PADANG, METRO–Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) berada di dalam zona merah atau zona risiko penularan tinggi Covid-19 dalam sepekan ke depan. Naiknya status dari zona oranye ke zona merah berdasarkan hasil perhitungan 15 indikator data onset pada minggu ke-69 pandemi Covid-19 di Sumbar oleh Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi.
Juru Bicara Satuan Tugas Penyebaran Covid-19 Sumbar Jasman Rizal mengatakan, Sumbar berada di zona merah bersama Padang Pariaman. Sedangkan zona hijau belum ada di Sumbar. Sumatra Barat berada di zona merah dengan skor 1,79. Menurun dari minggu sebelumnya pada skor 2,05.
“Pada minggu lalu, Sumbar berada di zona oranye namun adanya beberapa indikator kesehatan masyarakat yang menurun menyebabkan zona Sumbar menjadi merah. Penghitungan zonasi provinsi Sumbar berdasarkan 19 kabupaten dan kota di Sumbar. Artinya secara keseluruhan adanya penurunan skor indikator di kabupaten dan kota sehingga berimbas pada provinsi Sumbar,” kata Jasman.
Jasman menerangkan pada minggu ini, satu-satunya Kabupaten Kota yang berada di zona merah adalah Kabupaten Padang Pariaman. Ini adalah kali ketiga Kabupaten Padang Pariaman berada dizona merah. Sementara Kabupaten yang mendekati zona merah adalah Kabupaten Agam yang skornya berada dibawah 1,94, dan tidak ada Kabupaten Kota yang berada di zona Hijau Kondisi zonasi sama dengan minggu ke-69.
“Kecenderungan Positivity Rate (PR) di Sumbar lanjut Jasman meningkat dari minggu sebelumnya. PR mingguan Sumbar pada minggu ini adalah 10,26 persen. Meningkat dari minggu sebelumnya pada angka 10,03 persen. Peningkatan ini justru memperlihatkan kinerja Satgas Kabupaten Kota yang telah melakukan tracking dan tracing dengan baik. Artinya, pola tracing dan tracking Satgas Kabupaten Kota telah berada pada jalur yang benar,” ucap Jasman.
Sampai minggu ke 68, katanya, warga Sumbar yang telah terinfeksi Covid-19 adalah 52.691. Bertambah 2.406 orang dari minggu sebelumnya pada angka 50.285 orang. Ini merupakan rekor tertinggi pertambahan mingguan sejak pandemi covid-19 di Sumbar.
Sementara, recovery rate (tingkat kesembuhan) 90,66%. Angka ini menurun dari minggu sebelumnya pada angka 91,98% atau sembuh sebanyak 47.771 dari 50.285 orang yang terinfeksi covid-19. Angka meninggal dunia akibat Covid-19 1.208 orang (2.29), menurun dari minggu sebelumnya pada angka 2,30% dari 52.691 orang yang terinfeksi.
Sedangkan kasus aktif minggu ini 3.712 orang (7,04%) naik dari minggu sebelumnya. Minggu sebelumnya kasus aktif berada pada angka 2.876. Presentase kasus covid-19 yang dirawat di RS Rujukan (hunian rumah sakit) menurun dari 21,28% ke atau pada angka 663 orang kasus aktif.
Untuk 19 kabupaten/kota yang ada di Sumbar ada satu daerah kategori zona merah, 11 zona oranye dan tujuh zona kuning. Zona merah adalah Kabupaten Padang Pariaman. Ke 11 zona oranye adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Padang Panjang, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kota Bukittinggi, dan Kabupaten Agam.
Tujuh zona kuning yakni Kabupaten Pasaman, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kabupaten Solok Selatan, Kota Solok, dan Kabupaten Sijunjung.
Covid-19 Varian Delta Diduga Telah Menyebar
Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Dr dr Andani Eka Putra menduga, Covid-19 varian delta sudah menyebar di Sumbar. Varian itulah yang berkemungkinan besar yang menyebabkan kasus infeksi Covid-19 melonjak tajam sejak empat hari terakhir di Sumbar.
“Besar dugaan di Sumatera Barat sudah dipenuhi oleh varian delta. Ciri khas varian ini adalah waktu perkembangan yang cepat, inkubasi lebih pendek, 3-4 hari, sehingga jumlah virus sangat tinggi di fase puncak,” mengutip tulisan dr Andani di grup Kawal Covid-19, Sabtu malam, (3/7).
Dijelaskan Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand ini, penyebaran virus ini 6-8 kali lebih cepat dibanding D614G atau (varian Corona) Wuhan. Data ini mungkin sinkron dengan GISAID Indonesia, di mana hingga saat ini lebih dari 90% varian di Indonesia adalah Delta.
“GISAID sendiri adalah singkatan dari Global Initiative on Sharing ALL Influenza Data, merupakan inisiatif kerja sama antara pemerintah Jerman dengan organisasi nirlaba yang bertujuan untuk menyediakan akses terhadap berbagai informasi genetik virus-virus yang menyebabkan epidemi seperti flu. GISAID telah mengumpulkan data Covid-19 dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dugaan kuat Andani soal menyebarnya varian Delta di Sumbar, juga berdasarkan temuannya sendiri yang memeriksa PCR (polymerase chain reaction) pasien Covid-19 di Sumbar. Beberapa hari terakhir dirinya menemukan kasus pasien wafat dengan Covid-19 namun CT (Cycle threshold)-nya di bawah 30.
“Ini tidak biasa, karena umumnya CT value pasien kritis di atas 30 atau bahkan negatif. Jika kita lihat juga CT value awal, rerata di bawah 15, yang menggambarkan proses infeksi yang cepat,” ungkapnya.
Semakin tinggi CT value, berarti viral load atau jumlah virus dalam tubuh pasien tersebut semakin sedikit. Sebaliknya, jika CT value rendah berarti jumlah virusnya banyak. Berdasarkan temuannya itu, dr Andani mengimbau masyarakat untuk saling mengingatkan dan menjaga protokol kesehatan.
“Bapak dan ibu agar lebih waspada, ingatkan keluarga untuk di rumah saja. Jika ada salah satu anggota keluarga yang demam segera lakukan isolasi mandiri dan swab PCR. Klaster keluarga cukup banyak di Padang,” pungkas Andani. (*)






