LAGI, permasalahan lingkungan kembali mendera masyarakat Sumbar terutama masyarakat Kabupaten Solok Selatan (Solsel). Yakni, masalah kabut asap kiriman dari daerah provinsi tetangga,yang kembali dirasakan masyarakat.
Sehingga, akibat kabut asap kiriman yang kian hari semakin tebal melanda Kabupaten Solok Selatan (Solsel), Pemerintahan Kabupaten setempat kembali meliburkan semua sekolah yang ada, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Lanjutan Atas (SLTA).
“Untuk meliburkan sekolah, kami sudah buat surat edaran untuk kembali meliburkan sekolah untuk tiga hari ke depannya, saat ini kondisi kabut asap sudah tidak sehat,” ujar Bupati Solsel H Muzni Zakaria, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdipora), Zulkarnaini, Rabu (16/10).
Pemkab Solsel mulai meliburkan sekolah Kamis sampai Sabtu (17-19/10). Senin (21/10) siswa kembali masuk sekolah, tapi jika situasi tidak memungkinkan bisa saja diperpanjang. Sebelumnya, Pemkab Solsel pada 23-25 September lalu juga melibirkan semua sekolah akibat kabit asap yang terus menebal melanda daerah itu.
Menurutnya, libur sekolah kembali diberikan karena melihat kondisi kabut asap tiap hari terus semakin menebal. Kondisi ini yang menjadi pertimbangan untuk meliburkan semua sekolah.
“Untuk sekolah PAUD hingga SLTP sudah dibuatkan surat edarannya, sedangkan untuk jajaran SLTA, sederajat kita juga memberikan himbauan dan sudah koordinasikan dengan pihak Kementrian Agama dan SMA untuk juga diliburkan,” ungkap bupati.
Dijelaskan, untuk surat edaran ini, untuk meliburkan selama tiga hari, tapi dalam perjalanan dan hasil evaluasi jika kabut asap masih tebal, maka libur bisa saja diperpanjang.
“Pada surat edaran, kami meliburkan selama tiga hari, namun jika kabut asap tidak berkurang, maka libur akan bisa diperpanjang,” jelas bupati.
Kabut asap mulai terasa semakin tebal sejak beberapa hari belakangan ini. Dalam surat edaran yang disebarkan oleh Disdikpora, yang libur hanya anak sekolah saja. Sementara itu para kepala sekolah dan guru tetap menjalan tugas seperti biasa. Dimana guru mengintruksikan agar anak tetap belajar mandiri dirumah.
Lalu, kepada orang tua atau masyarakat agar dapat memaksimalkan anak anak mereka untuk belajar di rumah dan kurangi aktivitas di luar rumah. Orang tua juga diminta untuk memperhatikan kesehatan anak dan banyak meminum air mineral dan memakai masker keluar rumah.
“Hanya anak anak didik yang diliburkan, sedangkan guru dan kepala sekolah tetal ke sekolah,” jelas bupati.
Sementara itu, salah seorang pengendara motor di Muaro Labuah, Aprilia (38) menyebutkan, bahwa kabut asap hari ini merupakan yang terparah sejak kabut asap melanda kabupaten ini. Di mana saat berkendara mata terasa perih. Sebelumnya masih mampu tidak menggunakan masker, tapi kondisi sekarang harus memakai masker dan kacamata.
“Untuk bernafas sudah terasa sesak dan mata menjadi perih. Jika kabut asap terus berlanjut, bisa saja aktivitas diluar ruangan dikurangi,” ujarnya. (afr)





