METRO PADANG

Fenomena Ubur-Ubur Blue Bottle, Yosmeri: Akibat Perubahan Suhu dan Migrasi

0
×

Fenomena Ubur-Ubur Blue Bottle, Yosmeri: Akibat Perubahan Suhu dan Migrasi

Sebarkan artikel ini

JATI, METRO – Fenomena munculnya ubur-ubur jenis blue bottle di sejumlah pantai di Sumbar, yakni Pantai Tiku, Kabupaten Agam, Pantai Pasir Jambak, Kota Padang serta Pantai di Pariaman menjadi perbincangan hangat. Apalagi ubur-ubur memiliki warna menarik, biru cerah. Namun, dibalik warna yang menarik itu, ubur-ubur ini berbahaya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri menjelaskan, kemunculan ubur-ubur blue bottle diduga terjadi akibat perubahan suhu yang menjadi lebih hangat dan proses migrasi arus laut.
“Selain perubahan suhu, blooming ubur-ubur biasanya juga terjadi karena adanya peningkatan nutrisi” katanya, Rabu (9/10).
Yosmeri menambahkan, petugas DKP telah diturunkan ke lapangan untuk melihat pola arus dan kondisi parameter kualitas perairan. Tim lokal Kerentanan Wilayah Pesisir dan DKP melihat langsung kondisi perairan di sekitar kemunculan ubur-ubur.
Sejauh ini, hal itu disebabkan oleh upwelling atau peningkatan nitrat/nitrit karena limbah atau adanya plankton blooming. Di samping itu, kawanan ubur-ubur terdampar di bibir pantai disebabkan karena arus yang kuat ke arah pantai dan dibarengi dengan waktu surut. Sehingga ubur-ubur belum sempat balik ke laut.
Perkiraan kedua, lanjutnya, ubur-ubur memakan blooming plankton yang beracun, sehingga mati di bibir pantai. Pasalnya, spesies Aurelia Sp sensitif terhadap suhu tinggi dan DO rendah biasanya.
“Kejadian ini sering terjadi di beberapa wilayah terutama yang berhadapan langsung dengan samudera. Jadi bisa karena pengaruh variabilitas iklim samudera,” sambung Yosmeri.
Serangan binatang laut yang masuk dalam jenis Scyphozoa ini terjadi karena arus laut dan angin cukup kencang ke arah pantai. Apalagi kondisi air laut yang dingin sehingga banyak ubur-ubur terbawa ke pantai. Walaupun sengatan ubur-ubur ini tidak menyebabkan kematian, tetapi korbannya bisa mengalami lumpuh sementara bahkan tidak sadarkan diri.
Untuk itu, kata Yosmeri, DKP meminta masyarakat di sekitar untuk tidak berenang selama masih banyak ubur-ubur di air dan tidak memegang ubur-ubur itu.
“Memang ubur-ubur itu warnanya menarik biru, membuat penasaran untuk dipegang, Namun, saya mengimbau masyarakat untuk tidak memainkan atau memegang tentakel ubur-ubur yang sudah terdampar, karena sel penyengat masih aktif. Apabila tersengat segera menghubungi dokter atau pergi ke puskesmas untuk mendapat perawatan,” pungkasnya. (cr1)