METRO SUMBAR

41 Persen Sekolah di Limapuluh Kota Tidak Terjangkau Internet

0
×

41 Persen Sekolah di Limapuluh Kota Tidak Terjangkau Internet

Sebarkan artikel ini

LIMAPULUH KOTA, METRO
Sekolah Jarak Jauh (SJJ) dengan sistim Daring (Dalam Jaringan) di Kabupaten Limapuluh Kota, bakal berlanjut pada tahun ajaran baru Senin 13 Juli 2020. Namun, tidak semua sekolah di Kabupaten Limapuluh Kota bisa terjangkau jaringan internet.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota, Indrawati mengakui, ada 41 persen sekolah tidak bisa melakukan pelajaran dengan sistem daring, karena tidak bisa terjangkau jaringan. Untuk sekolah kelompok ini, Indrawati menyebut, akan melaksanakan sekolah luar jaringan dengan menyiapkan modul bahan ajar yang efektif dan efisien bisa dikerjakan siswa di rumah dalam pantauan guru dan orangtua.

Selain itu, disampaikan Kadisdik perempuan itu, juga ada program jemput bola, terutama untuk anak-anak kelas I, karena siswa-siswi akan belajar membaca, menulis dan beritung sehingga guru akan turun langsung door to door atau mendatangi siswa ke rumah agar siswa tetap bisa belajar dengan baik.

“Proses belajar tatap muka di tunda. Tetapi pada tahun ajaran baru 13 Juli ini sekolah dimulai, dan guru-guru tetap ke sekolah menyiapkan modul bahan ajar baik secara daring maupun luring. Dan memang di kita hanya 59 persen sekolah terjangkau jaringan dan 41 persen lagi akan dilakukan sekolah luar jariangan. Artinya guru menyiapkan modul bahan ajar yang bisa dikerjakan siswa di rumah,” sebut Kadisdik Limapuluh Kota, Indrawati, baru-baru ini kepada wartawan.

Baca Juga  Ratusan Orang ASN Tenaga Pendidik Kabupaten Tanah Datar Terima SK 

Menurutnya, meski sekolah jarak jauh atau luar jaringan tetapi tetap berkualitas.  Walau tidak 100 persen seperti saat normal atau sebelum wabah virus corona, Kadisdik bertekad akan memberikan kualitas yang baik kepada anak-anak didik di Limapuluh Kota dengan menyiapkan modul bahan ajar yang berkualitas tanpa mengesampingkan karakter anak.

“Untuk kualitas SJJ dan Luar Jaringan, Guru dan sekolah tetap berusaha mewujudkan kualitas pendidikan yang baik untuk anak-anak kita, namun tentu 100 persen seperti normal tentu sulit. Dan khusus untuk kelas I sekurang kurangnya dalam Tiga bulan ini karena tujuan dari anak Kelas 1 bisa menulis, membaca dan beritung,” sebutnya.

Indrawati, berharap jangan sampai pada Januari 2021 nanti anak-anak kelas I SD sekarang belum bisa membaca, menulis dan beritung. Jika satu sekolah dasar saja sebut Kadisdik, ada 20 orang siswa barunya, dengan jumlah sekolah SD se-Kabupaten Limapuluh Kota 372, maka  akan ada 7.440 siswa baru.

Baca Juga  Sekdako Sonny Ikuti HLM Pengendalian Inflasi, Pemerintah Daerah Tingkatkan Hasil Produksi Pangan

“Jangan nanti sudah di  Januari 2021 anak-anak kita tidak bisa membaca. Jadi Tiga bulan ini anak-anak kita ini harus sudah bisa membaca, menulis dan beritung. Disamping itu, kita juga sampaikan kepada guru progres karakter, terkait disiplin dan kejujuran, apakah nanti dengan sistim jemput bola atau komunikasi dengan orangtua siswa,” harapnya yang juga terus memantau kesiapan sekolah menghadapi belajar jarak jauh dan luar jaringan nanti.

Ditundanya proses belajar mengajar dengan sistim tatap muka untuk menjaga keselamatan kesehatan siswa, guru dan warga sekolah dari penularan wabah virus corona. Mengingat, di Limapuluh Kota, masih terdapat kasus baru positif covid-19. Kondisi ini tentu saja menjadi kekhawatiran dari Pemerintah dan orangtua siswa.

Kemudian disampaikan Indrawati, daerah yang melakukan proses belajar mengajar dengan sistim tatap muka harus memenuhi empat kriteria, seperti, zona hijau, pemda setuju, sekolah harus memenuhi semua daftar periksa dan siap tatap muka dan terakhir orangtua murid juga harus setuju. (us)