AIA PACAH, METRO–Di masa pandemi, nasib pengusaha hotel makin abu-abu. Penularan pandemi membuat nasib mereka tak menentu. Karena bisa saja, ada pelarangan liburan atau mengadakan pertemuan di hotel jika Covid-19 makin menjadi-jadi. Akibatnya, tingkat okupansi hotel akibat pandemis menurun drastis.
“Nasib kita tergantung kondisi kasus Covid-19 di tanah air. Kalau menjadi-jadi, secara otomatis okupansi menurun sendiri,” sebut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Sumbar, Yusran Maulana.
Dijelaskan, salah satu sektor usaha yang terdampak cukup berat dengan adanya pandemi Covid-19 adalah bisnis perhotelan. Sebab selama wabah virus corona, orang-orang diimbau untuk tetap tinggal di rumah dan menghindari bepergian atau keluar rumah untuk sesuatu yang tidak mendesak.
Selain itu adanya pembatasan perjalanan, persyaratan ketat untuk menggunakan transportasi umum, hingga terus meningkatnya kasus infeksi membuat banyak orang juga berpikir dua kali untuk bepergian jauh. Mau tidak mau, para pelaku usaha perhotelan harus memutar otak bagaimana caranya agar bisnisnya bisa terus bernapas di tengah pandemi.
Menurut Yusran Maulana, jumlah kamar yang ada di Sumbar adalah sebanyak 6000 kamar. Sementara tingkat okupansi hanya 30 persen saja.
Akibatnya, karena kamar banyak yang kosong, pengusaha hotel menurunkan tarif kamar menjadi lebih murah. Dalam persaingan tak sehat ini, yang paling memiriskan nasibnya, menurut Yusran, adalah hotel bintang 1 dan 2. Karena hotel bintang 3 dan 5 sudah menurunkan tarifnya.
“Yang kasihan kita bintang 1 dan 2. Mereka ternaiaya karena tak ada kunjungan, dan taka da kegiatan dalam jumlah banyak,” tandas Yusran.
Akibat kondisi yang tak menentu ini, sebagian besar pengusaha hotel sudah memberhentikan karyawannya alias PHK. Bahkan yang kontraknya habis, tak diperpanjang lagi. Karena jika tetap dipekerjakan, maka pihak hotel tak sanggup membayar gaji.
“Kita paham sekali, kondisi pengusaha hotel sekarang sangat memiriskan. Tak jelas. Tapi mau bagaimana lagi. Semuanya tergerus karena virus corona ini. Seperti apapun sosialisasi atau mengiklankan, tapi kalau Covid-19 menjadi-jadi, kita tak bisa berbuat apa-apa. Kunjungan hotel tetap sepi,” tandasnya lagi. (tin)





