Pelaksanaan pesantren Ramadhan kian matang. Terutama, sebagai media pembelajaran ilmu agama, akhlak, budi pekerti, dan ilmu pengetahuan. Di tahun ini, tahun ke 15 Pesantren Ramadhan dilaksanakan, Pemko Padang mengembangkan kurikulumnya dengan mengintegrasikan nilai budaya Minangkabau ”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) pada program Pesantren Ramadhan.
Wali Kota Padang Mahyeldi, mengatakan, perlunya mengintegrasikan nilai-nilai ABS-SBK pada program Pesantren Ramadhan mengingat potensi kuat arus globalisasi dan modernisasi dalam merusak akhlak generasi muda, menggeser nilai agama serta adat dan budaya Minangkabau.
”Pesantren Ramadhan menjadi salah satu cara membentengi generasi muda dengan intelektual yang hebat, agama yang taat, dan budaya yang kuat”, ungkap Mahyeldi saat membuka Pesantren Ramadhan di Masjid Nurul Yaqin Lolong Belanti, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, pelaksanaan Pesantren Ramadhan di masjid/ mushalla di lingkungan tempat tinggal merupakan bentuk kesadaran dan kepedulian bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah yang bertanggungjawab atas masa depan generasi muda.
”Penyempurnaan kurikulum Pesantren Ramadhan terus kita lakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang ahli di bidangnya”, ujar Mahyeldi.
Ditambahkan, pelaksanaan Pesantren Ramadhan tahun ini dimulai 11-29 Mei yang diikui sekitar 100 ribu lebih pelajar SD/MI dan SMP di Kota Padang.
”Mari bersama-sama kita sukseskan Pesantren Ramadhan ini. Tentunya dengan pengawasan orang tua, masyarakat, dan guru sekolah. Semoga generasi muda Kota Padang semakin mencintai Masjid, berakhlaqul karimah, memiliki keimanan, ketaqwaan dan ilmu pengetahuan yang kuat. Serta, memahami dan melaksanakan nilai-nilai ABS-SBK,” tutup Mahyeldi.
Kabag Kesra Setdako Padang, Jamilus mengatakan pada pelaksanaan pesantren Ramadhan para siswa juga diajari tentang materi adat. Khususnya tentang sumbang nan duobaleh. Mentor bisa memahami langsung tentang materi melalui buku ajar.
”Kita sudah berikan buku ajarnya. Tinggal dilihat saja. Di sana materinya sudah lengkap khususnya mengenai sumbang nan duobaleh,” sebut Jamilus.
Menurut Jamilus, buku ajar tersebut sudah disusun oleh pihak pihak yang terkait yang berkopetwn. Seperti Bundo Kanduang Sumbar, ketua LKAM dan unsur adat lainnya. Kemudian dikemas dalam bentuk buku. Meski sudah ada buku ajar, namun menurut Jamilus rak menutup peluang bagi ninik mamak yang mengerti adat untuk ikut berpartisipasi memberikan materi di pesantren Ramadhan.
Jamilus menjelaskan, Pesantren Ramadhan tahun 2019 ini di digelar selama 17 hari. Mulai satu minggu memasuki ramadhan. Dan akan berakhir seminggu menjelang lebaran. Jadwal dan jumlah hari pelaksanaan ini menurutnya akan dipertahankan setiap tahun karena telah melalui kajian yang mendalam. (**)





