METRO PADANG

Soal Isu Daerah ini jadi Sarang Teroris, Sangat Meresahkan Masyarakat Sumbar

0
×

Soal Isu Daerah ini jadi Sarang Teroris, Sangat Meresahkan Masyarakat Sumbar

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Menanggapi statemen Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri yang menimbulkan kesan Provinsi Sumbar sebagai sarang teroris, membuat tokoh-tokoh angkat bicara. Pasalnya, isu yang dihembuskan itu menciptakan kesan Sumbar tidak aman, yang pastinya sangat merugikan dan membuat masyarakat menjadi resah.
Salah satu tokoh yang tak terima atas pernyataan itu, merupakan Ketua DPW Gebu Minang Sumbar, Buya H Boy Lestari Dt Palindih. Ia membantah, pernyataan yang disebarkan Karo Penmas melalui media-media massa. Pernyataan itu menurutnya sangat menyakiti hati masyarakat, karena selama ini Sumbar dalam kondisi aman dan sangat kondusif.
“Ini pemikiran saya, unek-unek yang harus saya sampaikan soal Sumbar disebut sarang teroris dan sarang radikalisme. Pernyataan ini jelas membuat masyarakat Sumbar resah, padahal pernyataan itu berbandig terbalik dengan kondisi real di Sumatera Barat. Tidak benar pernyataan itu,” ungkap Buya H. Boy Lestari kepada wartawan, Sabtu (27/7).
Boy Lestari yang juga Ketua Persaturan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Sumbar dan Ketua Umum DPP Majelis Zikir Babussalam menegaskan dalam tataran kehidupan bermasyarakat, anak kemenakan di ranah minang hidup dalam tatanan Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK). Sumbar juga punya banyak tokoh adat, ulama, dan bundo kanduang yang selalu memberikan arahan dan pedoman pada anak kemenakan dan umatnya.
“Makanya ketika pemilihan presiden (Pipres) dan pelilihan umum legislatif (Pileg) yang baru saja berlangsung, kondisi Sumbar aman dan kondusif. Tidak ada konflik dan riak-riak yang menimbulkan kegaduhan atau memecah belah masyarakat, meskipun persaingan antar kubu cukup tajam secara nasional. Jadi tidak mungkin Sumbar sebagai sarang teroris,” ujar Boy Lestari.
Boy Lestari nenambahkan masyarakat Sumbar mempunyai tokoh-tokoh adat, alim ulama, cadiak pandai dan bundo kanduang yang selalu hadir di tengah-tengah anak kemenakan dan umatnya. Sudah patut, melihat kondisi wilayah yang sangat kondusif, Sumbar menjadi nomor satu provinsi yang paling aman di Indonesia.
“Saya berharap masyarakat Sumbar, jangan sampai terprovakasi oleh isu-isu yang belum pasti tidak kebenarannya, karena dapat memecah belah dan merusak silaturahmi. Jangan karena penangkapan satu orang kemarin itu, Sumbar menjadi imbasnya. Saya ingin, pusat juga meluruskan pernyataan yang tidak benar itu,” ungkap Boy Lestari.
Hal yang sama juga diungkap Ketua Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar M Sayuti Dt. Rajo Panghulu. Ia selaku tokoh adat sangat terkejut dengan pernyataan Sumbar sarang teroris dan radikalisme. Jika memang Sumbar sarang teroris, tentu ada titik-titik lokasinya, setidaknya tempat latihannya dan itu patut diwaspadai dan semua komponen harus bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut.
“Tapi kalau faktanya tidak jelas, saya sangat menolak isu itu. Faktanya Sumbar aman saja. Mengapa pusat hanya menuding Sumbar sarang teroris. Kalau memang sarang teroris, datanglah semua densus itu ke sini. Dimana titik-titiknya, amankan Sumbar ini. Jangan ada indikasi pemerintah Pusat memojokkan Sumatera Barat. Sumbar merasakan sangat kondusif. Tapi mengapa dikejutkan Sumbar dengan hal seperti itu. Jangan dicampur adukkan kondisi real dengan kepentingan politik,” tegas Sayuti.
Sayuti menambahkan jika hanya karena ada penangkapan satu dua orang, lalu digeneralisir bahwa Sumbar sarang teroris, jelas hal itu tidak benar. Karena itu, ia meminta para pemimpin di Sumbar, baik para kepala daerah mulai gubernur hingga bupati/walikota, Kapolda, Danrem, Kajati hingga Kapolres, jangan tinggal diam menyikapi informasi ini.
“Harus disikapi kebenaran informasi ini, kalau perlu ramai-ramai datangi lokasi atau rumah tempat penangkapan teroris itu, apa betul tempat itu sarang teroris. Pastikan dan sampaikan ke publik kebenarannya. Kalau Sumbar dikatakan sarang teroris dan radikalisme, kenapa pemilu di Sumbar aman-aman saja. Padahal, kalau memang teroris itu bersarang di Sumbar, saat pemilu legislatif dan pilpres lalu, merupakan momen yang tepat bagi mereka untuk beraksi. Ini justru diributkan setelah pemilu selesai. Itupun yang ditangkap cuma satu orang penjual garam,” ungkap Sayuti.
Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Prof. DR. H. Duski Samad menyampaikan, pada prinsipnya orang Sumbar itu adalah sosok yang cerdas. Kalau akan melakukan sesuatu, penuh dengan berbagai pertimbangan, karena mereka memiliki kekerabatan yang kuat, baik sesama masyarakat di Sumbar maupun dengan orang rantau. Beda dengan teroris, mereka orang-orang yang hidup sendiri dan tidak bermasyarakat.
“Secara logika adat dan budaya, maupun logika agama, tidak mungkin orang minang itu jadi teroris. Kalau pun ada orang minang jadi teroris, itu mungkin orang minang yang telah tercabut dari akar budayanya. Secara kultukar, kalau ada yang membilang Sumbar sarang teroris, berarti orang yang tidak tau dengan budaya, antripologi, sosiologi Sumbar. Atau isu itu ada kepentingan politik untuk mengusik ketenangan masyarakat sumbar,” kata Duski Samad.
Duski Samad menegaskan dalam realitanya Sumbar masih sangat kondusif, jam berapapun keluar aman saja. Sejarah membuktikan, berapa titik konflik di Infonesia, Sumbar ini tetap aman. Dalam konteks sosial dan buday tidak memungkinkan orang Sumbar menjadi teroris. Untuk itu ia meminta pada pihak-pihak terkait agar jangan mengeneralisir persoalan.
“Teoris sangat bertentangan dengan orang minang. Kalau teroris wataknya orang yang suka hidup dalam kesendirian, dan memiliki sosial yang sangat kurang. Tapi kalau orang minang tidak bisa hidup dalam kesendirian. Mereka selalu hidup di tengah kaum kerabatnya dan suka bersilaturahmi. Jadi tidak mungkinlah orang minang jadi teroris,” ujarnya. (rgr)