BERITA UTAMA

Terdakwa Sodomi Dituntut 10 Tahun; Istri Histeris, Polisi Kokang Senjata

1
×

Terdakwa Sodomi Dituntut 10 Tahun; Istri Histeris, Polisi Kokang Senjata

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO–Suasana Pengadilan Negeri Padang, Rabu (1/6) sore, buncah oleh tangis pilu seorang perempuan hamil tua. Calon ibu itu histeris menyaksikan suaminya, terdakwa sodomi, dipukuli tahanan di ruang titipan. Kondisi hiruk. Polisi penjagaan bahkan harus mengokang senapan serbu untuk menenangkan suasana.
Hiruk pikuk di Pengadilan Negeri Padang bermula, ketika Hendri (34), keluar ruang sidang. Hendri baru saja dituntut enam tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suriati, karena dianggap terbukti menyodomi anak tiri, dari istri pertama.
Langkah gontai Hendri menuju sel tahanan sementara, diikuti oleh Ayu. Ibu muda tersebut tampak kepayahan berjalan. Sebab, usia kandungannya telah masuk 9 bulan. Kelahiran anak pertamanya hanya tinggal menghitung hari.
Sampai di depan sel tahanan, Hendri masuk ke dalam, sementara Ayu berdiri di luar. Kondisi ruang tahanan sangat pengap. Sebab, dalam ruangan yang luasnya sekira 4×6 meter tersebut, dihuni oleh 65 tahanan yang menunggu antrean untuk bersidang. Ada pula nan sudah selesai menjalani persidangan.
Layaknya orang nan lama tak bersua, pasutri tersebut mengobrol. Sesekali, Ayu tampak memegangi wajah suaminya. Dari tatapan dan elusan tangan, dapat dipastikan keduanya saling merindu. Cinta Ayu tak luntur walau suaminya dipenjara karena kasus pencabulan.
Keterangan Ayu, sedang asyik bercerita, tiba-tiba seorang tahanan berbadan tegap menghampiri suaminya dan bertanya dengan nada keras. “Oi, lah siang ang sidang. Apo kasus ang?” tanya tahanan tersebut. Belum sempat menjawab, pukulan langsung saja dilayangkan pelaku ke dada Hendri. Dia terhuyung mendapat pukulan yang disaksikan langsung istrinya itu.
Melihat suaminya dipukul. Ayu histeris. “Jan ang bunuah uda den. Jan ditangani uda den,” pinta Ayu (25). Ibu muda berdaster kuning itu menjerit-jerit di depan jeruji tahanan melihat suaminya, Hendri, tumbang hanya dengan sekali pukul oleh tahanan lain. Tangannya menggapai, mencoba memeluk, tapi tak bisa. Keduanya dipisahkan sekat besi.
Teriakan Ayu bikin geger. Mertuanya, Janiah (65), ikut pula histeris. Keduanya tak terima, Hendri yang baru dinyanyak tahanan yang berbadan tegap. ”Ang lampang anak den. Den matian ang! Den matian ang,” teriak Janiah. Tangannya erat memegangi jeruji besi. Sementara, daster hijau motif bunga yang dikenakannya tersingkap hingga paha.
Suasana kian kacau karena tangis Ayu tak reda, sementara tahanan lain juga menghiruk. Dua petugas kepolisian yang menjaga tahanan, mencoba menenangkan Ayu. Tapi, jangankan tenang, tangis Ayu malah menjadi. Dia menunjuk pelaku yang memukul suaminya. “Ditinjunyo uda wak. Ditinjunyo. Uda, bia uda di lua. Ayu di dalam. Ayu gantian,” paparnya mengurai tangis.
Sang suami yang sudah berdiri, mendekati istrinya. Berdua mereka berpelukan. Hendri mengusap pipi istrinya yang basah oleh air mata. Sementara Ayu menciumi tangan suaminya itu. Kesedihan menguar menyaksikan keduanya begitu intim dan larut dalam kepedihan. “Saba diak. Uda indak baa do. Bagarah-bagarah,” kata Hendri menenangkan istrinya.
Namun sia-sia, Ayu tak percaya karena melihat langsung suaminya dipukul. Tangisnya kian keras. Dia tetap bersandar ke jeruji dan menciumi tangan suaminya. Ayu seolah tak ingin berpisah.
Suasana buncah ini membuat petugas kepolisian mencoba menenangkan. Apalagi, beberapa pengunjung Pengadilan Negeri juga marah-marah dan menunjuk ke dalam sel. Ada pula yang mengeluarkan kata kotor.
“Sudah keluar sana. Keluar,” papar polisi mengusir beberapa perempuan yang berkoar-koar di pekarangan. Tapi, jangankan keluar, teriakan sang perempuan kian keras. Ketika itulah, senjata dikokang. Polisi menggertak, suasana tenang. (ben/cr3)