BERITA UTAMA

Sebelum Tewas, Pak Tua Sempat Minta Segelas Kopi

0
×

Sebelum Tewas, Pak Tua Sempat Minta Segelas Kopi

Sebarkan artikel ini

ilustrasi
BUKITTINGGI, METRO–Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. Tak seorang pun bisa menolak atau mengundur kedatangannya. Hal itu berlaku pada Nurmawi. Lelaki gaek berusia 77 tahun itu, tewas saat berada di warung, Senin (4/4) pagi. Ketika sakratul maut, posisinya sedang duduk, sambil menunggu air minum yang dipesan pada pemilik kedai.
Kematian Nurmawi yang tiba-tiba, membuat buncah warga warga Pasar Banto, persisnya di Pendakian Wowo, Bukittinggi. Tak ada yang menyangka, Nurmawi akan tewas dalam posisinya yang sedang duduk. Bahkan, banyak yang tak menyangka dan berpikir, kalau pak tua itu hanya pingsan atau ketiduran. ”Saya merinding. Tak menyangka,” terang pemilik kedai kepada polisi.
Warga lainnya yang berhamburan ke warung tempat Darmawi meninggal juga terkejut dan langsung melapor ke polisi, ketika menyaksikan jasad Nurmawi tersandar, dengan mulut menganga. Tak menunggu lama, jasad Nurmawi yang di KTP-nya beralamat di Laing, Jorong PGRM, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Agam langsung dibawa ke Rumah Sakit Achmat Mochtar (RSAM) Bukittinggi.
Kapolsek Bukittinggi AKP Zahari Almu menjelaskan, sesuai keterangan pemilik warung yang ada di pendakian Wowo pada polisi, kalau Nurmawi baru pertama kali datang ke warungnya. Ketika masuk warung kepada pemilik warung yang seorang perempuan, Nurmawi mengeluh pusing dan meminta segelas kopi. ”Karena baru buka, pemilik warung menyuruh menunggu sebentar, sebab dia akan mandi,” terang Zahari Almu.
Selesai mandi dan didatangi, pemilik warung heran karena yang bersangkutan hanya diam dengan kondisi mulut menganga. ”Maka, dia langsung memberitahu masyarakat sekitar yang selanjutnya menghubungi pihak kepolisian. Ketika anggota datang ke lokasi, kondisi jasad langsung diperiksa, ternyata sudah tidak ada denyut nadinya. Selanjutnya, jasad dibawa ke RSAM Bukittinggi,” tutur Kapolsek.
Hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan di tubuh Nurmawi dan penyebab kematiannya diduga wajar. ”Diduga, korban mengalami sakit, dan kumat ketika sedang berada di warung. Korban meregang nyawa,” ucap AKP Zahari Almu.
Dijelaskan Kapolsek, berdasarkan KTP, pihak keluarga bisa dihubungi dan dikabarkan tentang kematian tersebut. Mendengar Nurmawi tewas di ekdai orang, pihak keluarga histeris.”Informasi dari pihak keluarga, Nurmawi sudah sakit-sakitan. Dia telah dua kali dirawat karena terkena stroke,” papar Kapolsek.
Kuat dugaan kalau yang Nurmawi tewas akibar penyakit stokenya kambuh. ”Karena diduga meninggal dunia secara wajar dan pihak keluarga menolak untuk dilakukan visum. Kepergian korban sudah diikhlaskan,” tutur Zahari.
Adanya permintaan dari pihak keluarga, maka pihak Polsek Bukittinggi membuat surat pernyataan yang ditandatangani pihak keluarga, yang menolak untuk dilakukan visum. “Keluarga tidak akan mempermasalahka kematian yang bersangkutan kemudian hari. Selanjutnya, dibuatkan surat penyerahan dari pihak kepolisian pada keluarga yang akan menguburkan Nurmawi secara layak,” ungkap Kapolsek. (wan)