang yang cukup cerdik menayajikan umpan, adalah Marco Verratti, Nicollo Barella dan Jorginho.
Sementara di tim Matador Spanyol dihuni penyaji-nyaji umpan. Dia adalah trio pemain tengah yang dihuni Busquets, Koke, dan Pedri.
Di perempat final, Italia mengalahkan sesama kandidat juara, yakni Belgia. Gli Azzurri menang 2-1 melalui gol-gol Lorenzo Insigne dan Nicolo Barella. Sebelumnya, pasukan Roberto Mancini harus berjuang hingga extra time untuk menaklukkan Austria 2-1 lewat gol-gol Federico Chiesa dan Matteo Pessina.
Sementara itu, Spanyol sudah dua kali beruntun main hingga extra time untuk menaklukkan lawan-lawannya. Anak-anak asuh Luis Enrique menumbangkan Kroasia 5-3 lewat gol-gol Pablo Sarabia, Cesar Azpilicueta. Ferran Torres, Alvaro Morata, dan Mikel Oyarzabal. Setelah itu, extra time saja tak cukup bagi La Furia Roja untuk menyingkirkan Swiss, dan laga harus berlanjut ke adu penalti, di mana penalti penentu kemenangan dicetak oleh Oyarzabal.
Ini akan menjadi kali keempat secara beruntun Italia dan Spanyol bertemu di fase gugur Piala Eropa. Sebelumnya, mereka berjumpa di perempat final Euro 2008, final Euro 2012, dan babak 16 besar Euro 2016. Spanyol menang adu penalti di 2008 serta menang telak 4-0 di final 2012, dan Italia membalasnya dengan kemenangan 2-0 di edisi 2016.
Italia masih sempurna di Euro 2020, dengan 15 kemenangan dari 15 pertandingan sejak babak kualifikasi. Italia juga tak terkalahkan dalam 32 pertandingan terakhir. Sementara itu, Spanyol punya catatan bagus, yakni selalu tembus sampai final dan keluar sebagai juara setiap kali lolos dari perempat final turnamen ini (Euro 2008, Euro 2012).
Italia dan Spanyol sama-sama didukung catatan statistik yang impresif. Namun, salah satu dari mereka perjalanannya harus berakhir.
Pertemuan Italia vs Spanyol ini bisa juga disebut Big match dua mantan jawara Piala Dunia periode tahun 2000-an akan tersaji nanti.
Seperti diketahui, Italia merupakan jawara Piala Dunia tahun 2006.
Pada tahun tersebut, Piala Dunia dihelat di negara Jerman.
Sedangkan Spanyol berhasil menjadi jawara Piala Dunia tahun 2010.
Di tahun tersebut, Piala Dunia 2010 diselenggarakan di Afrika Selatan.
Tidak hanya itu, Spanyol juga sempat meraih juara Piala Eropa secara berturut-turut, yakni EURO 2008 dan EURO 2012.
Akankah duel mereka selesai dalam 2×45 menit?
Siapakah yang akan kembali ke Wembley untuk menghadapi Inggris atau Denmark di final nanti?
Penyerang Spanyol Mikel Oyarzabal mengatakan bahwa timnya bisa mengalahkan siapa pun, termasuk Italia, jika bisa percaya dan bermain seperti biasanya.
Sebelumnya, Tim Matador, julukan Spanyol, berhasil menembus semifinal Euro 2020 setelah menyingkirkan Swiss dalam drama adu penalti. Kini, mereka pun bersiap untuk menghadapi lawan berat lainnya, yakni Italia.
Menjelang laga, Mikel Oyarzabal pada konferensi pers mengatakan Spanyol harus memercayai ide sendiri tentang sepak bola.
“Jika bermain seperti yang kami tahu, kami bisa mengalahkan siapa pun,” kata Oyarzabal, dikutip dari Football Italia.
“Kami hanya harus mempercayai ide kami tentang sepak bola,” ucapnya.
Keberadaan Roberto Mancini di kursi kepelatihan timnas Italia tentu jadi perbincangan. Bagaimana dia bisa mengubah Gli Azzuri menjadi kuat?
Mancini telah mengubah mentalitas pemain Italia. Sejak dipoles Mancini, skuad Italaia sekarang lebih dikenal permainan menyerang nan agresif.
Roberto Mancini dalam wawancara bersama Gazetta dello Sport. “Saya punya mimpi,” kata dia dikutip The Guardian.
“Saya ingin meraih kemenangan sebagai pelatih, suatu kemenangan yang tak pernah saya dapatkan ketika menjadi pemain sepak bola, Piala Dunia,” ucapnya penuh keyakinan.
Di sisi lain, pelatih Spanyol, Luis Enrique, sangat serius dalam menyongsong perjumpaan dengan Italia.
Luis Enrique tak sekadar berswafoto. Sebagai latar belakang pose diri, terdapat dua monitor yang memutar rekaman pertandingan Italia.
Pelatih Spanyol itu pelajari taktik Italia jelang duel semifinal. “Kami bersiap sebaik yang bisa kami lakukan,” tulis Enrique dalam keterangan swafoto unggahannya.
Nah, Tiki-taka mana yang keluar jadi pemenang nanti? Kita tunggu saja laganya. (*/rgr)






