BERITA UTAMA

”Utang Nyawa Dibayar Nyawa”

0
×

”Utang Nyawa Dibayar Nyawa”

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Tragedi pembunuhan dilakukan Satpam terhadap korban Adek Firdaus (43) lantaran masuk tanpa izin ke kawasan mess PT CSK Dermaga Beton Umum Pelabuhan Teluk Bayur berbuntut panjang. Ratusan warga yang tak terima atas kematian korban, mengepung kantor PT Pelindo II Teluk Bayur, Kamis (2/1) sekitar pukul 10.00 WIB.
Kedatangan warga untuk menemui pimpinan Pelindo, menuntut kematian Adek Firdaus yang dinilai tidak wajar dan sangat keterlaluan. Selain menuntut proses hukum bagi oknum Satpam PT Pelindo yang telah menikam korban hingga tewas, warga pun menuntut tanggungjawab moral kepada PT Pelindo II dalam kasus tersebut.
Meski pihak PT Pelindo menutup jalan dengan beton pembatas dan dijaga puluhan pihak keamanan, namun warga bersuaha menerobos masuk dan melakukan orasi di halaman depan PT Pelindo II. ”Utang nyawa dibayar dengan nyawa,” sorak salah seorang warga di tengah kerumunan.
“Kami tidak ingin lagi Satpam yang menjaga areal pelabuhan. Kami ingin fungsi pengamanan diserahkan kepada Polisi,” tambahnya.
Sementara, seorang warga lainnya bernama As meminta pelaku penusukan Adek Firdaus digiring ke penjara dan dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.”Dia mati tidak dengan satu atau dua tusukan,” teriak As.
Jusni (50), kakak kandung Adek Firadus mengaku, aksi meminta pertanggungjawaban kepada pihak PT Pelindo atas meninggalnya Adek Firadus itu berlangsung spontan dan tak ada pihak pihak lain yang menungganginya. Aksi ini murni bahwa masyarakat di Telukbayur ini adalah satu kesatuan yang kuat. Untuk itu kematian Adek Firdaus dengan sembilan tusukan yang sudah disengaja ini harus disikapi.
“Ini bukanlah tindakan seorang tenaga pengamanan. Ini adalah tindakan seorang pembunuh. Bayangkan saja pak. Adek Firdaus mendapatkan tusukan bertubi-tubi bersarang di tubuhnya. Tengkuk kepala, bahu, rusuk kiri luka robek mengenaskan, ulu hati, paha kiri kanan dan selangkan juga ditusuk. Ini tindakan brutal yang disengaja pelaku. Kami warga Telukbayur menuntut Pelindo,” teriak Jusni dengan histeris.
Selain itu Jusni juga memahami, jika adiknya Adek Firadus malam itu melakukan perbuatan melanggar hukum, kenapa diperlakukan seperti itu. “Kami paham. Jika bersalah, polisikan ada. Jangan dibunuh secara brutal,” ungkapnya.
Jusni menambahkan, jasad Adek Firdaus dikebumikan Kamis dinihari (2/1) sekitar pukul 02.00 WIB, di Pandan Pemakaman Keluarga Gunung Bontak, Bak Air, Telukbayur.
“Awalnya usai pemakaman dinihari kemarin, ratusan warga akan bergerak ke pelabuhan Teluk Bayur mencari pelaku. Namun bisa kita tahan,” jelas Jusni.
Lain lagi yang dikatakan Novianty (63), didampingi Darwis alias Ajo (59) mengaku, warga Teluk Bayur trauma dengan aksi oknum Satpam brutal itu. Masyarakat ingin kembalikan fungis pengamanan Pelabuhan Telukbayur kepada Polisi.
“Sesuai aturan yang berlaku, sebagai penanggungjawan pengamanan apalagi objek vital adalah polri dan KPLP Pelabuhan, bukan Satpam atau TNI. Ini sudah diatur undang undang. Jangan kami diperbodohi lagi,.” ulas Darwis alais Ajo.
Amril Amin, dan Ilham Maulana, dua anggota DPRD Padang yang datang ke lokasi mengatakan, sesuai kesepakatan antara PT Pelindo dengan masyarakat dan pihak terkait lainnya, PT Pelindo berjanji akan menindaklanjuti orasi warga Teluk Bayur.
“Mengenai tenaga pengamanan, berhubung GM Pelindo tak ada di tempat, maka belum dibicarakan. Tapi yang jelas, sesuai aturan yang berlaku, pengamanan Pplabuhan akan dipakai Polisi. Kita masih menunggu GM Pelindo,” ujar Amril Amin.
Menanggapi orasi warga, PLH PT Pelindo Ridwan Setia Budi menegaskan, proses hukum berlanjut dan diserahkan sepenuhnya kepada pihak Polsek KP3 Teluk Bayur. Untuk pertanggungjawaban secara moralnya, pihaknya akan bertanggungjawab.
“Selain itu, pada saat GM Pelindo datang nantinya, kami akan mengajak tokoh masyarakat untuk duduk bersama membicarakan soal penggusuran rumah. Kami akan melakukan pengukuran ulang lagi, sesuai dengan nilai bangunannya. Tunggu saja nanti,” bebernya.
Kapolsek KP3 AKP Sutrisman mengaku kasus ini masih dalam penyelidikan. Barang bukti dan pelaku pembunuhan sudah diamankan untuk menjalani proses hukum.
”Sejauh ini kami sedang mendalami pemeriksaan pelaku dan saksi saksi,” tegas Sutrisman. Sebelumnya, masuk tanpa izin ke kawasan mess PT CSK Dermaga Beton Umum Pelabuhan Teluk Bayur hingga berduel dengan Satpam yang mengusirnya, Adek Firdaus (43) tewas bersimbah darah akibat ditikam pisau, Rabu (1/1) sekitar pukul 04.00 WIB. Tragisnya, pisau yang ditikamkan Satpam itu merupakan pisau milik korban yang berhasil direbut ketika berduel.
Melihat korban sudah terkapa tak bernyawa, Satpam bernama Efendri Putra (32) dan rekannya Eko Sulistiono (30) kemudian melaporkannya ke POM AL dan membawa korban ke Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo menggunakan mobil PT Pelindo II Teluk Bayur. Setelah itu, Satpam yang berdalih membela diri, diamankan Polsek Kawasan Teluk Bayur untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. (ped)

Baca Juga  Digerebek, Bandar Narkoba Sembunyi di Loteng Rumah, Ratusan Paket Sabu Disita