BUKITTINGGI, METRO–Alangkah terkejutnya Heris Hendrifel (41), saat membangunkan penumpang yang duduk di bagian belakang. Penumpang bernama Jauhari (33) sudah tidak bergerak dan menujukkan tanda-tanda kehidupan.
Bukan hanya sopir travel Sibolga, Sumatera Utara tujuan Palembang itu saja yang kaget, beberapa penumpang lain ikut takut dan cemas. “Travel istirahat sebentar di Bukittinggi, Kamis (10/11) pukul 06.30 WIB. Lalu, saya membangunkan penumpang yang masih tertidur. Rupanya dia sudah tidak bernyawa,” ungkap Heris, saat memberi informasi kepada petugas Polres Bukittinggi.
Karena cemas, korban langsung dibawa ke RSAM Bukittinggi bersama aparat. Sebanyak empat orang penumpang travel tersebut serta sopir tidak ada yang mengetahui pastinya laki-laki yang bekerja sebagai koki di Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Palembang itu, meninggal di dalam mobil. Setelah dilakukan visum luar oleh pihak RSAM Bukittinggi, kalau yang bersangkutan meninggal secara wajar.
Menurut Heris Hendrifel, Jauhari naik dari Sibolga dengan tujuan Palembang. Korban duduk di bangku deretan belakang seorang diri. Dan, ketika sampai di Penyabungan, Sumatera Utara, naik lagi penumpang wanita Nelwida (65). Nelwida duduk sederet dengan Jauhari di belakang.
“Selama di perjalanan tidak ada yang aneh, sebab saya sering mendengar Jauhari asyik menelepon,” ungkap sopir asal Sungai Jariang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam ini.
Pada Kamis sekitar pukul 01.30 WIB, ketika mobil berhenti di Kota Nopan, Heris melihat korban tidur dan dia tidak mau membangunkan. Bahkan, dari keterangan teman sebangkunya, Nelwida, kalau Jauhari sempat bersandar kepadanya. Karena dianggap tidur, Nelwida mendorongnya kembali agar duduk lurus, tapi yang bersangkutan malah tersandar ke dinding mobil sebelah kiri.
Pada awalnya, Nelwida juga tidak mengetahui kalau yang bersangkutan diduga sudah meninggal.
Sekitar pukul 04.30 WIB, Heris selaku sopir mencoba membangunkan Jauhari ketika sampai di toko Sanjai di Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Tapi tidak ada sahutan dan dianggap oleh Heris kalau penumpangnya itu sedang tidur pulas dan dia berencana akan membangunkan kalau sudah sampai di daerah Jambu Air, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.
Setelah sampai di Jambu Air, sekitar pukul 06.30 WIB, setelah mengantarkan tiga penumpangnya ke terminal Simpang Aur Bukittinggi, Heris mencoba membangunkan Jauhari, tetap tidak ada sahutan. Muncul kecurigaan Heris dan dia rasakan kalau tangannya Jauhari sudah dingin dan dirasakan nafasnya tidak ada lagi.
“Melihat cirri-cirinya itu, saya yakin dia sudah meninggal. Saya tak berani berbuat apa-apa lagi dan langsung membawa mayat itu ke Polres Bukittinggi untuk dilaporkan bersama seorang penumpang, Nelwida,” sebut Heris.
Polisi yang mendapat laporan itu, langsung membawa mayat Jauhari masih menggunakan travel Heris di kamar jenazah RSAM Bukittinggi. Sebelum dilakukan visum, pihak rumah sakit dan polisi langsung memeriksa tas yang dibawa Jauhari dan ditemukan identitasnya di dalam tempat itu, termasuk uang tunai sebesar Rp1.744.000 serta tiga buah HP.
Menggunakan HP milik Jauhari tersebut, polisi berhasil menghubungi keluarga yang bersangkutan dan akan segera menjemput ke Bukittinggi.
Kapolres Bukittinggi AKBP Tri Wahyudi SIK MH melalui Kasat Reskrim, AKP Joko Hendro Lesmono menjelaskan, kalau penyebab pastinya yang bersangkutan meninggal dunia belum ada keterangan dari pihak rumah sakit.
”Kita masih meminta keterangan dari sopir travel tersebut termasuk dengan penumpang yang duduk dekat dengan bersangkutan. Kita masih menunggu pihak keluarga, apakah yang bersangkutan punya catatan sakit yang berbahaya,” terang AKP Joko. (wan)





