BERITA UTAMA

Misteri Batu Tagak Sungai Lareh (1)

0
×

Misteri Batu Tagak Sungai Lareh (1)

Sebarkan artikel ini

BATU Tagak. Nama ini sama seperti judul lagu Minang yang dibawakan oleh Lily Syarief di tahun 1960-an dan Efrinon di tahun 1980-an silam. Namun, Batu Tagak yang ada di Bukit Batu Tagak Sungai Lareh, Kelurahan Lubukminturun, Kecamatan Kototangah ini berbeda. Konon, warga di sekitar lokasi sering mendengar pekikan minta tolong dari batu tersebut yang menandakan akan ada kejadian di daerah itu.

Banyak yang tidak tahu mungkin, ternyata Legenda Malin Kundang yang sudah tersohor itu ada lagi ditemukan di Kota Padang. Namun, gaung Batu Tagak ini tentu saja tidak seperti Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis. Tapi, masyarakat sekitar percaya kalau Batu Tagak yang ada di lereng bukit ini adalah manusia yang juga dikutuk, bukan karena durhaka, melainkan karena meresahkan orang akibat tindakannya yang suka berjudi pada masa itu.

Sekilas, saat dilihat langsung pada Selasa (1/3) kemarin, Batu Tagak ini terlihat seperti menhir, peninggalan budaya yang ada di Kenagarian Mahek, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota. Dahulu, Batu Tagak tersebut ditemukan memiliki dua buah tangan dan kepala dengan jenggot mencapai pusarnya.

Tapi, dua tahun belakangan batu tersebut hanya tersisa Batu Tagak dengan bagian bawahnya menancap dalam ke tanah dengan bagian yang disebut kepala menghadap ke arah puncak bukit yang di sana juga ditemukan kapalnya. Jarak kapal dengan batu tagak tersebut juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu kilometer ke arah puncak bukit.
Di belakang batu, juga ada sebuah sumur kecil yang dikatakan Yenti dihuni oleh seekor lele putih. Lele ini kabarnya keluar saat jam setengah sore ketika hujan gerimis. Biasanya, kalau ada yang melihat lele ini, anggota keluarganya dapat kemalangan.

Selain itu, kabarnya bagian tangan dan kepala batu itu dirusak oleh sejumlah anak sekolah yang bermain di sana. Malangnya, entah kebetulan atau tidak, anak sekolah yang mengganggu tersebut meninggal tujuh hari setelah kejadian itu.

Menurut warga, batu tersebut sudah ada sejak daerah itu menjadi daratan, karena ninik moyang di daerah itu mengatakan kawasan Sungai Lareh ini dulunya adalah laut. Dan cerita tersebut sudah tersebar secara turun temurun. Saat ini, masih tersisa seorang bukti sejarah wilayah itu yang sudah berumur lebih dari 110 tahun dan biasa dipanggil Mak Gaek oleh warga.

Dari penuturan Mak Gaek yang disampaikan kepada Yenti (40), warga yang rumahnya berada persis di depan batu tersebut menceritakan bagaimana batu tersebut bisa sampai ke lereng bukit yang dikenal berbau mistis oleh warga. Jangankan masuk lebih jauh ke puncak bukit, untuk sampai di lereng saja sudah tidak berani.

Disebut Yenti, batu itu sudah ada sejak dahulu, jauh sebelum ada warga yang tinggal di kawasan Sungai Lareh. Konon, batu tagak ini adalah seorang pria tua yang kesehariannya sering berjudi hingga lupa dengan keluarga sendiri. Pria yang bekerja sebagai nelayan itu hidup di atas kapalnya dan tidak peduli dengan kehidupan luar, termasuk keluarganya.

”Kerjanya hanya berjudi saja dengan teman sama melaut, dapat ikan, dijadikan taruhan, sehingga keluarganya teraniaya,” cerita Yenti, kemarin.

Kemudian, sikap pria yang tidak peduli dengan keluarganya ini membuat warga yang marah dan menghancurkan kapalnya. Pria itupun dilemparkan ke dalam laut. Setelah perubahan zaman dan Sungai Lareh sudah menjadi daerah, barulah ditemukan batu tersebut dengan posisi kedua tangan terangkat keatas seperti orang minta ampun.
”Lalu, cerita ini pun menyebar dari mulut ke mulut sampai ke anak cucu hingga sekarang,” ucapnya.

Menurutnya, Batu Tagak ini memang memiliki unsur mistis yang kentara, seperti yang dialami sendiri oleh Yenti. Saat itu, dia baru tinggal di kawasan itu dan mendengar teriakan minta tolong dari arah belakang rumah. Yenti pun kaget karena itu adalah suara pekikan yang keras dari batu tagak tersebut.

Tidak lama setelah itu, di sebelah rumahnya terjadi aksi saling bunuh antara mamak dan kemenakan serta melibatkan orang kampung. “Awalnya saya juga kurang percaya, tapi saya mengalaminya sendiri,” tutur ibu beranak empat ini. (bersambung)