PADANG, METRO – Memaksimalkan keamanan laut dan melakukan penegakkan hukum di wilayah peraiaran barat sumatera, Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) II Padang, melaluai Satuan Patrioli Laut (Satrol), terus melakukan patroli laut. Empat kapal perang yang siap menjaga wilayah perairan pantai barat sumatera itu KRI Cakalang, KRI Kelabang, KFRI Kala Hitam dan KRI Kurau.
Empat kapal ini siap dikerahkan dan melakukan patrol bhingga pulau terluar yang dimiliki wilayah kerja Lantamal II khususnya yakni Sibolga, Nias, Sumbar dan Bengkulu.
Untuk itu kepada pejabat baru Komandan KRI Ckalang bernomor lambung 852 Mayor Laut (P) Army Provytama SE tetap melanjutkan program kerja komadan yang lama,” ujar Komandan Lantamal II Laksamana Pertama Agus Suleman, melalui Komandan Satrol (Dansatrol) Kolonel Laut (P) Joko Triwanto kepada POSMETRO usai sertijab Komadan KRI Cakalang dari pejabat lama Mayor Laut (P) Rizki Purnama Putra kepada pejabat baru Mayor Laut (P) Provytama SE, Selasa (30/7) di Bungus. .
Dikatakan Joko Triwanto yang aktrab disapa Jotri ini, bahwa kehadiran empat KRI ini mampu memaksimalkan upaya penegekkan hukum di laut serta menjaga keamanan laut di wilayah kerja Lantamal II khususnya.. Mengingat KRI mampu mengarungi laut dalam serta samudera sehingga akan memaksimalkan kinerja patroli, termasuk tugas penyelematan di laut. Untuk penegakkan hukum di laut KRI akan merespon bentuk kerawanan seperti pencurian ikan, penambangan liar, pembalakan liar, penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, dan lainnya.
“Ketika keamanan sudah terjaga secara otomatis akan menghadirkann rasa aman b agi masyarakat berkaktivitas di laut, terutama nelayan,” ujar Joko Triwanto akrab disapa Jotri ini.
Lebih kauh disebutkan Jotri, prajurit TNI-AL terus melakukan patroli untuk memperketat pengamanan pulau-pulau terluar. Pulau-pulau terluar di Sumbar dianggap paling rawan dijadikan sebagai objek ataupun jalur “human trafficking” atau perdagangan manusia lintas negara serta aksi teroris yang bisa membahayakan kedaulatan Indonesia. “Pulau-pulau itu bisa saja dijadikan jalur ‘human trafficking’ atau teroris. Ini sangat rawan dan kami tidak boleh lengah,” ungkapnya.
Selain mewaspadai pulau, kata Jotri, kita juga fokus pada pengamanan sejumlah objek vital di lepas laut yang dikhawatirkan bisa menjadi sasaran para pelaku pelanggar hukum.. “Yang paling rawan itu perbatasan pulau terluar, yakni Mentawai dekat dengan Australia,” katanya.
Nah untuk itu, saya minta kepada Komandan KRI Cakalang yang baru Mayor Laut (P) Provytama SE untuk dapat melanjutkan program kerja pejabat yang baru. Sebab dalam pergantioan jabatan itu adalah tuntutan organisasi. Tuntutann oragnsasi itu harus terpenuhi, terutama penempatan personil yang mengawaki kapal perang. Begitu juga terhadap perkembangan TNI Angkatan Laut yang dinamis sebagai bentuk validasi organisasi.
Komandan KRI merupakan tugas dan tanggung jawab yang strategis, karena disamping menyiapkan alutsista yang merupakan yang harus di awaki, juga harus menyiapkqn personilnya.
“Kepada seluruh komandan KRI di bawah jajaran Satrol Lantamal II, agar selalu lakukan pembinaan secara bertingkat, terarah dan terencana serta responsif dengan langkah yang efisien efektif serta tetap lakukan konsep zero accident,” jelas Jotri. (ped)





