PARIAMAN, METRO – Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau kualitas udara di Kota Pariaman kembali berada di level tidak sehat. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran dulu. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Syahrul, mengatakan, saat ini ISPU di Kota Pariaman berada diangka 140 mikrogram/m3, atau berada dilevel tidak sehat. Peningkatan itu terjadi mulai sejak Selasa (15/10) siang.
Ia mengatakan, kemungkinan lebih parah lagi sepertinya ada.
”Kalau tidak ada hujan dan arah angin ke barat, berarti akan ada peningkatan untuk lebih buruk lagi,” ujarnya.
Meski demikian cuacanya, tapi untuk meliburkan sekolah di kota itu belum ada.
“Kalau dengan kondisi sekarang belum perlu meliburkan sekolah. Tapi kita lihat dulu besok, seandainya semakin parah tentu kita akan rapat koordinasi lagi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” ucapnya.
Kata Syahrul, pihaknya mengimbau agar masyarakat jangan dulu melakukan pembakaran, baik itu jerami, sampah dan lainnya, sebab itu akan lebih memperburuk kondisi udara di kota itu.
Kemudian untuk masyarakat agar mengurangi aktifitas di luar ruangan dan menganjurkan untuk tetap memakai masker jika berada di luar ruangan dan gunakan kacamata dalam berpergian. Selanjutnya jaga kesehatan dan banyak minum air putih.
Sebelumnya, ulah kabut asap yang menebal karena kiriman provinsi tetangga, Pemko Pariaman bulan lalu, meliburkan siswa hingga tiga hari ke depan atau dari 23 hingga 26 September 2019 akibat semakin pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota itu.
”Siswa mulaidiliburkan Senin (23/9) usai jam istirahat hingga Kamis (26/9) dan masuk kembali pada Jumat (27/9),” kata Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Yurnal, pekan lalu.
Dikatakan, keputusan meliburkan sekolah ini karena dalam dua hari ini kabut asap semakin berdampak ke daerah itu yang disebabkan arah angin bergerak dari Timur ke Barat.
Ia menyampaikan jika pada Jumat nanti kabut asap masih tebal, maka libur siswa akan diperpanjang.
”Jadi libur siswa ini sesuai dengan kondisi ketebalan kabut asap,” katanya.
Ia mengatakan meski sejumlah sekolah saat ini melaksanakan ujian mid semester, namun ujian tersebut harus ditunda hingga kondisi udara membaik.
Meskipun diliburkan, lanjutnya, siswa di daerah itu diberikan tugas dari pihak sekolah agar tetap belajar di rumah. ”Jadi bisa dikatakan kami memindahkan belajarnya dari yang biasanya di sekolah menjadi di rumah,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemko juga melarang warga tidak membakar sampah dan jerami padi guna mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah di Indonesia yang mana juga berdampak hingga ke kota itu.
“Kami sudah melarang warga agar tidak mambakar sampah, jerami atau pun jenis lainnya agar tidak menambah buruk kondisi udara di Pariaman,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Syahrul. (z)





