METRO PESISIR

Syamsuardi, Habiskan Usia Tua di Rumah Tua yang Nyaris Roboh

0
×

Syamsuardi, Habiskan Usia Tua di Rumah Tua yang Nyaris Roboh

Sebarkan artikel ini

PDG. PARIAMAN, METRO
Sebagian besar orang menghabiskan masa tua dengan menikmati hidup bersama dengan anak cucunya. Namun, berbeda dengan Syamsuardi (65) warga Sungai Putiah, Korong Koto Bangko, Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kabupaten Padangpariaman.

Di usia senjanya, ia harus tinggal seorang diri di rumah peninggalan orangtuanya. Rumah yang ia tempati itu dalam kondisi rusak berat, karena dimakan usia. Ia harus tinggal seorang diri saat berpisah dengan anak istrinya, di rumah peninggalan orangtuanya itu, Syamsuardi menikmati sisa hidupnya.

“Istri sudah cerai terpaksa tinggal di sini, rumah ibu saya. Ibu sudah lama meninggal begitu juga dengan ayah saya yang mati sahid ditembak orang pada zaman dulu,” katanya.

Rumah yang berusia puluhan tahun itu tampak lusuh, seakan tidak ada penghuni. Dinding yang retak, pintu hanya papan yang disusun dan lantainya juga sudah habis. Di rumah itulah Syamsuardi beristirahat untuk melepas lelahnya sepanjang hari.

Baca Juga  Sejarah Silat Asal Minangkabau, Jadikan Motivasi untuk Meraih Prestasi

Saat malam hari, Syamsuardi hanya menikmati sepanjang malam dengan dama togok (lampu minyak), karena rumahnya tidak ada sambungan listrik. Bukan jauh dari akses, namun ia tidak sanggup untuk itu. “Untuk penerangan disini saya hanya menggunakan lampu minyak tanah,” katanya.

Untuk hidup, kakek paruh baya ini bekerja sebagai petani dan juga mengeluarkan batu disungai untuk dijual. Jika dilihat dengan kondisi tubuh Syamsuardi pekerjaan yang dilakoni itu sangat berat. Namun, perjuangan hidupnya jauh lebih berat untuk bisa mendapatkan makan. “Mengeluarkan batu ini dalam satu minggu paling banyak hanya bisa satu mobil, itu dibeli orang Rp100 ribu. Itu pun tidak rutin,” katanya.

Dari penghasilan itu, digunakan Syamsuardi untuk membeli kebutuhan pokoknya, yang dimasak setiap hari. Ia lebih memilih mengeluarkan batu di sungai dengan risiko yang sangat besar, dibandikang harus meminta-minta kepada orang lain untuk makan. “Biar saya bekerja keras untuk cari makan, yang penting tidak meminta-minta makan pada orang lain,” katanya.

Baca Juga  Gubernur Sumbar Mahyeldi, Sambut Kunker Kepala Bapanas

Syamsuardi menceritakan, jika hujan turun. Salah satu tempat yang aman untuk berlindung adalah kamarnya saja. Dapur yang merangkap sebagai ruang tengah rumahnya itu sudah bocor.

“Hanya kamar yang masih aman, kalau yang lain sudah banyak yang bocor. Ini sudah ada atap dari daun rumbia yang saya cari, rencana dipakai untuk ganti atap ini sementara,” ujarnya.

Keinginan untuk hidup dan tinggal dirumah yang layak huni memang sudah lama diinginkanya. Tapi kenyataanya itu belum bisa terwujud, karena untuk kebutuhan sehari-hari saja ia sudah susah. “Selama ini ya belum ada bantuan kepada saya, kalau bikin rumah sendiri saya belum mampu,” katanya. (z)