SAWAHLUNTO, METRO–Fraksi PAN, Golkar dan PDI-P dalam pandangan umum terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Kota Sawahlunto tentang Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan (LPP) Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kota Sawahlunto (APBD) Tahun Anggaran 2020, Jumat (2/7). Dalam sidang paripurna DPRD ini fraksi PAN, Golkar, PDI-P menyoroti beberapa hal yang terkait Belanja Daerah tahun 2020 dan transfer pada awalnya dianggarkan Rp. 607.599.970.457,65 terealisasi sebesar Rp. 544.263.658.204,79 atau 89,58 %. Secara umum berarti anggaran yang tidak bisa dialokasikan sebesar Rp. 63.336.312.252,86 atau sebesar 18,42 %.
Ada beberapa Dinas/OPD yang tidak memaksimalkan anggaran yang tersedia. Untuk Dinas Pendidikan memperoleh anggaran yakni sebesar Rp.118.259.517,00 dengan realisasi sebesar Rp. 110.188.242.814,00. Untuk mencapai tujuan program kerja dalam anggaran tahun 2020 dan merupakan OPD yang memiliki anggaran paling besar, situasi pandemi Covid 19 sangat mempengaruhi cara dan sistim belajar dari anak-anak didik pada saat sekarang. Sehingga perlu langkah dan upaya yang dapat membantu serta mempermudah proses belajar dapat terlaksana dengan baik serta aman.
Dinas Kesehatan mengalami penurunan dalam hal pendapatan pada APBD tahun 2020 dari target sebesar Rp 4.153.738.680,00. Dengan capaian 92,90 persen. Sedangkan dalam realisasi belanja langsung belum terlihat begitu maksimal, hanya terealisasi sebesar 89,85 persen padahal OPD ini memiliki tugas yang cukup besar terutama dalam hal menghentikan penyebaran perkembangan virus Covid 19.
Dinas Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Daerah. Dana yang dialokasikan sebesar Rp17.490.357.050,00 realisasi hanya sebesar Rp. 6.026.892.488, 00 atau 34,46 persen. Ketidakmaksimalan pemanfaatan dana tersebut juga terlihat jelas dari anggaran belanja langsung yang dianggarkan sebesar Rp. 14.770.779.125,00. Terealisir sebesar Rp 3.369.766.494,00 atau 22,81 persen. Padahal sepanjang tahun 2020 terjadi secara global bencana non alam Pandemi Covid 19 termasuk di Kota Sawahlunto idealnya dana yang cukup besar tersebut harusnya dapat termanfaatkan dengan baik dan maksimalkan.
Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dinilai kurang serius dalam membangun, mengelola dan merawat objek wisata yang ada dengan alasan keterbatasan anggaran, musibah, yang baru terjadi di objek wisata baru-baru ini secara tidak langsung adalah dampak dari dinamika tersebut. Termasuk Pengelolaan Taman Satwa Kandi yang diambil alih dari PT.WWS. ide awalnya agar tidak kesulitan dalam pendanaan untuk biaya operasional karena akan teranggarkan tiap tahun pada APBD, ternyata saat ini kondisinya tidak lebih baik dari kondisi sebelumnya, hampir seluruh objek wisata mengalami kondisi tersebut.
Fraksi PAN, Golkar dan PDI-P juga menyinggung pihak Pemko agar menyikapi persoalan musibah terhadap pengunjung objek wisata camping ground baru-baru ini. Kebijakan apa yang dilakukan tentang pertanggungjawaban terhadap korban dimana pihak keluarga masih trauma dan merasa kehilangan.
Termasuk dengan pendirian program studi diluar kampus utama dengan pihak UNP perlu dukungan semua pihak, pihak Pemko harus menyikapi permasalahan dikemudian hari harus ada kejelasan tentang status asset yang akan dibangun melalui APBD Kota Sawahlunto.
Pemanfaat bangunan gedung songket yang ada di Kecamatan Silungkang sudah lama diwacanakan, namun sampai saat sekarang ini kami belum melihat upaya untuk menindaklanjutinya. (pin)






