PADANG, METRO
Meski pembatasan selektif sudah berjalan selama empat hari, sejak Rabu (1/4) namun, diakui Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit belum memiliki data jumlah orang yang masuk melalui jalur udara, laut dan kendaraan yang masuk ke Provinsi Sumbar melalui jalur wilayah perbatasan.
“Sejak kunjungan saya ke perbatasan di Sijunjung pada hari pertama hingga hari ke empat sekarang, belum dapat total angkanya berapa yang masuk ke Sumbar,” ujar Nasrul Abit saat meninjau posko pengawasan perbatasan wilayah Provinsi Sumbar dengan Bengkulu di Kecamatan Lunang Silaut, dan Nagari Sako perbatasan Provinsi Sumbar dengan Jambi di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sabtu (4/4).
Diakuinya, Pemprov Sumbar belum mendapatkan angka pasti dari masing-masing daerah, karena belum ada pemahaman yang sama tentang kesamaan data masing-masing. Namun, Nasrul Abit mengklaim, trend orang yang masuk pendatang ke Sumbar sudah mulai ada penurunan, sejak Kamis (3/4). “Kamis lalu masih ramai yang masuk. Namun, Jumat hingga sekarang sudah turun. Harapan kita kalau bisa perantau jangan pulang lagi,” ujarnya.
Nasrul Abit mengungkapkan, secara umum, hingga Jumat (3/4), data orang yang masuk melalui jalur udara lewat Bandara Internasional Minangkabau (BIM) mencapai 2.147 orang. Sedangkan melalui jalur darat lewat wilayah perbatasan, mencapai sekitar 3.500-an orang. “Artinya, sudah hampir 6.000 orang sudah masuk Sumbar, sejak pemberlakuan pembatasan selektif hingga Jumat (3/4),” ujarnya.
Nasrul Abit juga mengungkapkan, hingga hari keempat pembatasan selektif diberlakukan, belum ada satupun yang masuk karantina. Padahal, Pemprov Sumbar sudah menambah lokasi dan tempat-tempat karantina di Sumbar. “Belum ada yang masuk karantina,” ujarnya.
Melalui kunjungannya ke posko pengawasan perbatasan wilayah Provinsi Sumbar dengan Bengkulu dan Jambi di Kabupaten Pessel, Sabtu (4/4), Nasrul Abit juga menyampaikan data orang masuk ke Sumbar melalui perbatasan Provinsi Sumbar melalui lintas barat, selama tiga hari ini. Pada hari per tama, Rabu (1/4), tercatat 428 kendaraaan, Kamis (2/4) (552 kendaraan) dan Jumat (3/4) (368 kendaraan).
Nasrul Abit mengungkapkan ratusan orang yang masuk ke Provinsi Sumbar melalui jalur lintas barat perbatasan Kabupaten Pessel ini, tujuannya tidak hanya ke Kabupaten Pessel saja. Tapi menyebar ke beberapa kabupaten kota di Sumbar.
Mereka yang datang masuk ke Sumbar ini kebanyakan anak-anak pesantren dari Jawa yang pulang kampung karena memasuki bulan Ramadhan. Selain anak-anak pesantren juga ada tenaga penjahit yang masuk ke Sumbar. “Juga ada beberapa penjahit kita, yang ada di Buncit Raya Kalibata, masuk ke Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pessel menyebar ke seluruh daerah di Provinsi Sumbar melalui jalur barat,” ujarnya.
RSUD Pariaman dan RSUD dr Rasidin jadi RS Khusus Corona
Nasrul Abit memastikan, RSUD Pariaman menjadi rumah sakit (RS) khusus penanganan pasien virus corona (Covid-19). Selain RSUD Pariaman, RSUD dr Rasidin di Kota Padang juga dipastikan menjadi RS khusus penanganan Covid-19. “RSUD Pariaman dan RSUD dr Rasidin sudah pasti menjadi RS khusus penanganan corona,” tegas Nasrul Abit.
Dengan dijadikan RS khusus penanganan Covid-19 maka 170 kamar di RSUD Pariaman dan 120 kamar di RSUD dr Rasidin, bisa digunakan untuk pasien Covid-19. “Artinya, dua RS ini, sudah menjadi RS khusus Covid-19, bila tidak sukses menangkal virus corona ini. Kalau kita sukses menangkal virus ini, maka dua RS tidak jadi dipakai. Itu saja,” tegasnya.
Dengan dijadikannya dua RS ini menjadi RS khusus penanganan Covid-19,maka seluruh fasilitas dan peralatannya mulai dilengkapi. Termasuk juga persiapan untuk SDM yang akan menangani pasien Covid-19 yang masuk ke RS ini. “Persiapan SDM-nya, kita sudah melakukan penerimaan pegawai untuk RS ini. Termasuk peralatan juga sedang disiapkan,” terangnya.
Dengan kepastian dua RS tersebut menjadi RS khusus penanganan Covid-19, Nasrul Abit meminta pengertian bersama masyarakat, bahwa corona bukan penyakit menular dari orang per orang. Keamanan pasiennya bisa diatasi.
“Masyarakat sekitar jangan menolak. Orang di dalam RS tidak akan keluar, karena dijaga ketat. Virus corona tidak menular melalui udara. Orang di dalam RS itu diisolasi,” ungkapnya.
Nasrul Abit juga meminta Walikota Pariaman dan Walikota Padang haus memberikan pengertian kepada masyarakat sekitar RS. Tidak hanya itu, Pimpinan dan Anggota DPRD kota masing-masing, juga harus berperan memberikan pengertian. “Kalau perlu diskusikan dengan pakar kesehatan, bahwa corona bukan aib dan virus ini tidak menular melalui udara,” imbaunya. (fan)





