PASARRAYA, METRO–Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Barlius mengungkapkan bangunan Blok 1, 2, 3 dan 4 Pasar Raya Padang paling aman untuk mitigasi tsunami. Gedung-gedung mendapat nilai tertinggi saat petugas melakukan pengecekan struktur bangunan untuk shelter.
“Yang paling tinggi nilainya adalah gedung-gedung yang baru dibangun di Pasar Raya Padang. Mungkin karena sejak awal dirancang tahan gempa,” sebut Barlius di Media Center Balaikota Aia Pacah, Rabu (16/6).
Ia menjelaskan, dibandingkan bangunan gedung SMA 1 dan sejumlah bangunan SMK yang telah ditetapkan sebagai shelter, bangunan di Pasar Raya Padang lebih bagus. Karena tak butuh lagi perkuatan atau pembenahan. Sementara bangunan lainnya seperti SMA 1 dan sekolah lainnya perlu perkuatan.
Saat ini Kota Padang masih butuh beberapa shelter lagi. BPBD Padang telah mengusulkan ke BNPB pusat untuk membangun dua shelter. Yakni, di Purus dan di Padang Sarai. Namun anggaran tak ada. “Tahun ini tak ada pembangunan shelter. Di pusat juga lagi tak ada anggarannya. Tapi kita akan berupaya terus mendapatkannya,” sebut Barlius.
Sementara, pakar gempa dari Unand, Prof. Badrul Mustafa mengungkapkan, keberadaan shelter sangat dibutuhkan. Pemko Padang menurutnya sudah berusaha maksimal untuk pembangunan shelter.
Selain bangunan, ada alternatif lain yang bisa dibangun. Yakni jembatan penyeberangan yang cukup lebar dengan tinggi beberapa meter. Badrul mencontohkan disepanjang jalan Hangtuah, Veteran, hingga arah Lubuk Buaya. Di sepanjang jalan itu bisa dibangun jembatan penyebrangan yang agak lebar sehingga bisa dimanfaatkan sebagai shelter.
“Kalau disepanjang jalan itu dibangun jembatan penyeberangan, tentu masyarakat yang berada di sekitar lokasi akan bisa menyelamatkan diri di sana,” tandas Badrul Mustafa.
Selama Covid, Simulasi Tsunami Tak Ada
Di sisi lain, ancaman gempa sangat kuat alias raksasa harus tetap diwaspadai. Meski di masa pandemi ini, simulasi tak lagi dilakukan, masyarakat diharapkan selalu waspada dan tetap laksanakan langkah mitigasi stunami yang telah dipraktikkan selama ini.
“Kita akui, selama pandemi, simulasi gempa dan stunami tak lagi ada. Kita tetap berharap masyarakat tidak abai dengan bajaya yang mungkin saja terjadi sebentar lagi, nanti malam, esok hari,” sebut Kalaksa BPBD Kota Padang, Barlius.
Simulasi tak bisa diberikan dengan materi atau hafalan. Tapi harus diterapkan langsung dengan simulasi. “Kita kan dilarang mengumpulkan orang. Tapi langkah mitigasi lain tetap kita laksanakan,” tandas Barlius.
Saat ini, program mitigasi tsunami yang lain masih tetap dilakukan. Seperti program kelurahan cerdas bencana yang sifatnya sosialisasi. BPBD tetap turun ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi yang sama.
Pakar Gempa Unand, Prof. Badrul Mustafa mengungkapkan bencana gempan dan stunami hingga kini maaih tetap mengintai warga Padang. Yang paling terdampak afalah masyarakat yang pada saat kejadian berada di zona merah.
Untuk itu, pemerintah harus lebih dini menerapkan langkah mitigasi. Terutama pra mitigasi. Seperti membangun shelter, memberikan edukasi kepada masyarakat agar tak panik pada saat gempa dan tsunami terjadi. Karena kepanikan bisa menghilangkan 50 persen kemampuan menyelamatkan diri. “Kalau sudah panik, kita tak akan berbuat apa-apa,” katanya.
Menurut penelitian, gempa besar dari segmen Siberut ini bisa terjadi dalam rentang waktu 50 tahun ke depan. Waktunya tak bisa diprediksi. Bisa sebentar lagi, bisa besok atau dini hari. “Karena itu masyarakat harus waspada,” tegasnya. (tin)






