BUKITTINGGI, METRO
Hanya gara-gara masalah sepele, seorang buruh tewas bersimbah darah dikeroyok segerombolan pemuda yang sedang nongkrong mabuk-mabukan di depan SMKN 2 Pasar Bawah, Kelurahan Aur Tajungkang Tangah Sawah, Kecamatan Guguak Panjang, Selasa dini hari (22/4) sekitar pukul 02.00 WIB.
Informasinya, segerombolan pemuda itu tega mengeroyok korban R (32) yang tewas dengan luka parah pada bagian kepala, lantaran tak terima ditegur oleh korban agar tidak kumpul-kumpul saat pandemi Covid-19 sesuai dengan imbauan pemerintah.
Meski niat korban sangat baik guna mencegah penyebaran Covid-19, ternyata malah membuat nyawanya melayang. Segerombolan pemuda yang berjumlah enam orang itu tanpa rasa kasihan sedikitpun menghajar korban secara membabi buta menggunakan kayu balok dan batu.
Melihat warga berdatangan, ketiga pelaku pun langsung melarikan diri dari lokasi. Warga pun langsung melarikan korban ke Rumah Sakit Achmad Muchtar (RSAM) Bukittinggi untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun sayang, nyawa korban tak dapat diselamatkan hingga dinyatakan meninggal dunia.
Kapolres Bukittinggi, AKBP Iman Pribadi Santoso melalui itu Kasat Reskrim AKP Chairul Amri Nasution mengatakan, setelah mendapat laporan adanya kejadian itu, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Tiga jam berselang, tiga pelaku berinsial CM (23), AB (24) dan MA (24) berhasil diringkus di kediamannya masing-masing.
“Sementara, jasad korban dilakukan visum untuk melengkapi berkas perkara. Korban mengalami luka parah pada bagian kepalanya. Di lokasi kita juga mengamankan barang bukti berupa kayu balok dan batu yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban,” kata AKP Chairul Amri.
AKP Chairul Amri menjelaskan, dari hasil pemeriksaan, diduga kuat motif dari penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal, karena sakit hati. Ketiga pelaku yang diduga dalam pengaruh alkohol tidak terima ditegur oleh korban saat nongkrong di tengah kondisi pandemi corona.
“Saat kejadian, para pelaku diduga habis minum-minuman keras. Kita memperkirakan ada enam orang yang mengeroyok korban. Namun, kita baru mengamankan tiga orang, sedangkan tiga lainnya masih dalam pencarian. Kita akan terus melacak keberadaannya,” ujar AKP Chairul Amri.
AKP Chairul Amri menuturkan, kejadian itu berawal korban bersama rekannya Rizky usai mengikuti rapat pemuda tentang pegawasan di tengah pandemi Covid-19. Setelah rapat tersebut, korban bersama rekanya langsung pulang ke rumah melewati SMKN 2 Pasar bawah.
“Sesampai di Depan SMKN 2 Pasar Bawah, korban melihat beberapa pemuda yang sedang asik nongkrong berdekat-dekatan. Karena kondisi pandemi Covid-19 agar menerapkan sosial distancing, korban mencoba segerombolan pemuda tersebut,” jelas AKP Chairul Amri.
AKP Chairul Amri melanjutkan, tidak terima dinasehati, segerombolan pemuda itu lansung berdiri menantang korban dengan rekanya. Karena ketiga pemuda ini ingin menyerang, korban langsung maju menghadang. Namun, ketika itu korban terjatuh sehingga segerombolan pemuda itu membabi buta menghajar korban dengan batu dan kayu.
“Rekan korban yang melihat hal tersebut langsung berteriak minta tolong kepada warga sekitar. Mendengar teriakan tersebut, segerombolan pemuda ini langsung kabur usai menghajar korban. Warga bersama rekan korban kemudian membawa korban ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia,” jelas AKP Chairul Amri.
AKP Chairul Amri menegaskan, untuk Ketiga tersangka dikenakan pasal 170 ayat 3 tentang kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang dengan ancaman 12 tahun kurungan penjara.
“Kita tidak ingin ada kejadian seperti ini terulang kembali. Kita mengimbau kepada masyarakat agar tidak berkumpul-kumpul di saat wabah Covid-19 karena bisa meluaskan penyebaran virus itu. Jika ditegur, bubarlah dengan tertib demi kebaikan kita bersama,” pungkasnya. (pry)





