SOLOK/SOLSEL

Pemkab Fokus Kembangkan Pariwisata Berkualitas

0
×

Pemkab Fokus Kembangkan Pariwisata Berkualitas

Sebarkan artikel ini

SOLOK, METRO
Pemerintah Daerah (Pemkab) Kabupaten Solok, dalam pengembangan pariwisata fokus kepada kualitas wisata yang ditawarkan. Dengan pengelolaan sederhana yang melibatkan peran serta masyarakat dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat dengan konsep slow tourism. Konsep yang yang diterapkan bukan menarik pungunjung sebanyak-banyaknya, tapi bagi siapa yang ingin mengenal atau belajar dengan kebudayaan daerah.

Konsep Slow tourism yang diterapkan menurut Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kabupaten Solok, Nasripul, merupakan, salah satu konsep yang mendukung suistanable tourism tersebut. Konsep ini berbanding terbalik dengan wisata massal.

Wisata slow tourism ini berorientasi pada output  high quality experience atau kualitas pengalaman wisata si slow traveller tadi dan proteksi destinasi host atau tuan rumah dengan menjaga keseimbangan lingkungan. Kemudian, sosial budaya masyarakat setempat dan memaksimalkan ekonomi masyarakat setempat melalui full community based tourism-nya.

Menurutnya, empat nagari yang didapuk sebagai kampung budaya di Kabupaten Solok, mulai bergerak kearah wisata edukasi budaya, yang mengedepankan keberlanjutan, bukan kuantitas pengunjung saja. Tapi, lanjutnya itu bukanlah konsep yang diterapkan ke kampung budaya yakni Nagari Jawi-jawi Guguak, Koto Anau, Paninggahan dan Salayo. Melainkan penerapan konsep dengan prioritas keberlanjutan.

Ada tiga hal utama dalam menjalankan pariwisata berkelanjutan di Desa Wisata Budaya ini, yang pertama tentu dari sisi ekonomi dimana harus ada imbas baliknya bagi perekonomian masyarakat. Kedua yakni lingkungan, dimana kunjungan wisata tersebut harus memperhatikan upaya-upaya menjaga kelestarian lingkungan dan ketiga tentunya secara sosial pariwisata ini harus dapat diterima masyarakat dan tidak merusak tatanan budaya yang telah hidup dalam kehidupan masyarakat setempat.

Di sana melibatkan sektor ekonomi, sosial dan estetika, sehingga keberadaan pariwisata tidak membunuh nilai-nilai dasar Nagari, melainkan wisatawan yang diajak hidup berdasarkan cara hidup di Nagari tersebut, dengan kata lain para wisatawan diharapkan membaur dengan masyarakat, baik secara budaya maupun secara sosial. “Produk wisata yang kita bangun,  di antaranya meliputi keaslian nilai-nilai budaya lokal, mengenalkan kepada pengunjung dan membawa mereka untuk mempraktekkannya,” ujarnya. (vko)