METRO PADANG

Pedagang Menolak Dites Swab, PKL Pilih Tetap Berjualan

0
×

Pedagang Menolak Dites Swab, PKL Pilih Tetap Berjualan

Sebarkan artikel ini

PASAR RAYA, METRO
Hingga kini sebagian besar pedagang di Pasar Raya masih menolak untuk melakukan tes swab. Mereka beralasan jika datang ke tempat fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, kemungkinan mereka tertular akan semakin besar.

“Kami tak mau pergi ke rumah sakit. Itu berbahaya. Di sana banyak orang sakit. Kami bisa tertular. Makanya, kalau mau juga melakukan tes swab terhadap kami, silahkan sediakan tempat khusus dan bukan di rumah sakit atau puskesmas,” sebut Indra(38), salah seorang pedagang di Pasar Raya.

Tak hanya itu, menurutnya Indra, pedagang kini sedang sekarat karena sudah lama tak berjualan. Kalaupun ada yang jualan, pembeli nyaris tidak ada. Ia berharap pemerintah memberi kemudahan pada pedagang, terutama fasilitas tempat khusus tes yang dekat dengan pasar.

Ketua Keluarga Besar Pedagang Kaki Lima (KBPKL) Pasar Raya Padang, Idman bersama pedagang lainnya mengatakan bahwa pihaknya menolak dan tidak setuju atas pemeriksaan pedagang oleh Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Padang tanpa musyawarah.

Ia menambahkan, dirinya beserta pedagang lainnya meminta bukti jika memang benar ada 51 orang pedagang Pasar Raya Padang positif Covid-19. Menurutnya, pedagang sudah tidak memiliki pilihan selain kembali berdagang agar dapur tetap mengepul. Sebab sejak pandemi Covid-19 mereka sudah hampir satu bulan tidak berdagang.

“Kami sudah 1,5 bulan tidak berjualan, mau makan sama apa kami. Kami di sini hanya mencari sesuap nasi. Sekarang ditutup pasar mau makan apa kami. Selama ini kami sudah menderita, tolonglah pemerintah, bukan berarti kami menantang pemerintah,” keluhnya.

Idman menjelaskan, para PKL di Pasar Raya Padang kecewa dengan sikap Pemko yang mengambil keputusan sepihak tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dari pedagang.
Pemerintah ungkapnya, harus mencarikan solusi, bagaimana masyarakat ini bisa mencari nafkah.

“Kami tidak menerima apa yang dilakukan seperti sekarang, yaitu pasar akan ditutup. Jangan buat kami sengsara, kalau begini membuat kami sengsara. Kami tidak boleh jualan dan sekarang diperiksa satu persatu. Kami diminta di rumah, tapi kami tidak ada beras yang akan dimakan,” ungkapnya.

Idman menyebutkan bahwa hal tersebut merupakan jeritan masyarakat. Tolonglah jeritan si miskin dan carikan solusinya. “Karena sudah ada pedagang kami yang tidak makan. Tolonglah kami, keadaan kami sudah sengsara akibat wabah dan kebijakan ini. Kami dari seluruh elemen pasar dan pedagang toko siap bersatu, kalau pasar ditutup kami tidak menerima,” tukasnya.

Sementara Resi (34) salah satu pedagang di Pasar Raya mengatakan dalam satu hari ada Dinas Perdagangan meminta sekitar 200 pedagang toko dan kaki lima melakukan tes swab. Ia mengatakan sebagian pedagang sudah melakukan swab, tapi sebagian lagi tidak mau karena lokasinya yang sempit.

“Kami mau disediakan lokasi yang luas seperti lapangan, karena di rumah sakit banyak virus, dan nanti akan berbaur dengan orang sakit,” katanya.

Ia mengatakan pedagang takut tertular di sana, dan berharap disediakan lokasi yang luas. “Namun, kalau disediakan tempat yang luas dan terbuka, kami siap bersedia untuk lakukan tes swab,” tukasnya.

Kepala Dinas Perdagangan Endrizal yang bara saja dilantik menjadi Asisten III Pemko Padang mengatakan, Dinas Perdagangan akan terus meyakinkan pedagang untuk segera mengikuti tes swab. Karena itu demi keselamatan mereka sendiri.

Saat ini diakuinya baru sedikit yang melakukan tes. Pedagang diminta untuk me daftar ke Dinas Perdagangan. Nanti Dinas Perdagangan bersama Dinas Kesehatan akan mengkondisikan puskemas mana yang akan dikunjungi untuk melakukan tes. Hal ini untuk menghindari penumpukan orang di puskesmas.

“Kalau sekali mencek 200 orang, itu akan kewalahan juga. Makanya segera daftar dan akan kita bagi tempatnya,” tandas Endrizal.

Terkait keinginan pedagang yang tak bersedia datang ke rumah sakit atau puskemas, menurut Endrizal, hal itu tak bisa ditoleransi. Pasalnya tes swab harus dilakukan pada tempat yang telah memenuhi standar WHO. Petugasnya harus berpakai APD lengkap, di ruangan steril. Tak bisa dilakukan di lapangan atau tempat lain.

“Ini bukan sunat massal. Ini tes swab. Sangat rentan penularan. Standarnya dari WHO,” tandas Endrizal lagi.

Sementara itu, Kadis Dinas Perdagangan Kota Padang Andree Algamar melalui Kabid Pengawasan dan Stabilisasi Harga, Yeny Puspita mengatakan, aksi pedagang hanya miss komunikasi. Sebab telah dua hari Disdag melakukan sosialisasi tes swab.

“Sosialisasi untuk tes swab pedagang dikarenakan kasus 51 pedagang positif Covid-19 klaster Pasar Raya. Untuk itu kita melakukan penyemprotan tadinya, jadi yang tidak menerima itu merupakan PKL, yang sebelumnya kita telah sosialisasikan menyemprot disinfektan ke pedagang. Jadi terjadi salah paham, kalau pedagang tetap berjualan di saat menyemprot barang dagangannya akan basah, kita juga nanti disalahkan,” terangnya.

Ia menambahkan, sampai hari ini (kemarin) telah dilakukan tes swab sebanyak 100 orang pedagang bertempat di Puskesmas Andalas, Padang Timur. “ Selain tes swab yang diperkirakan 1.000 orang pedagang yang akan dites. Kami juga akan melakukan penyemprotan lima hari ke depan untuk memutus mata rantai di klaster Pasar Raya ini. Jadi untuk tes swab kita hanya menentukan nama-namanya teknisnya ditentukan oleh Dinas Kesehatan ( DKK) kota Padang,” pungkasnya.

Dari pantauan POSMETRO terlihat Dinas Pemadam Kebakaran melakukan penyemprotan di Pasar Raya Barat Padang. Tepatnya di Jalan Pasar Raya dari air mancur ke Jalan Permindo. Namun, pada saat penyemprotan datang sekumpulan pedagang yang menolak untuk tutup dan menolak dilakukan tes swab. (tin/cr1)