PADANGPANJANG, METRO – Kegiatan gladi resik persiapan pembukaan Kemah Budaya Nasional (KBN) yang dilaksanakan di Lapangan Bola GOR Khatib Sulaiman, Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Padangpanjang Timur berubah menjadi tragedi berdarah. Kegiatan yang semua berlangsung serius, seketika berubah histeris dan memilukan. Pasalnya, tower besi penyangga pengeras suara (sound system), tiba-tiba rebah dan menimpa peserta gladi yang mengakibatkan satu orang tewas, dan empat lainnya terluka. Minggu (25/8)
Korban tewas diketahui bernama Rara Rizkyatul Hanif (12) yang merupakan penari cilik, siswa SD Negeri 03 Kelurahan Guguk Malintang, Padangpanjang Timur, meregang nyawa. Sementara, empat korban yang terluka bernama Niesya Defina Putri, (11) , Adina Raisa Claresta (11), Tiara Afririani (28) dan Afrirona (27). Dua dari empat korban, mengalami patah tulang sehingga harus dirawat intensif di rumah sakit.
Informasi ambruknya tower penyangga speaker tersebut berawal ketika adanya perubahan lokasi. Saat kru bekerja, tiba- tiba menara pengeras surara setinggi sembilan meter itu rebah dan menimpa korban yakni penari dan guru tari yang saat itu berada dibawah tower. Sontak, teriakan histeris menggema di lapangan, sementara para kru bergegas menyelamatkan para korban yang tertimpa.
“Ada 7 pasien yang kita tangani di ruangan IGD RS Ibnu Sina. Sesuai data yang ambil. Pasien dewasa berjumlah 4 dan pasien anak berjumlah 3. Dari 7 pasien tersebut terdata, Rara Rizkyatul Hanif,Wilda Nausi, Rahma, Tiara Afrilyani, Afrirona, Naisya Devina Putri,” kata Dokter Fuad yang menangani korban.
Dijelaskan Dokter Fuad, pasien atas nama Rara Rizkyatur, terkena benturan keras di kepala hingga mengalami luka parah. Selain cedera kepala, pasien juga mengalami patah leher.
“Setelah mendapatkan perawatan medis. Pasien tidak tertolong. Pasien diserahkan pada pihak keluarga dan membawanya kerumah duka, “ sebut Fuad.
Sementara dua pasien patah tulang rusuk, Tiara (28) dan pasien patah tulang paha kiri Afrirona (27) tidak bisa dirawat di RS Ibnu Sina Padangpanjang. Sedangkan pasien lainnya mengalami luka luka ringan dan syok.”Kita harus memberikan rujukan ke RS M Djamil Padang. Pasien sudah diberangkatkan untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. Pasien lainnya sudah diperbolehkan pulang,” sebut Fuad saat ditemui di ruang IGD.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Padangpanjang AKP Hidup Mulia, membenarkan peristiwa robohnya besi penyangga pengeras suara dalam kegiatan gladi resik yang diselenggarakan Pemerintah Kota Padangpanjang. Para korban akan tampil di Kemah Budaya Nasional. Menindaklanjuti kejadian itu, pihaknya langsung turun ke lokasi melakukan identifikasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP).
“Saat ini penyidik terus melakukan pengumpulan bahan keterangan dari sejumlah pihak. Baik dari penyedia alat sound system, panitia dan pihak Pemko Padangpanjang,” ungkap AKP Hidup Mulia.
Ketika ditanyakan siapa tersangka atas kejadian tersebut, Kasat Reskrim, menjelaskan, terkait tersangka pihaknya belum bisa menetapkannya. Pasalnya, penyidik masih bekerja dan mengumpulkan bahan keterangan (pulbaket) dari saksi-saksi dan pihak penyelenggara dan penyedia barang dan kru kru yang bertugas.
“Kita belum bisa menetapkan tersangka. Tersangka bisa kita tetapkan setelah gelar perkara dilakukan. Peralatan sound system itu rangkaian dari panggung yang dipasang oleh even organizer ‘cebek sound’. Kebetulan panggung dan beberapa peralatan sound system dipasang hari ini untuk acara besok. Nah para korban dari SDN 03 ini sedang melakukan gladi untuk tampil acara pembukaan itu,” kata Hidup Mulia.
Hidup Mulia menjelaskan, peristiwa nahas itu mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Sedangkan empat lainnya mengalami luka mulai dari di kepala, kaki hingga tangan. Dari hasil olah TKP dipastikan adanya unsur kelalaian dari pihak event organizer dalam pemasangan peralatan sound system. Sebab, jatuhnya sound system tidak akibat faktor alam.
“Sound system rebah ke kedepan, tidak karena angin, rebah secara tiba-tiba saja. Ini murni kelalaian petugas dari even organizer. Tapi kita belum bisa memutuskan sebelum kasus tersebut digelar. Kasus terus diproses hingga tuntas,” sebut Hidup Mulia.
Terpisah, Vendor atau pemilik sound system, Hendra Cebek (44), saat memenuhi panggilan penyidik di Mako Polres Padangpanjang mengungkapkan, kejadian tersebut berawal ketika memenuhi permintaan pihak penyelenggara untuk mengaktifkan pengeras suara untuk kegiatan gladi resik. Namun, untuk mengfungsikan sound, kru harus memindahkan lokasi penyangga ke lokasi lain.
“Sebelum dipindahkan, tidak ada angin tidak ada hujan rebah menimpa peserta dan warga di lokasi. Namun, sebelumnya saya sudah ingatkan dan memberitahu pada warga untuk menghindar dari lokasi dengan alasan di area pemasangan sound system ada tegangan listrik. Ya, tiba-tiba tower jatuh dan menimpa orang orang di lokasi,” sebut Hendra yang akrab disapa Pak Cebek itu.
Menyikapi peristiwa ambruknya tower penyangga sound sistem musik atau pengeras suara yang dipasang di lokasi pembukan Kemah Budaya Nasional, Wakil Walikota Asrul mengungkapkan, Pemerintah Kota (Pemko) menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa yang merenggut nyawa salah seorang penari yang akan tampil di di KBN.
“Kita sudah akomodir semua keperluan korban selama menjalani perawatan medis. Segala pembiayaan akan ditanggung Pemerintah,” sebut Asrul.
Ketika ditanyakan terkait adanya indikasi kelalain dari pihak rekanan, Asrul mengatakan , hal itu telah menjadi kewenangan pihak Kepolisian Polres Padangpanjang.” Kita serahkan sepenuhnya pada Penyidik Polres Padangpanjang,” sebut Asrul.
Ditambahkan Sekda Padangpankang, Sonny Budaya Putra, penyedia alat sound sistem melakukan pasangan pada Sabtu malam hingga berlanjut Minggu.
“Terkait teknis pemasangan alat tentu menjadi tanggungjawab penuh pihak penyedia. Terkait dugaan kelalain tentunya ini telah menjadi kewenangan kepolisian.
Sementara atas kejadian ini, pihak keluarga telah bisa memahami kondisi tersebut,” sebut Sonny seraya mengatakan, berkaitan dengan pelaksaana pembukaan KBN tetap alan dilaksana, sesuai jadwal yang telah ditentukan. (rmd)





