PADANG, METRO – Musim tanam awal tahun 2019, petani di Kota Padang mengeluhkan panennya gagal. Pasalnya, sebagian besar lahan petani di kota yang berjuluk Ranah Bingkuang ini mendapatkan serangan hama wereng coklat. Sehingga buntutnya, petani semakin berat menempuh ekonominya sehari hari. Apalagi, kemarin mereka menghadapi Lebaran ditambah anak masuk sekolah.
“Ekonomi ini terasa semakin berat, karena kemarin kita menghadapi lebaran serta menyambung sekolah anak, sementara panen kita gagal,” ungkap Cingoa (62) salah seorang petani di Pagang Dalam Kecamatan Nanggalo, Kamis (19/6).
Dikatakan, lahan yang mencapai luas lebih kurang setengah hektare, menjelang lebaran ini tidak bisa dipanen seditkitpun. Biasanya, lahan yang menghasilkan lebih kurang 30 karuang itu tak bisa dinikmati seditkitpun.
Bahkan, tidak serangan hama wereng saja, tetapi juga mengalami serangan hama burung dan tikus. “Artinya, lahan kami mendapatkan serangan dari darat dan udara, wereng dan tikus dari darat serta burung dari udara. Lengkap sudah kendala panen yang kami terima,” ujar Cingoa.
Bahkan, petani yang berada sebelah lahannya yang hasilnya mencapai 50 karuang juga mengalami hal yang sama dengannya. Artinya, lahan yang berada di Pagang Dalam Nanggalo tersebut sebagian besar petani mengeluhkan panennya gagal. Tidak akibat serangan wereng, tapi juga serangan tikus dan burung. Sehingga petani penen lelahnya.
Tentu, dalam hal ini petani berharap kepedulian Pemko Padang melalui SKPD terkaitnya. Sementara akibat panen gagal tuntutan ekonomi semakin berat, maka petani kesulitan untuk menggarap laannya kembali. Maka dalam hal ini petani butuh perhatian dari Pemko Padang.
“Kami tidak memiliki modal lagi untuk menggarap lahan kembali, tentu diharapkan kepedulian pemerintah melalui SKPD terkait,” ujar Oyon salah seorang petani Lolo Gunung Sarik Kuranji. Jika dikalkulasikan dana penggarapan untuk seluas seperempat hektare memakan dana sebesar Rp3 juta lebih kurang hingga panen,” ujar Oyon.
Maka, melihat hal tersebut disinilah peranan penyuluh pertanian tersebut, terutama dalam beri penyuluhan untuk mengantisipasi serangan wereng. Kemudian mencari solusinya untuk mengantisipasi serangan hama wereng coklat tersebut.
Kemudian pemerintah membantu petani untuk modal menggarap lahan kembali.
“Jangan UKM saja yang diperhatikan tetapi juga petani ini,” ujar Oyon.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Syaiful Bahri SP mengharapkan, kepada petani di Kota Padang agar tidak membudidayakan varietas padi yang sama berkali-kali mencapai, bahkan samapai lima kali lebih.
Sebab sering membudidayakan varietas yang sama bekali-akali akan rentan terserang hama wereng seperti varietas IR-42.
“Pada umumnya lahan pertanian yang terkena dampak hama wereng di Kota Padang mereka membudidayakan varietas padi IR-42, Hendaknya, kalau sudah mencapai lima kali membudidayakan varietas IR-42 ini akan rawan terserang hama wereng,” ujar Syaiful Bahri.
Dikatakan Syaiful, maka untuk memutus rantai agar tidak terjadi serangan hama tentu dengan menukar varietas yang akan dibudidayakan. Misalnya, setelah menanam varietas IR-42 sebanyak lima kali lalu ditukar dengan varietas lain.
Kemudian, juga diperlukan perawatan yang intensif untuk mengatasi serengan wereng.
Ia mengatakan, lahan pertanian yang mendapatkan serangan hama wereng di Padang hanya mencapai 0, 55 hektare (setengah hektare lebih) lahan pertanian di kecamatan Kuanji. Berdasarkan laporan serangan wereng berdasarkan kartu merah yang Mei 2019, yakni Kelurahan Gunung Sarik, Kuranji luas serangan 0,30 hektare dan Kelurahan Sungai Sapih Kuranji 0,25 hektare.
Maka untuk mengantispasi ke depan direkomendasi yang telah dianjurkan ke petani aplikasi dengan insektisida sesuai anjuran merk dagang Mitcinta dan Apploud.
Kemudian, petani diharapkan untuk mengasuransikan lahannya, asuransi usaha tanaman padi (AUTP) yang preminya sudah disubsidi pemerintah. Sehingga kalau terjadi gagal panen atau fuso petani mendapatkan modal menggarapnya kembali melalui asuransi tadi.
Dan preminya sebesar kurang lebih Rp30 ribu perbulan. (boy)





