KURANJI, METRO
Sebagai seorang Sarjana Pertanian (SP), Wali Kota Padang Mahyeldi begitu peduli terhadap pengembangan pertanian di daerahnya. Bahkan, ketua Alumni Fakultas Pertanian (AFTA) Unand itu terus mendukung upaya-upaya dalam penerapan teknologi pertanian. Seperti kelompok tani (Keltan) di kawasan Sungai Sapiah, Kecamatan Kuranji, yang sedang mencoba budi daya padi varietas bujang merantau.
Rabu (19/8), Mahyeldi bersama Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syahrial Kamat melakukan panen perdana di lahan uji coba yang dilakukan Keltan Setia Budi pada lahan seluas dua hektare. Untuk panen kali ini, petani bisa mendapatkan total panen hampir 6 ton per hektarenya. Dari biasanya hanya 4-5 hektare saja.
Syahrial Kamat menyebutkan, bibit unggul ini juga disempurnakan dengan cara tanam menggunakan sistem jajar legowo (Jarwo) atau tanam dua – satu. Keunggulannya, bisa lebih tahan terhadap hama wereng, karena cahaya matahari bisa sampai ke rumpun-rumpun akar padi. Juga memudahkan penyiangan atau pembersihan padi juga.
“Varietas bujang marantau sendiri sebenarnya telah tahan juga terhadap wereng. Namun dengan sistem jarwo, bisa meningkatkan banyak rumpun dan memaksimalkan jumlah batang padi. Misal, kalau biasanya yang ditanam cuma 1.000 batang, kini jadi 1.300 batang. Tentunya akan meningkatkan hasil panen juga,” katanya.
Syahrial menambahkan, padi yang ditanam petani di Kota Padang juga akan diupayakan tidak hanya memenuhi kebutuhan pokok pangan saja, dengan menjual gabah atau beras. Tapi juga menghasilkan padi-padi yang akan ditanam, tentunya dengan jenis dan panen yang unggul.
“Harga gabah per kilogramnya Rp5-6 ribu, kalau jadi bibit bisa Rp9-10 ribu. Tentunya akan meningkatkan pendapatan petani. Kami mengharapkan, petani menjadi penangkar benih, meski panen sedikit, tapi harga yang didapat akan lebih banyak,” kata Syahrial.
Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengapresiasi Keltan Setia Budi yang berani menguji coba atau mendemplotkan varietas padi unggulan. Bahkan, dia berharap terus dilakukan perbaikan irigasi untuk meningkatkan kualitas tanam padi. “Kami juga akan membantu petani yang kesulitan pupuk, dan meningkatkan jumlah tanam per tahunnya,” kata Mahyeldi.
Saat ini, sebutnya, petani di Kota Padang rata-rata hanya mengolah sawah untuk 2 atau 2,5 kali panen padi. Padahal, bisa terus ditingkatkan menjadi 3 kali masa panen. “Kalau dihitung tumbuh padi itu 110 hari, maka tiga kali panen memakai waktu 330 hari. Masih ada waktu sekitar 35 hari untuk memaksimalkan persiapan, penanaman, sampai panen,” kata Mahyeldi.
Mahyeldi juga akan terus mencoba mendapatkan bantuan alat-alat pertanian dari pusat melalui Kementerian Pertanian atau lembaga lainnya. “Kami akan upayakah ada hand traktor di tiap-tiap kelurahan yang bisa membuat penanaman padi serentak dan juga lebih cepat. Agar target tiga kali panen setahun tercapai,” katanya.
Di hari yang sama, Mahyeldi juga menyerahkan bantuan uang tunai kepada peternak yang memiliki sapi bunting atau hamil masing-masing Rp500 ribu. Sebanyak 201 petani mendapatkan bantuan yang merupakan stimulus untuk meningkatkan jumlah kelahiran sapi di Kota Padang. “Semoga tahun-tahun berikutnya, sapi-sapi yang dihasilkan di Kota Padang semakin meningkat,” katanya. (r)





