SOLOK, METRO
Tingkat pengangguran di daerah Kabupaten Solok tercatat sekitar 5,92 persen. Persoalan angkatan kerja dan pengangguran masih menjadi permasalahan utama yang dialami Pemkab Solok saat ini. Dan lowongan kerja yang ada di Kabupaten Solok tidak berbanding lurus dengan jumlah pengangguran yang ada.
Berbagai upaya telah dilakukan, dengan mengadakan beberapa kali Job fair pada tahun 2019. Untuk diketahui, selama tahun 2019 lalu sudah menggelar Tiga kali Job Fair, dengan menyediakan 700 lowongan pekerjaan dari 24 perusahaan.
Namun, banyaknya pencari kerja tidak sebanding dengan lowongan kerja yang ada di Kabupaten Solok. Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Penanaman Modal, Pelayanan terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) Kabupaten Solok, pada tahun 2019 ada sebanyak 2.660 penerbitan kartu pencari kerja, meningkat dari tahun 2018 yang berada diangka 1.902 penerbitan.
Hal ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah lulusan SMA, D.III dan sarjana yang merupakan angkatan kerja. Jumlah pencari kerja lulusan sarjana tahun 2019 mencapai 1.159 oran, lulusan DIII 452 orang, lulusan SMA 1021 orang. Ketiganya meningkat tajam dibandingkan tahun 2018 dimana lulusan Sarjana hanya 632 orang, DIII 281 orang dan SMA/K 821 orang.
Menurut DPMPTSP-Naker Kabupaten Solok, Kennedy Hamzah, tingginya tingkat pertumbuhan lulusan pendidikan tinggi, merupakan sebuah keuntungan besar bagi daerah, tapi disisi lain juga menambah daftar pengangguran di Kabupaten Solok, namun biasanya juga dibarengi penghapusan status pencari kerja, karena sudah ada pencari kerja yang mendapatkan pekerjaan. Tahun 2017 ada sebanyak 1736 pencari kerja yang dihapuskan, 2018 sebanyak 485 orang, dan pada 2019 sebanyak 441 orang.
Secara total, tahun 2019 untuk umur 15 tahun keatas, dikelompokkan menjadi dua, yakni kelompok angkatan kerja dan kelompok bukan angkatan kerja, angkatan kerja berjumlah 174.627 orang dengan rincian 164.281 orang bekerja dan 10.346 orang pengangguran.
Meskipun demikian, pihaknya menyebut salah satu solusinya dengan mengajak masyarakat untuk mendirikan usaha kecil mikro dan usaha kreatif. Pemkab Solok juga telah melakukan pembekalan terhadap ratusan angkatan kerja untuk pembekalan skill agar bisa membuka lowongan kerja sendiri, melalui pelatihan berbasis kompetensi (PBK), untuk membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan keterampilan tenaga kerja usia produktif sehingga memiliki daya saing.
Tahun 2019, program PBK juga sudah dilakukan dengan pelatihan yang diberikan diantaranya kejuruan mekanik junior sepeda motor, teknisi audio video, staff administrasi perkantoran, operator basic office, operator menjahit pakaian dasar.
Peningkatan daya saing adalah sasaran utamanya, karena dengan berbagai macam pengaruh baik perkembangan teknologi dan kemajuan pengetahuan lainnya, setiap pelaku usaha dituntut mempunyai nilai lebih agar mampu bersaing. Hingga 2019, ada sebanyak 13.366 UMKM dengan menyerap 24. 481 tenaga kerja.
Sementara itu, Bupati Solok, Gusmal mengatakan, seiring dengan banyaknya pencari kerja, menurutnya lulusan SMA atau SMK masih banyak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sehingga menambah angka pengangguran. Di sisi lain, kompetensi yang dimiliki banyak yang belum sesuai yang dibutuhkan perusahaan. “para pencaker harus yakin dengan kompetensi yang dimiliki, dan berusaha sebaik mungkin memenuhi standar perekrut kerja agar dapat mudah beradaptasi, selain itu perlu menekankan pada diri sendiri bahwa menciptakan lapangan kerja jauh lebih baik daripada mencari kerja,” jelas Gusmal. (vko)





