PARIAMAN, METRO
Wakil Wali Kota Pariaman, Mardison Mahyudin mengingatkan masyarakat yang ada di Kota Tabuik agar menjadikan momentum penyebaran pandemi virus corona yang terjadi secara masif akhir-akhir ini, sebagai ajang untuk colling down, atau mengevaluasi diri secara menyeluruh. Baik itu untuk keperluan menata kembali pola kehidupan pribadi, hubungan dalam rumah tangga atau kehidupan keluarga, maupun menata hubungan sosial kemasyarakat lainnya.
“Untuk itu perayaan Tabuik untuk tahun ini benar benar dinina bobokan. Sebab ribuan massa akan datang dari selluruih penjuru Sumbar. Jika dipaksakan, bisa jadi musibah atau pandemi virus corona yang terjadi secara masif,” ungkap Wakil Wali Kota Pariaman Mardison Mahyuddin.
Perayaan Tabuik yang semestinya dirayakan usai Lebaran bulan lalu, namun sesuatu hal terjadi, perayaan Tabuik yang memiliki nilai n ilai budaya bagi kita itu diyakini tidak akan digelar. Terlalu banyak resikonya dan itupun akan menyaoahi protokul kesehatan tim Gugus Taugas Covid0-19. Untuk itu adanya musibah ini jelas merupakan cara Allah untuk mengingatkan atau menegur kita semua, yang selama ini mungkin telah abai dalam menebarkan nilai-nilai kebaikan sebagai manusia yang merupakan makhluk paling mulia yang diciptakan oleh Allah SWT. Atau mungkin juga selama ini kita telah lalai dalam mengingat atau menyembah Allah, SWT, disebabkan perbuatan mungkar yang kita lakukan selama ini.
Karena itulah pihaknya mengimbau agar semua pihak hendaknya bisa mawas diri dan kembali menerapkan nilai-nilai Adat Basandi Syarak (ABS) Syarak Basandi Kitabullah (SBK) di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Sekaligus juga berusaha menjauhkan segala perbuatan yang bertentangan ajaran Alquran dan Sunnah. “Artinya nilai ABS SBK yang kita pedomani selama ini hendaknya jangan hanya sekadar formalitas belaka, tetapi hendaknya harus benar-benar teraplikasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Menurutnya, jika berkaca pada kondisi yang terjadi akhir-akhir ini sebut Mardison, secara kasat mata bisa disaksikan betapa nilai-nilai ABS-SBK di tengah kehidupan bermasyarakat sudah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Hal itu setidaknya terlihat dari semakin tergerusnya nilai-nilai sosial agama, nilai adat istiadat maupun nilai budaya kebersamaan di tengah masyarakat. Demikian pula sikap saling menghormati, saling menghargai antara yang muda dengan yang lebih tua.
“Bahkan jika kita perhatikan lebih jauh lagi, mungkin saja nilai silaturrahmi yang seharusnya bertujuan untuk mengundang datangnya Rahmat dari Allah,SWT, kesannya justeru hanya sekadar formalitas belaka, karena itulah mungkin Allah SWT, ingin mengingatkan manusia agar melakukan intropeksi diri masing-masing,” terangnya..
Juga tidak kalah pentingnya, untuk ke depannya, semua pihak diharapkan turut berperan aktif sesuai dengan perannya masing-masing. Termasuk diantaranya u bagaimana memfungsikan kembali peran ninik mamak, Bundo Kanduang, alim ulama dan sebagainya. Di pihak lain, memasuki masa new normal, pasca pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Pariaman, Wakil Wali Kota Pariaman, Drs. Mardison Mahyudin mengajak masyarakat di kota Tabuik ini agar memperhatikan pola hidup sehat.
“Karena kalau kita abai terhadap kesehatan termasuk perlunya memperhatikan protokol kesehatan, tentu penularan penyakit, terutama penyebaran virus corona akan mudah menyerang, karena itu masyarakat tentunya perlu memperhatikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah,” sebutnya.
Harapan kita tentunya masyarakat dalam bersosialisasi harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak atau menggunakan masker, karena kan kita tidak tahu bagaimana kondisi orang yang kita ajak bersosialisasi. Karena bisa jadi orang tersebut berpotensi menularkan virus corona, begitu pula sebaliknya. Karena itulah kita dianjurkan agar bisa menjaga jarak saat berkomunikasi dengan orang lain.
“Momentum penyebaran virus corona dewasa ini mestinya harus bisa dijadikan sebagai momen yang tepat untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Baik itu evaluasi terhadap diri sendiri, untuk kemudian menatanya sebaik mungkin agar ke depannya bisa lebih baik,” iingatnya. (efa).





