Semenjak adanya larangan oleh pemerintah akan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promotors/AGP) per tanggal 1 Januari 2018, para peneliti di bawah perguruan tinggi berlomba-lomba untuk mencari pengganti penggunaan antibiotik.
Larangan akan penggunaan antibiotik tertuang dalam Pasal 16 Permentan No 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan yang mengacu pada UU No.41/2014 Jo. UU No 18/2019 tentang Peternakan dan Kesehatan. Penggunaan antibiotik yang dapat meninggalkan residu pada hasil produk peternakan seperti telur atau daging akan berdampak apabila dikonsumsi oleh manusia. Hal tersebutlah yang menjadi alasan utama pelarangan penggunaan antibiotik.
Seiring dengan pelarangan antibiotik dalam praktik rutin peternakan khususnya unggas, probiotik dianggap sebagai solusi yang menjanjikan untuk mencegah bakteri patogen yang menyebabkan penyakit pada ternak. Probiotik merupakan pakan aditifberupa mikroorganisme hidup non patogen yang diberikan kepada ternak untuk dapat memperbaiki laju pertumbuhan, efesiensi konversi ransum dan kesehatan ternak. Probiotik bisa dalam bentuk granula, tablet, maupun powder yang penggunaannya dengan dicampur pada air minum atau pakan.
Probiotik Waretha merupakan aditif makanan tambahan berupa bubuk untuk unggas yang ditemukan oleh Prof Dr Ir Wizna MS, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Probiotik Waretha merupakan bakteri Bacillus Amyloliquefaciens sebagai inokulum fermentasi probiotik ternak unggas. Probiotik Waretha yang diklaim dapat meningkatkan efesiensi pakan dan kesehatan ternak ini tidak hanya dapat digunakan pada unggas seperti ayam broiler, itik, puyuh tapi juga dapat diberikan pada ikan. Produk probiotik Waretha yang telah diproduksi oleh Fakultas Peternakan Unand sudah dapat di nikmati manfaatnya oleh para peternak.
Melalui program IPTEK Berbasis Program Studi Dan Nagari Binaan (IbPSNB), Fakultas Peternakan Unand Kampus II Payakumbuh melakukan pengabdian masyarakat dengan menyosialisasikan pemanfaatan penggunaan probiotik Waretha pada pakan ternak itik di Nagari Sungai Kamuyang, Kabupaten Limapuluh Kota. Tim pengabdian yang diketuai oleh Ir. Erpomen, MP yang juga selaku ketua Prodi Peternakan Kampus II Payakumbuh bergandeng bersama lebih dari 13 Dosen yang ahli berbagai bidang melakukan sosialisasi penggunaan probiotik Waretha pada peternak itik di nagari binaan tersebut. Program pengabdian dari Perguruan Tinggi ini diharapkan dapat menimbulkan efek positif bagi peternakan itik sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan peternak.
Dalam pengabdian juga di paparkan bahwa produk waretha kini telah banyak dicobakan pada ternak unggas seperti ayam broiler, tepatnya 20.000 ekor ayam broiler telah dipanen yang menghasilkan ayam organik di nagari Sikabu, Padang pariaman pada tahun 2018 lalu (sumber : gentaandalas.com). Hal itu terbukti meyakinkan para peternak akan keunggulan produk probiotik waretha yang mumpuni.
Biaya ransum yang tinggi hingga kini masih menjadi polemik bagi para peternak itik. Ternak unggas memiliki keterbatasan dalam mencerna serat kasar dibandingkan ternak besar, untuk itu harus menggunakan ransum pakan yang memiliki serat yang rendah. Sedangkan, pakan untuk serat yang rendah memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga dapat meningkatkan biaya produksi. Mengatasi problema tersebut, diperlukan mikroba yang dapat memecah serat kasar tersebut, sehingga serat kasar dapat menurun, dan penggunaannya pun menjadi meningkat dengan peningkatan efesiensi pakan.
Hal ini mengartikan hanya dengan menggunakan pakan yang lebih sedikit tetapi kebutuhannya tetap terpenuhi. Diharapkan dengan penggunaan probiotik waretha yang mengandung mikroba yang dapat memecahkan serat tersebut, dapat menekan biaya harga pakan yang dikeluarkan oleh peternak. Dengan kata lain laba keuntungan peternak menjadi semakin besar dan memotivasi peternak untuk mengembangkan sayap usaha lebih besar.
Selain menekan harga pakan, probiotik waretha juga digadangkan dengan klaim “ramah lingkungan”, kenapa begitu ? karena probiotik waretha yang bekerja di dalam usus ternak memiliki sifat antimikroba dan anti bacterial yang baik untuk kesehatan ternak, yang mana dapat menahan aktifitas dari mikroba yang ada pada feses unggas. Sumber bau yang dapat mencemari lingkungan itu berasal dari amonia (NH3). Gas amonia merupakan hasil dekomposisi bahan limbah nitrogen ekskreta akibat adanya aktivitas mikroorganisme dalam feses. Kadar amonia yang berlebihan ini akan berdampak pada kesehatan ternak dan juga lingkungan sekitar kandang. Dengan kata lain, pemberian probiotik waretha dapat mengurangi kadar amonia sehingga tidak menimbulkan bau pada kandang.
Nah, Setelah kita mengetahui manfaat penggunaan probiotik Waretha, lalu bagaimanakah cara pemberian nya? Jadi, kemasan produk probiotik waretha dengan berat bersih 100 gram ini bisa digunakan untuk kapasitas hingga 1000 ekor unggas. Harga per kemasan pun cukup ekonomis, yaitu dibandrol dengan harga Rp. 50.000/kemasan, cukup ekonomis bukan? Pemberian waretha dapat diberikan seperti memberikan air minum saat doc pertama datang dan pada umur 2 minggu untuk broiler, serta satu kali per 3 minggu untuk unggas petelur baik itu ayam maupun itik. Pembuatan larutan Probiotik waretha juga sangat mudah, yaitu cukup dengan melarutkan gula ke dalam air mendidih, lalu didinginkan hingga suam-suam kuku, selanjutnya probiotik waretha dicampur rata dan didiamkan selama kurang lebih 30 menit, kemudian siap untuk diberikan ke ternak, adapun komposisi perbandingan probiotik wareta, air dan gula pasir adalah 100 gram probiotik waretha, 10 liter air, dan 1 Kg gula pasir.
Setelah menyosialisasikan panjang lebar dan mendemokan cara pembuatan larutan produk waretha, Tim Pengabdian Faterna Payakumbuh langsung beraksi nyata memberikan beberapa kemasan produk dan siap dipraktekkan pada peternakan itik di nagari binaan Sungai Kamuyang. Diharapkan pembinaan yang dilakukan oleh pihak akademisi tersebut memberikan manfaat positif pada para peternak. Keberkelanjutan kegiatan ini dibuktikan dengan bimbingan dan pengawasan yang intensif dari perguruan tinggi. (Dosen Fakultas Peternakan Unand Payakumbuh)





