RIMBO KALUANG, METRO -Puluhan anggota Badan Eksekusif Mahasiswa Universitas Andalas (BEM Unand) Padang menggelar aksi teaterikal di bawah kepungan asap. Aksi ini menyadarkan masyarakat dan pemerintah bahaya kebakaran lahan di sejumlah provinsi, termasuk provinsi tetangga, Riau.
Aksi teterikal dari aktivis lingkungan ini berlangsung di tengah ribuan warga Padang saat menggelar car free day (CFD) di kawasan GOR Haji Agus Salim Padang, Minggu (15/9) pagi. Mereka mengusung beberapa spanduk, poster sambil menutup mulut dengan masker. Mereka juga membawa patung berbentuk pocong yang mengisyaratkan udara di Kota Padang sudah tidak sehat lagi.
Menurut Koordinator aksi Arif Zulfiansah Siregar, aksi ini bertujuan memberikan pencerahan kepada masyarakat agar mewaspadai bahaya asap akibat kebakaran lahan. Sehingga mereka membagi-bagikan masker kepada peserta Car Fre Day.
”Kemudian menyadarkan pemerintah kenapa ada lagi pembakaran lahan di daerah-daerah. Seperti Provinsi Riau yang berimbas asapnya ke Sumatra Barat,” ujar Arif yang juga membawa spanduk dengan beragam tulisan. Satu tulisan yang amat menarik perhatian adalah ‘Karhutla Membara, Rakyat Menderita.’
Rencana mereka akan menggelar aksi Selasa (17/9) depan secara besar-besaran di kantor DPRD dan Gubernur Sumbar.
”Kami akan lanjutkan dengan aksi demonstrasi Selasa depan,” katanya.
Sumbar masih Diselimuti Asap
Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau Padangpariaman memberikan peringatan dini terkait kondisi cuaca di wilayah Sumbar, Minggu (15/9). BMKG memprediksi cuaca di provinsi itu akan didominasi cerah berawan dan tidak ada potensi hujan di wilayah Sumbar.
”Berdasarkan citra satelit Himawari-8, menunjukkan tidak terdapat potensi hujan di wilayah Sumbar, cuaca di Sumbar didominasi cerah berawan,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Statiun Minangkabau, Yudha Nugraha, Ahad (15/9).
BMKG menyebutkan, terdapat perubahan arah angin. Angin diperkirakan bertiup dari Tenggara menuju Barat Daya ke Barat Laut hingga Timur Laut dengan kecepatan 5-20 knots atau 9-37 km perjam. Sementara di wilayah perairan, gelombang diperkirakan normal, dengan ketinggian antara 0,2 sampai 1 meter.
”Dampak dari kabut asap ini selain mengurangi jarak pandang, juga bisa mengakibatkan perih di mata, sesak nafas dan matahari akan terlihat berwarna orange kemerahan pada sore yang disebabkan pembiasan cahaya matahari oleh polutan yang terdapat di atmosfer,” jelas Yudha.
Lebih lanjut, kata Yudha, berdasarkan pantauan Satelit Terra, Aqum, SNPP, dan NOAA20 terdapat titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yakni 81-100 persen di wilayah Sumbar. Sebaran asap masing-masing dengan 1 titik panas di wilayah itu terjadi di Kabupaten Dharmasraya, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Pesisir Selatan Kecamatan Pancung Soal, dan Kabupaten Solok Kecamatan Lembah Gumanti.
Berdasarkan pantauan tersebut, BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati terhadap tingginya polusi udara, radiasi matahari yang cukup terik, serta potensi dengan kemudahan kebakaran hutan dan lahan.
”Selain itu masyarakat juga diharap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti kekeringan,” ujar Yudha.
Terkait daerah kategori sangat mudah dan mudah terbakar, Yudha merinci, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Pasaman, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Agam, Padang Pariaman, Solok Selatan, Padang, Bukittinggi, Pariaman, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Sijunjung.
”Potensi kemudahan terjadinya kebakaran ini ditinjau dari analisa parameter cuaca berlaku dari 15 hingga 16 September. Sejumlah kabupaten/kota itu perlu diwaspadai,” kata Yudha.
Kualitas udara di Provinsi Sumbar sudah dinyatakan makin menurun pada Jumat (13/9) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar. Hal tersebut juga diketahui semakin mengganggu aktivitas warga, bahkan mengantisipasi hal itu Pemprov Sumbar bersama dinas terkait telah membagi-bagikan masker kepada masyarakat di kota Padang.
Sementara itu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Sumbar sejak Sabtu (14/9) sudah kembali membaik pada pukul 15.00 WIB, PM 10 ada di kisaran angka 53 ug/m3. Padahal angka normalnya ada di kisaran 0-25 ug/m3. Pada Jumat (14/9), PM 10 tertinggi tercatat terjadi di Sumbar yang mencapai 96,5 ug/m3. (mil)





