RASUNA SAID, METRO – Kebutuhan hewan kurban untuk Hari Raya Idul Adha 2019 diperkirakan mencapai 40 ribu ekor. Angka ini hampir sama dengan kebutuhan tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, Dinas Peternakan Sumbar telah melakukan koordinasi dengan tim di seluruh kabupaten/kota.
“Bisa saja kurang dari tahun lalu, sebab hari raya kurban bertepatan dengan masuk sekolah. Sehingga masyarakat terfokus pada biaya pendidikan anak mereka,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, Erinaldi saat dihubungi POSMETRO, Jumat (5/7).
Menurut Erinaldi, kebutuhan sebanyak itu akan disuplay dari sapi dari Pesisir Selatan, Dharmasraya dan Solok Selatan serta beberapa daerah lain di Sumbar. Akan tetapi, tetap harus mendatangkan sapi dari luar Sumbar. Untuk mencukupi akan didatangkan sapi dari NTT, sebab di sana pusat pengembangan sapi.
“Kalau sapi kita, akan keluar sapi sawit berjenis sapi Bali dari Pessel, Dharmasraya dan Solsel dan beberapa daerah lainnya,” jelas Erinaldi.
Sementara untuk memastikan sapi kurban sehat dan layak untuk kurban, Erinaldi menyebutkan, pihaknya akan ada tim dari kabupaten dan kota memastikan kesehatan sapi. Dalam prosesnya sapi akan diberi tanda dari tim sebagai bentuk layak atau tidaknya untuk korban.
“Jadi diseleksi dulu, pengurus masjid bisa membeli sapi yang sudah dilakukan tes kesehatan oleh tim,” terang Erinaldi.
Kemudian, Erinaldi mengimbau panitia penyelenggara tidak membeli sapi betina untuk kurban. Sebab sudah ada larangan tertulis dan berdampak hukum, selain itu juga membuat laju produksi sapi terhambat. Dia juga mengimbau pada petani dan masyarakat untuk tidak menjual untuk kebutuhan kurban, sebab kita sangat kekurangan indukan.
Sebelumya diberitakan, Syaufito (49), salah seorang toke sapi di kawasan Ulu Gadut, Kecamatan Pauh, mengatakan permintaan sapi kurban dari pengurus masjid/mushalla saat ini belum terlalu ramai, karena waktu pelaksanaan hari raya kurban masih tiga puluh sembilan hari lagi. Diperkirakan, 15 hari jelang Idul Adha pesanan sapi kerban meningkat.
Untuk harga sapi kurban per ekor sambungnya akan dijual ke pembeli dan pengurus masjid/mushalla seharga Rp15,5 juta dengan berat 65 -70 kg dengan anggaran qurban Rp2,2 juta-Rp2,3 juta. Jenis sapi yang ada padanya ada sapi kampung dan bali.
“Harga sapi termahal Rp18 juta dijual, dengan berat 120 kg, jenis sapinya ialah sapi kampung,” ujar Fito, mantan Kasi Pemberdayaan Masyarakat, Kecamatan Lubeg ini.
Sapi kurban yang dijual lanjutnya berasal dari Medan, Palembang, dan Pesisir Selatan. Namun rata-rata sapi dari Medan banyak diambilnya. Ini karena kualitas dagingnya padat dan enak. Stok sapi yang siap dipasarkan ada sekitar 300 ekor sapi.
“Pembeli yang datang beraneka ragam daerahnya mulai dari Bukittinggi, Pariaman, Tanahdatar dan Padang,” ucap Fito yang sekarang menjabat sebagai Kasi Trantib Kelurahan Cengkeh. (mil)















