Koran POSMETRO terbit Rabu 23 Maret 2016
PADANG, METRO–Kota Padang betul-betul terendam. Selasa (22/3), aktivitas ibu kota Sumbar ini lumpuh. Di sana-sini kesedihan mengalir deras bagai derasnya hujan yang turun tak kunjung berhenti. Warga kota diselimuti ketakutan, bingung, dan rasa takut karena rumah mereka sudah terendam. Mau menyelamatkan diri, sudah terjebak. Air sudah mencapai dada orang dewasa.
Hujan lebat yang tak kunjung berhenti sejak Senin (21/3) sekitar pukul 22.00 WIB hingga Selasa, telah menyebabkan banjir terparah melanda wilayah Kota Padang, sejak 30 tahun terakhir. Rumah-rumah warga yang selama ini tak pernah ”tersentuh” banjir, kini tak mampu lagi menahan derasnya air.
Orang tua, anak-anak kesulitan mencari jalan keluar dari banjir. Digotong dengan gerobak, memakai perahu karet hingga digotong oleh aparat polisi. Selasa pagi, ada yang kembali ke rumah, karena tidak ada jalan tembus yang bisa dilalui menuju kantor dan sekolah. Banyak sekolah diliburkan. Toko-toko tidak buka, karena terisi luapan air.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah &Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kota Padang, dampak hujan deras yang mengguyur sejak Senin malam, meredam 5 kecamatan, yakni Kototangah (70 persen), Kuranji, Nanggalo, Padang Barat dan Padang Utara. Sebanyak 11.500 unit rumah terendam dan 65 ribu warga menjadi korban.
Banjir terparah dirasakan sebagian besar warga di Kecamatan Kototangah. Di kecamatan ini, terdapat 12 titik banjir. Di antaranya, rumah potong hewan Lubukbuaya, Kelurahan Bungopasang, Maransi Parak Jambu, Salingka Bungo Permai, Kampus Maritim Koto Panjang Ikua Koto, Balai Kota Aiapacah. Kemudian, RS Siti Rahmah Aiapacah, Muaro Panjalinan, Simpang Kalumpang, Perumahan Harmoni Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Pasia Jambak,
Padangsarai, Tabiang Banda Gadang.
Bahkan, akses jalan Adinegoro-Lubukbuaya, lumpuh total, sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 11 lewat. Kendaraan tidak bisa lewat karena ketinggian air sudah sdada orang dewasa terutama di kawasan Simpang Kalumpang hingga Lubuk Pasar Lubukbuaya (depan Puskesmas).
Meluapnya air dari bantaran sungai di jembatan Simpang Kalumpang, juga menyebabkan bantaran rel kereta api rusak. Pantauan POSMETRO, sekitar pukul 13.00, ruas jalan Simpang Kalumpang sudah kembali normal.
”Saya terpaksa balik arah lagi, karena jalan sudah dihambat dari Mutiara Putih. Air berwarna cokelat dan sangat tinggi. Rumah-rumah yang ada di Kompleks Mutiara Putih sudah terendam semua. Air mengular tinggi ke jalan,” ungkap Novitri, guru SLB 2 Padang Sarai.
Ia menyebut, puluhan kendaraan terjebak baik dari arah Padang menuju Lubukbuaya atau sebaliknya. Semua berbalik arah.
Sementara, Nurmali (56), warga Kompleks Lubuk Gading Permai mengaku, banjir yang terjadi Selasa merupakan yang terburuk sepanjang 14 tahun terakhir. Ia tidak menyangka hujan lebat sejak malam merendam rumah yang sudah ditempatinya itu.
Hal sama juga diungkap Andi (44), warga Kompleks Mega Permai, Kayukalek, Kecamatan Kotatangah. Sejak 1980, inilah banjir yang paling besar. “Airnya berwarna cokelat, seperti banjir bandang saja. Banyak warga terkepung dan terjebak. Kami bertahan sampai pagi, hingga ada bantuan datang,” ungkap Andi.
Pantauan POSMETRO, salah satu daerah yang direndam banjir berada di Perumahan Cendana Tabing dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter. Warga setempat mengatakan, sekitar empat blok perumahan dengan 500 rumah yang direndam banjir. “Karena air terus naik saya putuskan mengungsi ke daerah Aiadingin,” ujar Yohanes (34), salah seorang warga.
Banjir juga merendam perumahan Salingka Bungo Permai Padang dengan ketinggian air di atas satu meter. Hal serupa menimpa perumahan di Lubuk Gadang Batang Kabung Ganting yang menyebabkan sekitar 20 kepala keluarga mengungsi ke kawasan rel kereta api. Sementara, di Jalan Padang dan Padangpariaman, ratusan warga juga terjebak banjir.
Ekskavator Dihanyutkan
Sementara, warga Tunggul Hitam, Basuki mengatakan, sekitar pukul 04.00 WIB sempat melihat satu unit ekskavator yang hanyut di sungai Batang Kuranji. “Ketika tiba di jembatan sebelah Basko Mall keluar kilat seperti petir diikuti dentuman cukup keras setelah itu listrik langsung padam,” ujarnya.
Tidak hanya di pusat kota, kawasan Panorama I Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubukkilangan yang merupakan jalan pendakian berbukit menuju Solok juga longsor, tepatnya di kawasan Panorama I (dekat TPR). Sempat terjadi kemacetan di lokasi tersebut karena pembersihan jalan dari material longsor yang meluber ke jalan.
Evakuasi
Sejak Selasa subuh, tim gabungan SAR sudah mulai menyisiri rumah-rumah warga yang terendam. Banyak warga terjebak. Lokasi terparah adalah Maransi, Parak Jambu, Batipuh Panjang, Pasia Nan Tigo dan Dadok Tunggul Hitam.
Selain mengevakuasi seluruh warga yang terjebak, Pemko Padang, kemarin memberikan bantuan kepada seluruh korban. Dalam evakuasi itu, dua warga di Batipuah Panjang pingsan karena kedinginan. Kedua wanita itu, telah dilarikan ke puskesmas.
Tidak hanya rumah warga, sekitar 50 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Kototangah tak bisa mengikuti proses belajar mengajar (PBM). Puluhan skolah terendam.
Wali Kota Padang Mahyeldi Dt Marajo mengatakan, Kototangah merupakan wilayah terparah. Warga sudah dievakuasi hingga Selasa siang.
”Sebanyak 23 perahu karet menyisiri sejumlah lokasi banjir. Di Dadok Tunggul Hitam ditempatkan 16 perahu karet. Kami mengimbau kepada warga agar menjauhi aliran sungai hingga air kembali surut,” kata Mahyeldi.
Kalaksa BPBDPK Padang, Dedi Henidal, mengatakan proses evakuasi warga melibatkan tim gabungan dari BPBD Padang, BPBD Provinsi, Basarnas, Korem, Kodim, TNI AL, Brimob Polda Sumbar.
”Kerugian belum bisa diperkirakan. Yang jelas di Parak Jambu sekitar 1.500 rumah warga terendam banjir,” kata Dedi.
Longsor
Sementara itu, hujan lebat membuat beberapa rumah yang ada di kawasan kompleks perumahan di Sungai Lareh, Kecamatan Kototangah, longsor. Sedikitnya, empat rumah terkena longsor dan sebuah mobil juga tertimpa pohon yang dibawa aliran air bah. Saat ini, masyarakat di kawasan itu juga tengah was-was jika terjadi air bah susulan.
Akibatnya, Endri Gusrizal, warga Komplek Perumahan Graha Indah 3 Blok E No.8 RT 01 RW 07 Sungai Lareh, Kelurahan Lubuk Minturun, terpaksa mengungsi sementara. Menurutnya, rata-rata para korban tinggal di bawah bukit yang berjarak kurang 3 meter dari atas bukit tanpa penahan longsor.
Endrizal, korban lain yang rumah dan mobilnya dihantam longsor juga tidak menduga sama sekali dengan kejadian ini. Menurutnya, longsor terjadi akibat pagar komplek perumahan belum dibuatkan oleh pihak developer. Selain itu, longsor terjadi bukan sekali saja, tapi sudah yang kedua kalinya.
”Longsor pertama terjadi sekitar setahun yang lalu, longsor pertama mengenai beberapa rumah komplek perumahan. Dan yang paling parahnya terjadi pada rumah tetangga saya bernama Maskar. Longsor kali ini, dinding rumah retak dan tanah longsor juga masuk ke dalam rumah,” kata Endrizal.
Sementara, Ketua RW 07 Anwar mengatakan, kompleks perumahan tersebut
sebenarnya tidak layak dijadikan perumahan karena kondisinya yang pas sekali ada di bawah bukit. Menurutnya, suatu saat longsoran tersebut bisa memakan korban jiwa, walaupun longsor yang sekarang ini tidak ada korban jiwa.
Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar Pagar Negara mengatakan, akibat hujan yang mengguyur sejak Senin (22/3), membuat 6 daerah di Sumbar dilanda banjir. Diantarannya, Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padangpariaman, Agam, Pasaman, dan Kota Bukittinggi.
”Dari 6 daerah di Sumbar itu, yang paling parahnya di Kota Padang. Bahkan, dari beberapa tahun terakhir, banjir kali ini lebih parah dari sebelumnya. Di mana, daerah yang sebelumnya belum pernah terkena banjir, sekarang terendam,” sebutnya saat dihubungi, Selasa malam.
Namun, katanya, untuk saat ini pihak BPBD Sumbar masih menunggu data pasti dair kabupaten/kota yang terkena banjir. “Kalau sekarang, belum terdata dengan pasti. Belum tahu berapa kerugiannya. Ini masih dalam tahap evakuasi,” jelasnya.
Untuk saat ini, BPBD Sumbar telah menurunkan sebanyak 6 perahu karet untuk evakuasi warga. Sehingga, di Kota Padang saja, ada sebanyak 24 perahu karet yang di-standby-kan untuk mengevakuasi warga. Begitu juga dengan posko bencana, juga telah didirikan di Maransi, Aiapacah.
Sementara, Gubernur Irwan Prayitno mengatakan, pemerintah kabupaten/kota harus mengevaluasi penyebab banjir. Karena belakangan bencana banjir makin sering merendam sejumlah wilayah di Sumbar. ”Kalau salurannya yang rusak, perbaiki. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermasalah, provinsi akan usahakan untuk membantu,” katanya, kemarin.
Meski bencana banjir terjadi pada sejumlah daerah, namun ia bersyukur tidak ada laporan banjir bandang yang terjadi. Secara umum, hingga siang banjir yang melanda Kota Padang, mulai surut. Namun, pada beberapa titik air masih tergenang, salah satunya di Maransi, Kecamatan Kototangah.
Tak hanya banjir, longsor juga terjadi di sejumlah wilayah di Sumbar. Dari data BPBD Sumbar, ada tiga daerah di Sumbar terjadi longsor. Diantaranya, Padang, Pasaman, dan Kabupaten Agam.
Dijelaskan Pagar Negara, di Kota Padang, longsor terjadi di dua titik. Pertama di jalan Padang-Solok, dan kedua di Lubukminturun. “Informasi yang kami terima, di Lubuk Minturun ini menimbun dua rumah warga. Sehingga, warga yang tinggal di sana, dievakuasi di mushala terdekat,” jelasnya.
Sementara di Pasaman, titik longsor terjadi di Kelurahan Barangin, sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat longsor ini, jalan menjadi macet selama 1 jam. “Saat ini kondisinya sudah normal kembali,” sebutnya.
BMKG: Dampak Equinox
Kasi Observasi dan Informasi BMKG Padang Budi Samiaji menyebut, hujan diprediksi masih akan terjadi hingga 3 hari ke depan. Karena itu, warga Kota Padang diminta tetap waspada, terutama pada malam hari.
Diperkirakan, intensitas curah hujan mencapai 356 mm. Curah hujan itu tergolong ekstrem.
”Tingginya intensitas curah hujan merupakan dampak equinox yang terjadi pada tanggal 21 Maret lalu. BMKG sebelumnya sudah melansir bahwa di Sumbar fenomena equninok akan berdampak pada peningkatan curah hujan, meski beberapa daerah di Indonesia mengalami peningkatan suhu udara. (age/r/da)





