Oleh : Reviandi
SEWAKTU pemilihan alat kelengkapan dewan (AKD) di DPRD Sumbar Oktober 2019 lalu, PKS benar-benar apes. Dari lima komisi dan alat kelengkapan lain, tak satupun muncul nama kader partai dakwah itu. Santer informasi beredar, PKS menjadi “musuh bersama” dan akan berlanjut sampai ke Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2020.
Hal ini tentu membuat cemas partai yang sudah 10 tahun memimpin Sumbar dengan kader utamanya Irwan Prayitno. Karena, di luar ada juga nada-nada sumbang yang menyebut, cukup 10 tahun untuk PKS. Pilgub mendatang, sebaiknya coba nama-nama dari partai lain. Sampai pertengahan Februari ini, hal itu sepertinya masih menjadi “kesepakatan” bersama banyak pihak.
Hasil Pileg 2019 menempatkan PKS sebagai partai nomor dua peraih suara terbanyak di Sumbar di bawah Gerindra. 10 kadernya lolos ke DPRD Sumbar dari 8 daerah pemilihan yang ada. Dengan kursi itu, PKS belum bisa mengusung calon sendiri. Minimal mereka butuh tiga kursi tambahan dari syarat 13 kursi pengusung calon Gubernur Sumbar 2020. Tak dapat koalisi, setinggi apapun survei kadernya, tak akan bisa berlayar di Pilgub.
Namun, pada Selasa (25/2) usai Maghrib, kabar lain pun lantang terdengar. Jagoan PKS untuk calon Gubernur Mahyeldi ternyata telah merapat atau mendapatkan jalan koalisi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai ini nasibnya sama di AKD DPRD Sumbar, tak mampu menempatkan kadernya di posisi pimpinan. Mahyeldi, sepertinya sudah klop dengan anak muda PPP Audy Joinaldi.
Malam itu, pasangan “belum sah” Mahyeldi dan Audy Joinaldy diterima Tim Desk Pilkada seluruh Indonesia di DPP PPP, di Jakarta. Mereka diterima tim yang dipimpin Ermalena, Ketua DPP PPP. Pasangan ini memang sudah menggema sejak sebulan terakhir. Saat Audy tiba-tiba membuat pengakuan ke media, dia telah “dilamar” Mahyeldi sejak 2019 lalu. Pengakuan menghebohkan ini cukup mengantarkan nama Audy jadi buah bibir selama sepekan.
Meski Mahyeldi telah “batandang” ke PPP menunjukkan keseriusannya “meminang” Audy, ternyata belum menjawab apa-apa. Sampai kemarin DPP PKS belum memberikan penetapan siapa yang akan digolkan di Pilgub Sumbar. Masih ada nama Mahyeldi dan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi.Kemungkinan, akhir Februari ini akan dipastikan, siapa yang menjadi jagoan yang berpeluang meneruskan perjuangan Irwan Prayitno.
Setidaknya, diterimanya Mahyeldi di PPP menjawab kecurigaan kalau PKS akan ditinggalkan kawan di tengah jalan. Akan gigit kursi saat para kandidat partai lain berkontestasi. PPP sudah memberikan harapan, meski memberikan catatan lain, hanya akan berkoalisi dengan PKS kalau mengusung Mahyeldi-Audy. Kalau Riza Falepi yang di-SK-kan PKS bagaiamana? Tentu akan beda ceritanya.
Tapi, dari sisi sebelah, konon Riza juga sudah memiliki calon koalisi lain — Partai NasDem. Kabarnya, opsi Riza Falepi-Syamsu Rahim menjadi alternatif dengan 13 kursinya. NasDem juga tak mendapat posisi pimpinan di AKD DPRD Sumbar. Pembicaraan ini sebenarnya jauh hari sudah terlihat — jauh sebelum Audy muncul dan membuat pengakuan. Tapi, kalau benar pasangan ini yang maju, beranikah Mahyeldi-Audy “kawin lari” dari PKS. Partai lain mungkin bisa saja mendukung, tapi Mahyeldi pasti tak mau.
Kini, semakin terang kalau PKS bukanlah musuh bersama saat otak-atik pasangan calon. Elektabilitas kadernya dan mesin partai yang masih kuat dianggap suatu yang sayang dibiarkan berlalu di Pilgub ini. Karena partai ini sudah terbukti memenangkan dua kali Pilgub Sumbar dan dua kali Pilkada Padang secara berturut-turut. Kontestasi terakhir Mahyeldi pemenangnya. Riza juga dua kali berjaya di Pilwako Payakumbuh.
Dengan kemungkinan empat pasangan calon muncul di Pilgub Sumbar; Fakhrizal-Genius Umar, Nasrul Abit dan pasangan, Mulyadi dan pasagan serta jagoan PKS dan pasangan, telah memastikan langkah PKS tidak akan jadi musuh bersama di Pilgub. Seperti yang mereka alami di Pilgub Sumbar dan Pilkada Padang terakhir. Dengan kader, simpatisan dan pendukung yang solid, tak menutup kemungkinan PKS masih bisa melanjutkan kepemimpinan Sumbar lima tahun lagi. (Wartawan Utama)





