POLIKATA

NasDem Adem Ayem

0
×

NasDem Adem Ayem

Sebarkan artikel ini

Oleh : Reviandi

SAAT banyak partai sudah gencar mengumumkan bakal calon Gubernurnya, ada sejumlah partai yang terlihat santai. Namun, yang paling adem ayem adalah Partai NasDem yang dulunya sempat dikenal dengan Ormas Nasional Demokrat (Nasdem). Ada banyak kandidat yang bisa dimajukan oleh partai besutan bos media Surya Paloh ini di Sumbar, tapi langkah mereka masih senyap.

NasDem, partai yang dikenal dengan slogan “politik tanpa mahar” ini relatif adem ayem dalam kontestasi Pilgub Sumbar. Mungkin, karena kursi mereka di DPRD Sumbar hanya tiga dan tak punya posisi tawar yang kuat sebagai calon Gubernur. Posisi BA 2 adalah realistis untuk partai yang di Sumbar dipimpin Plt Ketua Umum DPW Hendrajoni ini. Hendra adalah Bupati Pesisir Selatan (Pessel) yang masih berniat memanjangkan masa periodenya 2021-2024.

Mungkin karena itu pulalah NasDem seperti belum terdengar gaungnya di Pilgub Sumbar. Karena Hendrajoni masih berjuang mendapatkan koalisi partai untuk mengusungnya sebagai calon Bupati Pessel. Salah-salah kakok, bisa-bisa dia tak dapat patner dan gagal berlayar ke Pilkada 23 September 2020. Apalagi, dia juga sudah “pecah kongsi” dengan wakil Bupati Pessel Rusma Yul Anwar dari Gerindra. Koalisi NasDem-Gerindra sulit terwujud di daerah paling Selatan Sumbar ini.

Ada beberapa skenario yang sebenarnya dijalankan oleh NasDem meski samar-samar terlihat di permukaan. Kadernya yang sempat menjadi Ketua DPW NasDem Sumbar Syamsu Rahim awalnya terlihat sebagai kandidat utama yang akan diusung. Namun sayang, kekalahan mantan Wako dan Bupati Solok itu dari istri Hendrajoni, Lisda Hendrajoni di Pileg 2019, seakan membuat langkahnya berat.

Syamsu Rahim seperti tak memiliki bahan bakar kuat untuk melaju lagi. Padahal, patnernya yang juga sama-sama kandas ke Senayan, Fauzi Bahar sudah memastikan bertarung sebagai calon wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri). Wali Kota Padang dua periode itu seperti kapok bertarung di Sumbar karena pernah kalah sebagai calon Gubernur 2010 (bersama Yohanes Dahlan) dan calon wakil Gubernur Sumbar 2015 mendampingi Muslim Kasim.

Kini, penerus Syamsu Rahim sebagai Wako Solok mulai digadang-gadang sebagai calon Gubernur atau wakil Gubernur Sumbar, Zul Elfian. Sebulan terakhir, balihonya sudah menyerang sejumlah titik di Sumbar — termasuk pemilih terbanyak di Sumbar, Kota Padang. Buya Zul katanya jadi harapan NasDem untuk menarik massa di Sumbar yang cenderung menyukai calon yang punya nilai religi tinggi. Salah satunya mungkin saja mantan Wakil Wako Solok zaman Wako Irzal Ilyas ini.

NasDem sebenarnya sudah menempuh jalan koalisi dengan PKS di pusat. Salah satu petinggi NasDem disebut punya hubungan dekat dengan Zul Elfian. Mahyeldi adalah target NasDem untuk dijadikan calon Gubernur dan wakil Gubernur Sumbar pada awalnya. Namun, duet dua buya ini tak mengapung ke permukaan seperti tenggelam seiring tak munculnya kader-kader NasDem di permukaan. Kini, kursi NasDem seakan hanya menjadi incaran bagi partai lain untuk melengkapi 13 kursi mengusung calon Gubernur-Wagub Sumbar.

Tiga bulan lalu, kader NasDem Asril Das juga tiba-tiba muncul dengan baliho-baliho super besarnya sebagai calon Gubernur Sumbar. Dia sempat melakukan beberapa komunikasi dengan sejumlah partai dan calon-calon yang mengapung sebagai kandidat. Tak perlu disebut satu per satu, karena nama yang mengapung masih itu ke itu juga. Sekarang, Asril Das tak terlalu banyak bergerak lagi. Sepertinya, kekalahannya di Pileg 2019 lalu masih menghantuinya.

Surya Paloh aka Hendrajoni harus lebih fokus lagi dalam membidik Pilgub Sumbar. Karena kesan “partai tanpa mahar” sangat dibutuhkan di tengah mulai adanya indikasi “jual-beli” kursi dalam pencalonan. Jangan sampai, NasDem hanya jadi penonton dalam alek demokrasi ini.

Karena NasDem adalah bagian dari partai yang mengusung Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres lalu. Kita lihat saja, apa yang akan dimainkan NasDem selain memastikan jabatan Hendrajoni “batambuah” sebagai Bupati Pessel. (Wartawan Utama)