SAWAHLUNTO, METRO – Mengembangkan potensi budidaya madu kelulut atau galo-galo dilakukan kepada masyarakat Sawahlunto. Sehingga, tim Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas (Unand) adakan sosialisasi di Aula Kantor Desa Santur pekan lalu.
Tim Jurusan Biologi FMIPA Unand yang membawa 10 orang dosen dan 3 orang mahasiswa pasca sarjana, diwakili Ketua Jurusan, Wiwik Marlis Rahman mengatakan, sosialisasi dan pendampingan yang diberikan Unand ini untuk memastikan bahwa hasil penelitian yang dilakukan akademisi di Unand dapat digunakan oleh masyarakat, sehingga daya guna hasil penelitian ini berjalan maksimal.
“Potensi budidaya madu galo – galo ini di Sawahlunto sangat besar. Sementara itu, kami secara akademis mempelajari dan meneliti tentang madu galo – galo ini, sehingga sebagai pengabdian masyarakat, kami mengarahkan, mendampingi dan menyediakan layanan konsultasi bagi masyarakat pembudidaya galo – galo di Sawahlunto,” kata Wiwik.
Terkait langkah yang sebaiknya dilakukan ke depan oleh para pembudidaya madu galo – galo di Sawahlunto, Wiwik menyarankan agar dibentuk komunitas yang nantinya dilegalkan secara administrasi, sehingga jika ada pembinaan, bantuan dan lainnya dari Unand maupun instansi/lembaga lain dapat dilakukan dengan mudah dan terjamin secara regulasi.
Sementara, Walikota Deri Asta yang hadir saat itu menyebutkan bahwa Pemko siap mendukung dan memfasilitasi agar pembudidaya madu galo-galo di Desa Santur mendapatkan peningkatan kompetensi sehingga produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan produk lain di level nasional.
“Harus ada upgrade, harus muncul inovasi sehingga kita bisa berkompetisi dengan produk lain. Salah satu pendorong munculnya inovasi ini ialah melalui konsultasi dengan insan akademis seperti mitra kita dari Unand ini,” kata Deri.
Dalam kesempatan yang sama, pengusaha budidaya madu galo – galo Desa Santur, Heri menceritakan bahwa saat ini dirinya sudah memiliki 30 sarang galo – galo.
“Biasanya, untuk 1 sarang ini memproduksi 0,5 atau 1 kilogram madu. Namun jika vegetasinya bagus bisa lebih dari 1 kilogram madu yang kita dapatkan nanti,” kata Heri. “Per kilogramnya, sebut Heri madu galo – galo ini harga jualnya berkisar Rp 400 ribu sampai Rp. 500 ribu.
Namun jika kita bisa jual ke Malaysia, itu harganya bisa mencapai Rp. 600 ribu per kilogramnya,” kata Heri lagi. Untuk pengembangan budidaya madu galo – galo ke depan, sebut Heri juga bisa dikolaborasikan dengan pariwisata.
“Kita juga bisa arahkan untuk mendukung wisata Sawahlunto. Seperti dijadikan ekowisata. Ada peluang budidaya galo – galo ini kita jadikan ekowisata. Namun tentu butuh kajian dan kerjasama lebih banyak pihak,” harap Heri.
Sejalan dengan itu, pengusaha galo-galo lainnya Suprapto pada kesempatan berbeda mengatakan beberapa keluhan yakni pemasaran dan kemasan yang masih seadanya. Diapun berharap dapat bantuan kemasan, hak paten, dan izin, sehingga mampu menarik minat pembeli dari semua daerah, termasuk luar negeri.
Selain itu, Suprapto berharap usaha budidaya Kelulutnya ini dapat dikembangkan bersama warga lainnya. “Untuk mencari koloni Kelulut butuh alat pemotong kayu seperti chainsaw, dan bahan baku playwood tebal,” tutupnya. (zek)





