BERITA UTAMA

Prom Party SMA 3 Padang Bikin Geger

0
×

Prom Party SMA 3 Padang Bikin Geger

Sebarkan artikel ini

Inilah potret pesta terakhir yang diadakan siswa SMA Negeri 3 Padang di Hotel Bumi Minang, Sabtu (23/4) malam. Pesta dengan suguhan musik dari DJ ini mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan. Banyak yang menuding kalau kelakuan pelajar yang baru selesai UN ini melanggar etika dan bukan budaya Minangkabau.
PADANG, METRO–Warga Kota Padang dikejutkan dengan beredarnya sejumlah foto berjudulkan ”Pesta Malam Terakhir SMA Negeri 3 Padang”, yang diadakan di Hotel Bumi Minang. Nan bikin heboh, dalam foto yang tersebar secara viral di dunia maya, terlihat para siswa, laki-laki dan wanita, mandi bareng di kolam renang. Ada pula lelaki nan buka baju. Pestanya kian panas dengan dentuman musik dari disc jockey (Dj).
Aksi puluhan pelajar yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional (UN) tersebut digelar pada Sabtu (23/4) malam. Gelaran itu memancing emosi warga kota. Ribuan banyaknya yang menghujat acara tersebut. Ada yang bilang, pesta itu jauh dari cermin budaya Minangkabau, serta sudah melenceng dari kesusilaan. ”Budaya kabau,” tulis Tajin Porbi Jabar dalam akun Facebooknya.
Kehebohan ini diawali dengan unggahan foto di akun Facebook Amrizal Rengganis, Kepala Seksi Penyidikan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Padang. ”Gawat! Acara perpisahan malam keakraban SMA 3 Padang malam ini di Hotel Bumi Minang ajang mandi rame2 antara cowok dan cewek. Bercampur baur di kolam renang. Mereka satu sama lain asyik berpelukan berdua sambil “hajar DJ”. Masih budaya Minangkah?” tulis Amrizal Rengganis.
Dalam foto yang diunggah memang terlihat sekumpulan pelajar menceburkan diri ke kolam renang. Raut wajahnya bahagia. Dekat kolam renang juga terlihat panggung, untuk DJ. Sementara pada latar belakang yang terpasang, tertulis acara itu berjudul last night atau malam terakhir.
Unggahan Amrizal Rengganis langsung jadi viral di dunia maya. Hingga pukul 18.19 WIB, sudah 437 kali unggahan foto tersebut dibagikan. Ada pula yang sengaja melakukan screenshoot dan membagikannya di group Whatsapp.
”Di negara barat, saya tidak pernah melihat acara seperti ini. Anak-anak sekarang sudah salah kaprah lihat sinetron di TV, makanya anak-anak meniru seperti di sinetron. Maaf, bukan saya membela negeri barat, meskipun negara bebas pergaulan tapi tidak pernah saya melihat acara seperti ini,” ungkap Rita Ramadhan.
”Sangat menyedihkan dan memalukan. Diharapkan tindakan yang tegas dari Pemko Padang, kepolisian serta niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai di Sumatera Barat,” timpal Darwanto Irawan.
Selain yang menghujat, ada pula yang mencoba menenangkan. Ratih Listyana Chandra contohnya. Dalam komentarnya di unggahan Amrizal Rengganis, Ratih meminta agar netizen tak mudah terprovokasi. ”Itu sepertinya tidak mandi ramai-ramai pak. Coba diperhatikan pakaian yang digunakan masih pakaian lengkap. Sepertinya mereka diceburkan, bukan sengaja mandi. Tolong jangan mudah terprovokasi dan mudah menghakimi kalau tidak melihat secara langsung dan tahu bagaimana situasinya,” tulis Ratih.
Saat dikonfirmasi, Amrizal Rengganis, menyebutkan, pesta yang diselenggarakan pelajar SMA Negeri 3 Padang itu memang tidak layak untuk pelajar. Katanya, itu tidak mencerminkan budaya Minang. “Saya sejak jam 19.30 WIB memantau kegiatan malam party tersebut. Banyak hal-hal yang tidak wajar mereka lakukan di tepi kolam renang dan menceburkan diri dengan pasangannya di kolam renang. Merasa tidak pantas, makanya acara ini saya bubarkan bersama anggota. Ketika mobil Dalmas tiba di TKP, anak-anak tersebut berhamburan keluar sambil berteriak,” tutur Amrizal.
Dijelaskan Amrizal Rengganis, acara itu dibubarkan sesuai permintaan Wakil Wali Kota Padang Emzalmi. “Saya minta tolong dibubarkan acara pesta SMA 3 Padang. Saya akan telfon Kadisdik dan pihak sekolah untuk ikut pula menghentikan kegiatan ini,” begitu perintah Wawako kata Amrizal.
”Ada perintah dibubarkan dari Wawako, kami langsung menyampaikan kepada siswa SMA 3 Padang tersebut untuk membubarkan acara malam keakraban yang dinilai meresahkan tersebut. Setelah acara dibubarkan, sekitar jam 22.15 WIB, Kepala SMA 3 Padang menelfon kami untuk memastikan apa benar yang mengadakan acara tersebut siswa akhir SMA 3 Padang. Setelah kami ajak ke lokasi acara serta memperlihatkan spanduk yang telah dirobek oleh siswanya, termasuk foto-foto yang ada dalam handphone kami, akhirnya Kepsek SMA 3 Padang mengakui kalau yang mengadakan acara memang siswanya,tapi pihak sekolah mengaku tidak pernah tahu dengan kegiatan ini,” kata Amrizal.
Melanggar Etika dan Adat
Ketua DPRD Kota Padang Erisman mengaku sangat terkejut dan sangat menyayangkan sekali atas perilaku yang telah mencoreng kebudayaan minangkabau dan dunia pendidikan di Kota Padang. Erisman menilai tidak seharusnya acara seperti itu digelar oleh siswa sekolah. Walau mereka mengatakan itu adalah acara terakhir mereka untuk menyambut kelulusan SMA. “Acara ini bukan budaya timur terutama di Sumatera Barat yang memiliki falsafah ABS-SBK. Seharusnya praktik seperti ini jangan sampai terjadi,” katanya.
Dirinya perlu mengingatkankan kalau ini dibiarkan terus akan berdampak pada pergaulan bebas bagi generasi muda di Kota Padang. Ini baru akan lulus SMA sudah demikian perilakunya,apalagi nantinya.
Melalui dinas pendidikan dirinya menegaskan untuk menegur kepala sekolah yang berangkutan serta kepala sekolah lainnya agar tidak lagi terjadi peristiwa seperti ini. “Pihak sekolah harus berani mengambil kebijakkan untuk menindak tegas jika siswa mereka menggelar acara atau kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan aturan dan kebudayaan lokal,” tegas Erisman.
Sekretaris Komisi IV DPRD Padang Iswandi Muchtar mengakui bahwa kejadian tersebut sudah mencoreng dunia pendidikan Kota Padang. Hal ini juga sangat disayangkan sekali dimana Pemko Padang sedang gencarnya melakukan program Padang kota religius namun di sisi lain malah menjatuhkan citra dunia pendidikan serta marwah religius di Kota Padang. Iswandi juga mengatakan kalau di lokasi kejadian itu ada oknum guru yang menghadiri atau pihak sekolah mengetahui. “Baik itu guru maupun kepala sekolahnya harus ditindak tegas,” katanya.
Dirinya menekankan bahwa Dinas Pendidikan harus mengambil tindakkan kepada pihak sekolah yang siswanya melakukan kegiatan yang memalukan ini. “Kapan perlu di berikan sanksi pemberhentian langsung,” ucapnya.
Ke depannya diminta agar setiap kegiatan yang dilakukan siswa harus diketahui oleh kepala sekolah bersangkutan dan harus ada izin dari Dinas Pendidikan. Agar tidak seenaknya membuat suatu acara atau kegiatan. Begitu juga untuk pihak hotel.
”Kami harapkan pada dinas pariwisata bisa melakukan peneguran pada pihak hotel agar selektif menerima tamu. Kan bisa pihak hotel melihat apa sih kegiatan siswa tersebut di hotel mereka. Harus ada batasan yang diberlakukan, untuk umum atau untuk pelajar,” ketus politisi PKB itu.
Kepsek: Ini Pembunuhan Karakter
Kepala SMA 3 Padang, Ramadhansyah mengakan bahwa kejadian ini adalah salah satu bentuk pembunuhan karakter di dunia pendidikan karena beritanya tidak pasti. Ia sangat menyayangkan hal ini, karena akan berdampak buruk pada sekolah. ”Pendapat saya, ini sama dengan pembunuhan karakter terhadap sekolah kami, padahal kejadiannya tidak seperti yang diberitakan,” sebut Ramadhansyah ketika dikonfirmasi.
Saat ini, terang dia, para alumni angkatan 36 tersebut sudah membuat surat pernyataan yang memuat beberapa poin. Yang menyatakan, bahwa acara tersebut adalah acara malam keakraban angkatan 36 dan bukan acara sekolah. Acara itu merupakan acara  kelompok dalam rangka merajut silaturahmi sekaligus melakukan pemilihan  ketua angkatan. Dalam acara ini terang dia, tidak ada guru atau wali kelas yang terlibat.
Adapun adegan berpelukan di kolam renang seperti yang dieberitakan itu juga tidak benar. Tapi itu hanya aksi untuk menolong teman yang masuk ke kolam, sehingga kelihatan berpelukan. Acara ini juga memutar video flashback siswa angkatan 36 dari saat MOS hingga masa perpisahan. Dan para alumni angkatan 36 menontonnya sambil tertawa. Dalam acara ini juga hadir sejumlah orang tua siswa angkatan 36 yang mengantarkan anaknya.
”Mengapa mereka masuk ke kolam renang, karena ada temannya masuk ke kolam. Terus yang lain menolong. Kemudian dia buka jas dan sepatunya dan dilempar ke atas,” sebut Ramadhansyah.
Amrizal Rengganis Bohong!
Ketua Panitia acara Muhammad Iqbal membantah segala pernyataan Amrizal Rengganis di Facebook. Dijelaskan Iqbal, acara yang dihelat tersebut, bukan acara sekolah, namun inisiatif angkatannya saja (Smantri 36). ”Ini murni inisiatif angkatan kami, bukan acara sekolah. Tujuannya untuk memilih ketua angkatan dan menjalin silaturahmi,” ungkap Iqbal saat dikonfirmasi, Minggu sore.
Dalam acara yang dihadiri 250 orang itu, menurut Iqbal, diawali dengan sambutan panitia, seterusnya pemutaran video flashback, pemilihan beberapa nominator, untuk siswa yang memiliki karakter masing-masing, serta acara puncak, pemilihan ketua angkatan. ”Acara ini setiap tahun diadakan, dan tak ada masalah. Agendanya jelas dan dihadiri wali murid,” papar Iqbal.
Terkait tudingan mandi bareng dan berpelukan, menurut Iqbal, semuanya tak benar. Mereka datang ke Bumi Minang dengan berbatik, pakai jas, kebaya dan jilbab.
”Kejadiannya seperti ini, ketika Widi Dermawan terpilih sebagai ketua angkatan, semuanya bersorak dan bergembira. Saking gembiranya, ada yang dorong-dorong dan bercanda, hingga masuk ke kolam renang. Melihat kawannya tercebur, ada yang menolong. Semuanya tidak disengaja. Terkait yang membuka baju, memang iya. Udah kuyup dan kedinginan, tentu dibuka bajunya. Tidak ada berpelukan segala. Amrizal Rengganis bohong,” tegas Iqbal.
Diakui Iqbal, Amrizal Rengganis memang berada di lokasi waktu itu, tapi dia dan anggotanya hanya memotret dan tidak ada permintaan pembubaran darinya. ”Kalau dibilang acara dibubarkan Pol PP, tidak benar. Acara usai karena memang sudah tak ada lagi agendanya. Amrizal dan anggotanya hanya foto-foto, tidak minta dibubarkan. Dia juga masuk secara illegal, dan tanpa izin pada panitia,” papar Iqbal.
Meski demikian, dalam surat pernyataannya, para pelajar minta maaf kalau acara yang dihelat tersebut dianggap menyimpang, walau mereka tak sedikit jua berniat untuk berbuat tak baik. “Kami punya masa depan, dan kami juga tidak berniat membuat acara yang menyimpang. Jika benar salah, kami minta maaf,” ungkap para pelajar, dalam surat pernyataan yang ditandatangani sembilan orang.
Bubar Sendiri, Bukan Dibubarkan
Jika Amrizal Rengganis menyebut di Facebook, kalau pembubaran dilakukan Pol PP karena perintah Wawako, namun hal itu tidak dibenarkan Kasat Pol PP Padang Firdaus Ilyas. Menurut Firdaus Ilyas, acara bubar sendiri, tanpa ikut campur Pol PP. ”Tidak ada Pol PP yang ikut membubarkan acara itu. Acara bubar dengan sendirinya, setelah Kepsek mengetahui kejadian tersebut,” ungkap Firdaus Ilyas. (ben/tin/o)