METRO PADANG

DHD 45 Sumbar di Kukuhkan, Pemikiran Engku Mohammad Sjafe’i Diseminarkan

0
×

DHD 45 Sumbar di Kukuhkan, Pemikiran Engku Mohammad Sjafe’i Diseminarkan

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Dewan Harian Daerah (DHD) Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Sumatera Barat periode 2018-2023 dikukuhkan. Dihadiri Ketua Wahornas DHD 45 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Selasa (27/8) di Auditorium Gubernur Sumbar.
Dalam ragkaian kegiatan tersebut juga dilaksanakan seminar yang mengangkat tema”Relevansi Pemikiran Engku Mohammad Sjafe’i untuk Pendidikan Nasional”. Guru besar sejarah Universitas Negeri Padang (UNP) Mestika Zed sebagai pembicara dalam seminar tersebut menyampaikan, banyak tokoh dari Sumbar yang menjadi pahlawan nasional.
Mereka tidak hanya mengangkat senjata tapi juga lewat diplomasi, pemikiran pendidikan umum dan agama. Jika di Jawa ada Ki Hadjar Dewantara di Minangkabau ada Mohammad Sjafe’i.
Tepat pada 31 Oktober 1926 Inyiak Marah Suran menyerahkan amanah untuk mengelola sekolah di Kayutanam yang kemudian diberi nama Indnesische Nedherland Shool (INS). Terletak dipinggir jalan raya Padang-Bukittinggi dan berada di lahan seluas 18 hektare.
“Engku Mohammad Sjafe’i (EMS) di Indonesische Nedherland School Kayutanam, Sumatera Barat menyebut sekolah dengan ruang pendidikan,” jelasnya.
Anak angkat Engku Marah Sutan itu menolak dan memulai pemberontakan terhadap pendidkan kolonial yang meracik pendidikan untuk menjadi pegawai. Mohammad Sjafe’i lebih menekankan pendidikan yang memerdekakan manusia dan kemanusiaan.
Pendidikan EMS berpijak pada sebuah konsep manusia yang “Berkreaktipan” memiliki hati, otak dan tangan dan disederhanakan pada kesadaran diri, kemauan, dan kreativitas.
Di INS Kayutanam, EMS secara gamblang menyatakan tujuan pendidikan baik bagi Indonesia adalah membebaskan alam fikiran murid dari sekat-sekat alam dan manusia untuk mencapau gilang-gemilang lahir dan batin.
“Ada empat dasar pemikiran Mohammad Sjafe’i yakin hakekat tujuan pendidikan konsepsi tentang alam dan manusia, alam takambang jadi guru dan manusia makhkluk berkreaktipan,” terangnya.
Lahir di Ketapan, Kalimantan Barat, 21 Januari 28996 dan meninggal dunia pada 11 November 1966. Menempuh pendidikan di Belanda dengan 4 ijazah guru eropah, ijazah menggambar, pekerjaan tangan dan musik.
Pada tanggal 1 Oktober 1945, Komite Nasional (KNI) Sumbar bertempat di Gedung Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) memilih dan mengangkat Mohammad Sjafe’i senagao residen Sumbar pertama. Pemilihan disetujui oleh Preseden Soekarno pada tanggal 3 Oktober 1945, da pada ahkir Oktober Mohammad Sjafe’i mengundurkan diri dengan alasan kesehatan.
Sementara itu Ketua Panitia Seminar Nofriansyah menyebutkan, tujuan kegiatan untuk menghadirkan kemballi khazanah intelektual dari Sumbar terutama pendiri ruang pendidik Kayutanam, mengkaji pemikiran Engku Mohammad Sjafe’i untuk pendidikan nasional dan menyalakan kembali energi sejarah peradaban bangsa yang berasal dari Sumbar.
“Kemudian menemukan keunggulan EMS dalam dunia pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman untuk pengembangan dunia pendidikan dan menemukan nilai perjuangan dari tokoh Sjafe’i dalam membangun kejayaan bangsa,” katanya. (heu)