Warga Gulai Bancah, Bukittinggi menggembok pintu masuk MTsN 1 Bukittinggi. Warga pun memasang kertas pengumuman untuk pihak sekolah yang tak bisa menampung anak-anak mereka di sekolah itu.
BUKITTINGGI, METRO–Kesal karena anak-anaknya tak diterima di MTsN 1 Bukittinggi, warga Gulai Bancah, menggembok sekolah tersebut, Minggu (19/6) malam. Warga kesal karena anak-anak mereka banyak tidak bisa diterima di sekolah agama tersebut.
Pantauan POSMETRO, Senin (20/6) pagi, rolling door masuk ke lingkungan MTsN 1 Bukittinggi masih tertutup dan terpasang rantai gembok. Pada bagian atas gembok tersebut ditempelkan kertas dengan tulisan “Dilarang Membuka gembok Tanpa Musyawarah Dengan Tokoh Masyarakat Gulai Bancah”.
Tidak satupun pihak sekolah yang berani mengusik tulisan itu maupun rantai yang digembok. Satpam pun tak berbuat banyak.
Tokoh masyarakat Gulai Bancah Yontrimansyah, kemarin membenarkan jika warga sudah menggembok sekolah yang selama ini menjadi kebanggaan warga Gulai Bancah. Hal itu dilakukan karena tidak ada musyawarah dan penjelasan dari pihak sekolah tentang adanya warga Gulai Bancah dan Bukittinggi secara umum yang tidak diterima mendaftar di sekolah tersebut.
“Padahal awalnya, pihak sekolah sudah menyanggupi semua warga Bukittinggi akan diterima. Kenyataannya, masih ada 52 anak tidak keluar namanya dalam pengumuman tentang penerimaan murid baru,” jelas Yontrimansyah.
Sebelumnya, memang sudah diterima sebanyak dua kelas dari sembilan kelas yang ada dan ketika ditanya pihak sekolah, kalau memang akan ada penambahan juga akan diterima. Akan tetapi, hal itu tak terealisasi.
“Masyarakat merasa kecewa, karena anak kemenakan mereka tidak bisa sekolah di kampung mereka sendiri. Sudah jelas pembangunan sekolah itu adalah tanah ulayat warga yang diberikan untuk pembangunan sekolah, agar warga Gulai Bancah juga bisa sekolah agama di tempat itu. Tapi, kenyataan yang ada, masih ada warga setempat yang tidak diterima dan ini menjadi kekecewaan warga,” terang Yontrimansyah, dengan nada geram.
Sementara itu, sekitar pukul 10.00 WIB, dilakukan pertemuan yang dihadiri Kapolsek Bukittinggi, Kasat Binmas dan Kasat Intel Polres Bukittinggi bersama Kakanwil Kamenag Bukittinggi Muhammad Nur, pihak MTsN 1 dan tokoh masyarakat. Pihak sekolah menyampaikan, jika MTsN 1 tidak bisa menampung semua yang mendaftar karena keterbatasan kelas.
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya pihak kemenag memberikan solusi yaitu, sebanyak 52 orang yang tidak diterima di MtsN 1 Bukittinggi itu akan dimasukkan di sekolah MTs Yayasan Ikhwanulmuslimin di Pintu Kabun dengan kualitas dan kurikulum sama dengan MTsN 1. Tenaga pengajar juga didatangkan dari MTsN 1. Tidak hanya itu, ijazah yang diterima juga dikeluarkan dari MTsN 1.
Sementara Kepala MTsN 1 Bukittinggi Irsyad, mengatakan, sekolah sudah menerima sebanyak 85 orang dari warga setempat. Sedangkan kapasitas masing-masing kelas hanya 36 orang. Sekolah pun sudah menambah satu kelas menjadi 10, dengan menggunakan ruang labor untuk kelas. (wan)





