ALAI, METRO – Demi keselamatan pengendara yang melewati perlintasan kereta api, sejumlah anak-anak rela menjadi penjaga perlintasan kereta api. Ada yang masih sekolah dan ada juga anak-anak yang putus sekolah. Semua dilakukan demi keselamatan pengendara sepeda motor dan mobil yang melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Hal ini terlihat di perlintasan kereta api di sekitar jembatan antara Jalan Pulai, Jati dan Banjir Kanal Alai Parak Kopi, Rabu (9/10). Tidak ada pengawas dari petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) di sekitar palang pintu di perlintasan itu, cukup membahayakan nyawa anak-anak yang kurang paham standar operasional dari kereta api dan lalu lintas kendaraan.
Fauzi (16), salah satu anak yang mengatur perlintasan KA, menuturkan bahwa mereka mengatur lalu lintas atas kemauan sendiri. Mereka ingin tidak ada kecelakaan di bantaran rel kereta api, karena tidak ada petugas di sana.
“Rata-rata yang mengatur anak-anak di sekitar. Kami berinisiatif menjaga, terutama di jadwal-jadwal kereta lewat. Maklum, jika tak dijaga, bisa saja ada korban jiwa,” kata Fauzi.
Diceritakan Fauzi, mereka biasa mulai bekerja antara pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB, tanpa ada pergantian yang jelas. Semua bisa ikut serta dan tidak ada penentuan “ jam kerjanya”.
“Kami ganti-gantian berdiri. Kalau waktu sekolah ya tidak bisa mengatur,” lanjutnya.
Ketika anak-anak remaja bahkan ada yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sibuk mengatur perlintasan rel, ada juga orang dewasa yang datang untuk meminta uang sukarela kepada para pengendara yang melintasi jalan tersebut.
“Kami yang menjaga, nanti ada orang dewasa datang yang mengambil uang sukarela itu,” ucap Fauzi.
Bermodalkan kardus, anak-anak pengatur lalu lintas bisa mendapat uang sukarela berkisar dari Rp50 hingga Rp80 ribu. Uang yang mereka kumpulkan nantinya dipakai untuk jajan. “Uang yang saya kumpulkan dari mengatur lalu lintas ini saya gunakan untuk berbelanja,” tutup Fauzi. (mg)





