Allah tidak memerintahkan puasa agar seorang Muslim menjadi lebih pintar, melainkan agar bertakwa. Namun, orang yang bertakwa justru dijanjikan akan diberi jalan keluar atas setiap persoalan. Lalu, bagaimana puasa yang menumbuhkan takwa itu berhubungan dengan kecerdasan dalam menyelesaikan masalah?
Banyak orang yang berseloroh bahwa orang yang cerdas itu karena jarak antara otak dan hatinya begitu dekat. Jarak yang dimaksud tentu bukanlah dalam arti fisik, tetapi lebih pada aspek yang tak terlihat, yakni cepatnya seseorang menangkap informasi dan mengolahnya. Di saat tidak ada obat untuk membuat seseorang makin cerdas, puasa memberikan jalan kelancaran terhadap dimensi pengolahan informasi di otak seseorang bila dikerjakan dengan penuh kesabaran.
Bagaimana para ahli menguraikan keterkaitan antara puasa dengan kecerdasan otak? Apakah puasa, termasuk puasa Ramadan juga memiliki efek baik terhadap kognisi dan intelektualitas seorang muslim?
Riset terkini akan memberikan pemahaman baru berupa fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa urusan pengendalian perut sangat erat dengan baiknya cara kerja otak seseorang. Di sinilah relevansi puasa untuk mengendalikan emosi, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits menemukan makna tersirat yang terkait dengan kecerdasan.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa adalah perisai, maka jika salah seorang dari kalian puasa pada suatu hari janganlah berbuat bodoh dan jangan berkata kotor. Jika ada seseorang yang ingin menyakitinya, atau mencelanya hendaklah berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR Imam Ahmad)
Ketika hadits nabi di atas mengajak kepada kaum muslimin untuk meninggalkan perbuatan bodoh, maka sejatinya itu adalah ajakan untuk berpikir cerdas. Uniknya, contoh aplikatif perilaku yang mencerminkan kecerdasan dijelaskan dalam lanjutan hadits tersebut dengan pengendalian emosi.
Lebih menarik lagi ketika mencermati bahwa respons berupa perkataan orang yang sedang berpuasa menurut hadits di atas sangatlah sederhana. Hanya dengan mengulang perkataan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” sebanyak dua kali, hal tersebut dapat menjadi perisai seseorang agar tidak terjerumus pada perbuatan bodoh dan perkataan kotor.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berpendapat bahwa perkataan itu harus diucapkan dengan lisan. Dalam Syarah Muhadzdzab beliau mengatakan bahwa pendapat yang mengatakan cukup dengan hati dan pendapat yang harus diucapkan dengan lisan, keduanya baik. Namun, pendapat yang kedua lebih kuat, dan jika bisa digabungkan antara lisan dan hati, maka lebih baik.
Keterkaitan antara puasa dengan menahan emosi dan kecerdasan terbukti memiliki hubungan yang kuat. Penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan membuat baiknya kecerdasan emosional (Nikfarjam dkk, 2015, The Effect of Fasting on Emotional Intelligence, National Journal of Laboratory Medicine, Vol.4 no 4: halaman 67-71).
Dengan kata lain, penelitian tersebut menunjukkan bahwa bila manusia mampu mengelola emosi, maka akan memberikan kontribusi untuk mencegah kecemasan. Hubungan antara kontrol emosi melalui otak ketika berpuasa akan membuat hormon-hormon kecemasan berkurang. Manfaat selanjutnya bila kecemasan berkurang adalah kejernihan berpikir dan menemukan solusi.
Relasi dan koneksi dua arah antara usus dan otak telah menjadi perhatian peneliti dalam efek diet puasa terhadap suasana hati. Telah ditunjukkan bahwa komunikasi silang antara usus dan otak dapat memengaruhi fungsi otak, menghubungkan pusat emosi dan kognitif otak dengan kontrol perifer serta fungsi usus (Hosseini dkk., 2024, Fasting diets: what are the impacts on eating behaviors, sleep, mood, and well-being?, Frontiers in Nutrition, 9;10:1256101).
Puasa juga dapat melancarkan proses berpikir karena pengaruh sehatnya usus. Usus yang sehat merupakan bukti bahwa mikrobiota di usus besar sehat sehingga dapat menghasilkan neurotransmitter secara optimal. Neurotransmitter inilah zat kimia ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat memudahkan penghantaran data di sistem saraf sehingga seseorang dapat berpikir dengan cepat.
Sebuah penelitian dari Lanzhou University, China, dengan judul “Ramadhan Fasting Leads to Shifts in Human Gut Microbiota Structured by Dietary Composition” mengungkapkan bahwa ketika puasa Ramadhan ada perubahan varian dan jumlah dari bakteri baik yang ada di usus (Ali dkk., 2021, Ramadhan Fasting Leads to Shifts in Human Gut Microbiota Structured by Dietary Composition, Frontiers in Microbiology, 12:642999).
Penelitian tersebut melihat efek puasa pada orang China dan Pakistan yang berpuasa Ramadhan. Hasilnya sangat positif untuk kesehatan saluran cerna hingga sistem saraf. Bakteri baik meningkat, sistem imun meningkat dan neurotransmitter diproduksi lebih baik. Hal ini menunjukkan simbiosis mutualisme yang menyehatkan tubuh manusia.
Berbagai penelitian di atas membuktikan bahwa ibadah puasa, termasuk puasa di bulan Ramadhan berefek baik untuk manusia. Puasa yang disertai dengan menahan emosi, menjauhi perbuatan yang sia-sia serta bertutur kata baik terhadap sesama manusia akan membawa pelakunya pada hikmah besar yang membantu intelektualitasnya.
Imam Nawawi sendiri terkenal sebagai pribadi yang gemar berpuasa sunnah. Selain pakar dalam bidang fiqih, Imam Nawawi juga pakar dalam bidang hadits dan ilmu bahasa. Kehidupan beliau sangat sederhana dan tidak banyak makan. Beliau berbuka puasa cukup hanya memakan jatah roti dari Madrasah Rawahiyah, Damaskus di waktu Isya akhir lalu cukup minum segelas air putih di waktu sahur.
Bagi kaum muslimin saat ini, tentunya tidak harus mencontoh kebiasaan puasa Imam Nawawi yang sangat sederhana itu. Namun, makan secukupnya dan menjaga pola hidup seimbang dengan tetap menjaga kesehatan agar mampu membuat tubuh kuat berpuasa sangat relevan di masa sekarang. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah mempertahankan akal sehat agar emosi tidak menguasai diri dan menghilangkan kecerdasan otak.
Kecerdasan memang bukan segala-galanya, tetapi tanpa kecerdasan seseorang dapat terjebak dalam masalah yang tidak terselesaikan. Hal itu tentu akan membuat kehidupannya rumit dan bisa berefek lanjut terhadap kualitas hidupnya. Islam tidak menginginkan kesulitan hidup di dunia menjadi sebab seorang muslim berputus asa.
Oleh karena itu, manfaat puasa sejatinya akan kembali kepada orang yang mengamalkannya. Ketika dilakukan dengan penuh keimanan, maka solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan bukan hal yang tidak mungkin untuk ditemukan. Wallahu a’lam bis shawab. (*)





